
"Bu, malam ini aku mau nginep di rumah Nela ya, Bu. Kasihan dia sendirian di rumah, orang tuanya lagi ke luar kota," ucapku sambil menimbang tepung terigu untuk buat adonan kue lapis pelangi.
"Sama siapa, Fa? Apa cuma kamu sendiri yang nemenin Nela?" tanya ibu yang sedang sibuk mencetak adonan roti kukus.
"Sama Elsa, Bu, sekalian ngerjain tugas akuntansi syariah," jawabku.
"Oh ya udah nggak apa-apa Ibu ijinin, tapi jangan masukin cowok ke dalam rumah ya. Ibu nggak mau anak Ibu ngelakuin hal yang dilarang agama. Lebih baik menikah aja daripada ngelakuin hal yang bikin dosa," ucap ibu.
Degg..!! Aku jadi merasa bersalah dengan ibu. "Maafin anakmu ini bu. Anakmu ini sudah ngelakuin banyak dosa. Bahkan anakmu ini sudah menjual tubuhnya untuk laki-laki yang dipacarinya," lirihku dalam hati.
"Beres, Bu, lagian Elsa dan Nela juga belum punya pacar jadi kita cuma bertiga saja. Di rumah Nela juga ada dua pembantu dan satu penjaga rumah kok, Bu. Cuma Nela ingin aku sama Elsa tidur bareng-bareng di kamarnya biar bisa curhat-curhatan gitu, Bu. Biasalah anak gadis. Heheehee...." ucapku sambil tertawa pelan.
"Ya udah, selesai bantuin Ibu kamu boleh pergi kerumah Nela. Apa perlu Ibu masakin sesuatu buat kalian?" tawar ibu.
"Nggak usah, Bu, nggak usah repot-repot, disana pasti udah banyak makanan. Kan udah ada yang masakin."
"Terus gimana bisnis online kamu. Kalau kamu kekurangan modal bilang aja sama Ibu. Tadi bu Retno nanyain, dia ingin lihat foto model-model tas yang kamu jual."
"Lancar kok, Bu, malahan aku udah nyiapin uang buat bayar ujian nanti. Tenang aja kalau masalah bisnis onlineku. Ya udah nanti kalau bu Retno kesini aku kasih lihat foto-fotonya siapa tahu ada yang nyangkut dihati Bu Retno," ucapku beralasan.
Padahal aku tidak pernah membuka online shop. Aku selama ini hanya pura-pura saja punya usaha online shop agar ibuku tidak curiga bagaimana aku bisa mendapatkan uang dan barang-barang dari pacarku. Lalu aku harus bilang apa nanti kalau bu Retno benar-benar datang kesini untuk melihat foto model tasnya.
************
"Fa, gimana dengan cowok barumu? Kok kita nggak dikenalin sih," ucap Nela sambil memakai masker diwajahnya.
"Nggak sukses, Nel. Dia nyari yang sholehah buat diajak nikah. Aku ya nggak masuk kriterianya dong," ucapku yang sedang memakai toner.
"Maskermu dimana, Nel? aku mau dong," lanjutku.
__ADS_1
"Tuh di rak sana masih banyak. Yang greentea itu loh enak banget. Recommended banget deh," ungkap Nela sambil memejamkan mata.
"Yang rose juga nggak kalah enak. Aku pakai yang rose, Fa," ucap Elsa yang juga sedang memakai masker.
"Aku mau yang bengkuang aja lah biar kulitku makin cerahan," ucapku sambil memilih-milih masker wajah.
"Jadi gimana, Fa, sama cowok yang baru ini? Apa mau kamu tinggalin atau bakal kamu perjuangin?" tanya Elsa penasaran.
"Mana mungkin Shifa mau perjuangin cowok yang nyari wanita sholehah. Bakalan geger dunia, kalau sampai Shifa pakai kerudung," jawab Nela.
Benar juga sih apa yang dikatakan Nela. Adalah hal yang tabu kalau aku yang penuh dosa ini tiba-tiba jadi wanita sholehah yang menutup aurat kemanapun aku pergi.
"Kalau kamu Nel, apa kabar hubungan kamu sama Krish? Udah sejauh mana nih?" tanyaku penasaran.
"Biasa saja, dia sulit buat dideketin. Dia selalu saja sibuk dengan pekerjaannya. Setiap kali aku mengajak bertemu, selalu saja ada alasan yang membuat dia membatalkannya. Kalau kamu, Elsa, bagaimana hubunganmu dengan Alfan?" tanya Nela kepada Elsa.
"Sama saja dengan kamu, Nel, dia juga susah buat dideketin. Terakhir kita ketemu lima hari yang lalu dan dia selalu sibuk dengan handphone-nya. Kami jadi sering diam ketika bertemu dan setelah pertemuan yang terakhir kali, dia jadi jarang membalas smsku," jawab Elsa.
Aku tahu alasan kenapa Alfan tidak merespon Elsa. Karena Elsa kurang menarik perhatiannya, jadi mungkin saja membuat Alfan tidak menyukainya. Kalau Krish, entahlah aku jarang sekali berhubungan dengannya setelah pertemuan yang pertama kali.
"Betul juga kata kamu, Fa, kalau cowok yang berprofesi dokter itu pasti sibuk apalagi kalau harus mengoperasi pasiennya tiba-tiba. Kita harus memaklumi kesibukannya, Sa," ucap Nela.
"Elsa, kenapa kamu nggak coba belajar make up? Ayo aku ajarin mumpung kita lagi disini. Nela juga nggak akan keberatan kalau bedaknya kita pakai," ajakku.
"Nggak mau aku. Kalau aku make up-an, ntar jadinya malah kayak ondel-ondel. Lagian kamu tahu sendiri kan kalau aku paling benci sama yang namanya bedak dan segala printilannya. Malah bikin ribet kalau kemana-mana nggak praktis," ucap Elsa menolak ajakanku.
Sebenarnya aku ingin hubungan Elsa dan Alfan bisa lebih baik lagi, tapi kalau Elsanya sendiri susah untuk diajarai make up, bagaimana Elsa bisa mencuri hati Alfan? Sedangkan Alfan mengatakan kepadaku kalau dia mencari wanita yang bisa merawat dirinya agar bisa selalu tampil cantik ketika dia pulang kerja bisa melihat wajah yang menyejukkan atau ketika harus menghadiri pertemuan dengan orang-orang penting dia tidak merasa malu.
"Bener deh kata Shifa. Masak iya mau ngedeketin seorang dokter yang juga wakil direktur rumah sakit berpenampilan biasa saja. Kamu harus terlihat lebih cantik, Elsa, siapa tahu dengan kamu memakai make up bisa menarik perhatian Alfan," ucap Nela menyetujui ucapanku.
__ADS_1
Elsa pun seperti sedang memikirkan ajakanku. Semoga saja dia mau merubah penampilannya supaya hubungannya dengan Alfan bisa lebih baik lagi.
"Oke deh aku mau belajar pakai bedak tapi kalau ngajarin aku se-simple mungkin ya jangan yang ribet-ribet," ucap Elsa setuju.
"Ya udah nih aku kasih tahu dulu macam-macam skincare. Sebelum pakai make up, kamu harus rutin pakai skincare supaya wajah kamu lebih terawat dan nggak gampang bermasalah," jelasku sambil menunjukkan tasku yang berisi skincare yang biasa aku pakai.
"Ini namanya micellar water buat ngebersihin kotoran di wajah pakainya begini, taruh sedikit di kapas terus kamu usap-usap deh di wajah kamu," tuturku sambil memperagakan cara memakai micellar water.
"Kalau yang ini facial foam, kamu pasti udah tahu kan kamu juga pakai. Kalau yang ini namanya toner dipakai sesudah mencuci muka. Cara pakainya sama kayak pakai micellar water. Terus kamu pakai ini deh pelembab, ini buat siang kalau yang satu ini buat malam. Terus siang kalau mau pergi jangan lupa pakai sunscreen supaya wajah kamu nggak belang," lanjutku sambil menunjukkan satu persatu.
"Ribet banget sih. Terus kapan pakai bedaknya? Lipstiknya juga gimana?" protes Elsa.
"Yang dijelasin Shifa tadi belum make up loh, Sa, masih skincare. Dasar-dasar sebelum memakai make up. Itu wajib loh biar wajah nggak kelihatan kusam. Cobain deh kamu telatenin pakai itu, pasti kulit kamu bakal lebih sehat. Selama ini kan kamu cuma cuci muka sama pakai pelembab aja, itu sebenarnya aku juga kurang suka loh. Kecantikan kamu kurang terlihat," jelas Nela.
"Ya udah deh, terus habis itu gimana?" tanya Elsa.
"Sini Nel, aku pinjem make up kamu sebentar. Aku lupa tadi nggak bawa make up," ucapku.
"Iya ambil aja ayo aku bantuin kamu ngajarin Elsa," ucap Nela. Aku pun mengambil make up di rak milik Nela dan Nela pun bersiap-siap untuk dandanin Elsa.
"Nah ini namanya primer biar bisa menutup pori-pori wajah kamu. Ini foundation dipakai sebelum bedak. Ini concealer, nggak kamu pakai juga nggak apa-apa kok langsung pakai bedak aja. Ini blush on, cari yang warna kalem aja kalau baru belajar. Ini eyeshadow, kalau ini eyeliner, ini maskara, terus ini pensil alis. Dah itu aja kalau nggak mau ribet. Oh iya satu lagi, yang ini lipstik biar wajah kamu nggak kelihatan pucat," tuturku mengakhiri dan Nela pun mendandani Elsa dengan teliti.
Aku dan Nela sudah terbiasa memakai make up jadi mendandani Elsa bukanlah hal yang sulit. Apalagi Nela make up yang dia punya udah pasti make up import semua yang pasti harganya pun mahal.
"Coba sini kamu lihat di kaca," ucap Nela selesai mendandani Elsa.
"Wahhh.... Beneran beda ya, kayak bukan aku. Ternyata make up itu nggak seburuk pemikiran aku. Aku dulu pernah mencoba bedakan malah adikku ngatain aku kayak badut," seru Elsa.
"Kalau emang pertama kali ya wajar kok aku dulu juga gitu," ucapku.
__ADS_1
"Nahh.. kalau gini kan Alfan juga nggak bakalan nolak kamu," kata Nela.
Entah kenapa ketika Nela mengucapkan kalimat itu hatiku merasa aneh. Mungkin ada yang salah dengan hatiku ini. Aku harap aku tidak merasakan hal-hal yang aneh dengan Alfan. Aku takut aku akan menyakiti Elsa sahabatku.