Dialah Matahariku

Dialah Matahariku
Ch. 13. Aku benci kamu, Reno


__ADS_3

"Kamu dari tadi kok diem aja, Fa. Apa ada masalah?" tanya Elsa.


"Iya, kamu juga nggak memperhatikan kuliah yang diajarkan dosen tadi, kenapa?" tanya Nela.


"Nggak apa-apa kok. Besok kayaknya aku nggak masuk ke kampus deh. Aku lagi males banget kuliah. Tolong kalian ijinin aku ya, ke dosennya."


"Emang kenapa kok sampai nggak masuk juga. Apa kamu sakit, Fa?" tanya Elsa memegangi keningku.


"Iya cerita dong kalau lagi sakit, kamu sakit apa? Atau kalau lagi ada masalah, cerita aja. Kita kan sahabatan udah lama, masak nggak mau cerita sih."


Aku yang mendengar ucapan Elsa dan Nela jadi merasa bersalah. Mereka sangat baik terhadapku, tapi aku malah menyukai orang yang Elsa sukai juga. Kalau saja perasaan ini bisa diubah, aku ingin menyukai orang lain saja. Tapi aku terlanjur menyukai Alfan, dan aku akan berusaha untuk menghapus rasa ini, kalau saja aku bisa.


"Nggak kok, aku cuma males aja ketemu sama Reno di kampus."


"Oh, kalian lagi berantem ya. Apa gara-gara ucapan kita kemaren?" selidik Elsa yang merasa bersalah.


"Bukan karena kemaren kok. Cuma aku ngerasa udah mulai bosen aja sama dia. Dia nggak bisa ngasih aku kebahagiaan."


"Jadi kamu mau putusin dia?" tanya Nela.


"Kayaknya sih aku bakalan minta putus kalau dia nggak bisa menghargai aku."


"Maksud kamu gimana sih, Fa? Apa kamu selama ini nggak dihargai sama Reno?" tanya Elsa.


"Apa dia berselingkuh di belakang kamu?" tanya Nela yang juga penasaran.


"Nggak, nggak, bukan gitu. Gimana ya ngomongnya? Ah.. sudahlah. Yang penting aku pengen putus sama dia."


"Ya udah kalau kamu nggak mau cerita. Besok kita bakal ijinin kamu kok ke dosen. Kamu istirahat aja di rumah biar pikiran kamu lebih tenang," tukas Elsa.


"Iya, semoga masalah kamu bisa cepet teratasi."


"Terima kasih ya, kalian udah dengerin aku. Sekarang hatiku sedikit tenang," ungkapku tulus.

__ADS_1


Aku memang sangat berterima kasih karena adanya mereka berdua. Sekarang sakit hatiku sedikit berkurang karena ucapan Reno kemaren yang menghinaku.


"Kalau gitu gimana kalau hari ini kita ke mall aja. Kan lumayan bisa menenangkan pikiran kamu yang lagi suntuk itu. Gimana?" ajak Nela.


"Ayo!" teriakku antusias.


Aku memang butuh refreshing kali ini. Biar aku bisa menghadapi omongan Reno yang kejam itu. Hanya karena aku nggak mau tidur sama dia lagi, aku di cap sebagai cewek matre. Padahal selama ini bukan dia yang mencukupi kebutuhanku.


********


Kamu dimana? Aku mencarimu di kampus tapi kata Nela kamu nggak masuk kuliah hari ini.


Aku yang membaca sms dari Reno hanya bisa menghela nafas. Aku nggak mau lagi berhubungan dengan dia. Sudah aku berikan tubuhku secara percuma tanpa memberiku uang sepeserpun, tapi ketika aku menolak ajakannya, dia malah menghinaku dengan menganggap aku matre. Dia malah menyuruhku untuk menjadi ******* saja kalau aku ingin mendapatkan uang dari tubuhku ini. Ucapannya benar-benar masih membekas di ingatanku sampai detik ini.


Kamu masih marah ya?


Maaf ucapanku memang keterlaluan. Saat itu, aku sedang banyak tugas dari dosenku. Karena tugas yang diberikan membuatku melampiaskan kemarahanku padamu.


Berkali-kali Reno meneleponku dan aku hanya melihat layar ponselku. Salah dia sendiri, kenapa membuat aku marah. Aku sekarang jadi ilfeel sama Reno.


Kalau kamu nggak angkat telepon dariku, aku bakal ke rumah kamu sekarang juga!


Sms dari Reno yang satu ini membuatku kocar-kacir. Bagaimana kalau dia benar-benar datang kesini? Aku malu kalau ibu sampai tahu, kalau aku punya pacar.


Besok aku ke kampus. Kita bahas di kampus saja. Balasku.


Setelah aku membalas sms Reno, aku terpaksa mematikan handphone-ku karena aku sudah lelah sedari tadi mendengar suara handphone berbunyi.


*********


Aku dan Reno membolos pada saat jam kuliah berlangsung untuk menyelesaikan masalah kami. Reno mengajakku berbicara di belakang kampus. Memang, disini tempat yang sepi dan hampir tidak pernah ada orang yang lewat kecuali petugas kebersihan. Apalagi sekarang jam kuliah masih berlangsung, sehingga tempat disini benar-benar sepi.


"Kamu mau ngomong apa?" tanyaku.

__ADS_1


"Kamu jangan bersikap dingin kayak gini, dong. Gimana kalau kita pergi jalan-jalan ke taman?" ajak Reno.


"Aku males. Emangnya kamu nggak merasa bersalah? Enak banget kamu, udah ngata-ngatain aku matre. Emang kamu pernah ngasih apa sih ke aku!" tegasku marah.


"Cuma ngajakin aku makan sama nonton ke bioskop aja, aku udah kamu hina-hina begitu. Gimana kalau kamu beliin aku mobil, pasti aku bakalan kamu buang ke sungai kalau aku nggak ngikutin apa mau kamu!" lanjutku geram.


"Kamu kok ngomongnya gitu sih. Iya deh iya, maafin aku. Waktu itu aku khilaf. Aku hanya sedang terbawa emosi karena kamu udah lama nggak ngasih aku jatah," ucap Reno dengan gampangnya.


"Cuma gara-gara hal begituan aja kamu udah ngomongin aku yang jelek-jelek. Kenapa nggak cari wanita malam aja, kalau kamu bener-bener pengen dimanja di atas ranjang? Oh.. apa mungkin kamu nggak punya uang, jadi kamu maksa aku, mentang-mentang aku gratisan. Cuma di kasih makan, udah mau diajak begituan, iya kan!" tandasku kesal.


"Kok kamu ngomongnya makin menjadi-jadi sih! Memang, kamu itu wanita cantik tapi juga gampangan. Cuma aku kasih kata-kata manis sama makan di restoran aja kamu udah mau aku tiduri. Kita kan juga udah lama ngelakuin hal itu. Kenapa kamu baru merasa tersinggungnya sekarang? Nggak cocok tahu kalau tiba-tiba kamu marah seperti ini? Nggak pantes! Dasar wanita murahan!" hina Reno.


Plaaaakk...!!!


Tanganku refleks menampar pipi Reno. Aku benar-benar merasa darahku berada di puncak saat ini. Dia tidak merasa bersalah, malah dia mengata-ngatain aku lagi. Dasar cowok nggak tahu terima kasih. Aku kira selama ini dia laki-laki yang baik, ternyata baru aku tahu dia hanya memanfaatkan aku saja.


"Dasar laki-laki nggak tahu diuntung! Aku memang memberikan tubuhku secara gratis, karena selama ini aku kira kamu orang yang baik. Aku merasa kasihan dengan orang tua kamu yang tinggal di desa. Bagaimana kalau mereka tahu, orang yang mereka bangga-banggakan, mereka kirimi uang supaya anaknya nggak kelaparan di kota malah enak-enakan meniduri wanita, bukannya fokus kuliah saja," sindirku.


"Aku sumpahin kamu bakalan dapat istri yang jelek luar dan dalamnya. Supaya tiap hari kamu bakalan tersiksa batin kamu! Semoga saja istrimu nanti bekas dijamahi banyak orang. Biar dia juga nggak merasa rugi, menikahi orang yang sering meniduri banyak wanita saat masih mudanya!" teriakku murka.


"Kamu sumpahin aku, hahaahaa.. Kamu sendiri aja juga nggak ada bagus-bagusnya jadi seorang wanita. Giliran aku ngomongin fakta, kamu udah marah. Kamu kan memang wanita murahan, tapi kenapa sekarang tiba-tiba minta dihargai! Kalau mau dihargai tuh, jaga keperawanan kamu biar laki-laki menghargai kamu dan menghormati kamu!" tandas Reno.


Deeeggg...


Aku merasa terhakimi oleh ucapannya. Aku mencoba menghela nafas sebanyak-banyaknya untuk menenangkan pikiranku. "Ini bukan salahku jika keperawananku hilang. Seandainya saja Ariel tidak memaksaku menuruti nafsunya, aku mungkin tidak akan jadi seperti ini," ucapku dalam hati.


"Udahlah, kita putus!!" Aku meninggalkannya sendirian. Tanpa sadar air mataku mengalir di pelupuk pipiku. Sebegitu rendahnya kah diriku ini di depan semua laki-laki yang kutemui? Pantas saja semua laki-laki yang kupacari selalu minta jatah kepadaku. Aku benar-benar lelah dengan kehidupanku yang gelap ini.


Tiba-tiba saja handphone-ku berbunyi yang memperlihatkan sms dari Alfan.


Hari minggu ayo kita ketemu. Aku ingin pergi ke taman wisata sama kamu.


Hatiku yang saat ini sedang bersedih karena perkataan Reno, tiba-tiba saja berubah. Aku seperti merasa ada secercah sinar matahari yang merasuk ke dalam hidupku. Benar kata Alfan, aku harus berubah supaya aku lebih dihargai oleh laki-laki. Aku akan berjuang untuk kehormatanku sendiri, meskipun itu tidak mudah. Karena aku sendiri sudah ternodai. Mulai dari memutuskan hubunganku yang tidak sehat dengan Reno, aku akan memulai semuanya dengan langkah yang baru.

__ADS_1


__ADS_2