
"Selamat pagi, Bu, Shifanya ada?" tanya seorang laki-laki dari balik pintu. Aku jadi bertanya-tanya tentang siapa yang datang sepagi ini. Semoga saja bukan Dito. Aku tidak siap jika harus bertemu Dito sepagi ini.
"Ada, Nak. Silahkan masuk." Ibuku mempersilahkan laki-laki tersebut untuk masuk dan duduk. Setelah itu, aku dengar ibu memanggilku, "Shifa, ada yang nyariin kamu nih!"
"Iya, Bu," jawabku.
"Buatin minum juga ya!" suruh ibu.
Aku pun bergegas membuatkan teh hangat kepada si tamu itu yang entah siapa. Tapi, siapapun itu, yang terpenting bukanlah Dito. Karena aku masih belum siap bertemu dengannya lagi. Aku takut milikku akan dihajar habis-habisan jika aku berjumpa dengannya.
Ketika aku masuk ke ruang tamu bersama minuman yang aku bawa, aku kaget sekaligus bahagia dengan tamuku yang datang. Ternyata bukan orang yang aku pikirkan sedari tadi. Tapi yang datang malah pujaan hatiku, Alfan.
"Mas, ini minumannya silahkan diminum," kataku sopan.
"Baiklah, kalau begitu Ibu ke dapur dulu. Kalian silahkan ngobrol berdua. Nak Alfan, silahkan dinikmati suguhan kami yang tidak seberapa ini."
"Iya, Bu, terima kasih banyak. Ini sudah lebih dari cukup," ucap Alfan. Aku memang membawakan sedikit camilan tadi.
"Mas Alfan ngapain pagi-pagi kesini nggak bilang-bilang?" tanyaku langsung.
"Katanya kamu sakit, makanya aku kesini buat jenguk kamu," jawabnya jujur. Aku jadi ingat, aku kemaren mengatakan kalau aku sakit. Padahal yang aku maksud bukan tubuhku yang sakit. Aku jadi merasa bersalah dengannya karena telah membohongi Alfan.
"Nih, aku bawain kamu oleh-oleh sedikit."
"Apa ini, Mas Alfan?" Aku menerima bungkusan dari Alfan.
"Buka saja. Aku tadi mampir aja beliin kamu itu. Terus bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa masih sakit?" selidik Alfan.
"Aku baik-baik aja kok. Lagipula aku cuma kelelahan aja," jawabku asal. Aku pun membuka bungkusan yang diberikan Alfan. Ternyata isinya beraneka macam buah-buahan. "Wahh ... terima kasih ya, Mas, Ibu suka banget nih sama buah anggur."
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Kalau kamu suka buah apa?"
"Em ... semua buah aku suka. Pokoknya buahnya harus yang fresh dan bikin seger di mulut." Aku berkali-kali berucap syukur dalam hati karena merasa senang sekali pagi-pagi begini Alfan sudah ada di depan mataku. Bahkan aku yang baru tidur dan belum sempat cuci muka saja, dia sudah ada di hadapanku.
"Mas Alfan, Mas hari ini nggak ke rumah sakit?" tanyaku sopan.
"Ke rumah sakit kok, tapi nanti jam satu siang baru ada jadwal."
"Aku bareng ya. Aku hari ini kuliah masuk siang." Karena kuliah pagi ditiadakan karena dosennya lagi di Bali, jadi hari ini aku masuk setengah hari saja.
"Memang kamu sudah sembuh? Mending kamu istirahat dulu aja di rumah kalau badan kamu masih capek." Bahagianya hatiku saat ini, Alfan yang di kata Elsa cuek, ternyata dia sangat peduli denganku. Bahkan dia mengkhawatirkan aku saat ini. Mungkin kalau Elsa tahu, dia bisa saja menghujamku dengan beribu macam pertanyaan.
"Shifa, ajakin Nak Alfan sarapan!" perintah ibu mengalihkan perhatianku dan Alfan. Saking bahagianya aku kedatangan Alfan sepagi ini, aku bahkan lupa kalau tadi aku mau sarapan. Padahal sedari tadi cacing-cacing di perutku sudah saling bertengkar untuk menyuruhku segera makan.
"Ayo, Mas, kita sarapan dulu."
"Nggak lah, Mas sebelum kesini sudah sarapan lebih dulu," tolak Alfan.
"Bukannya gitu, ya udah ayo. Tapi setelah makan kamu mandi dulu ya, nanti kita jalan-jalan sebentar mumpung kita berdua ada waktu."
Bagaimana Alfan bisa tahu kalau aku belum mandi? Apa mungkin karena bau di badanku atau karena mukaku kelihatan awut-awutan?
"Iya, ayo." Aku mengajak Alfan ke ruang makan bersama. Disana sudah ada ibu yang menyiapkan piring untuk si tamu.
"Silahkan, Nak, di makan seadanya. Ya beginilah keadaan disini, Ibu cuma bisa masak makanan sederhana."
"Nggak kok, Bu, sama saja. Mama juga sering masakin aku sayur bening bayam. Aku malah lebih suka masakan yang berkuah seperti ini," puji Alfan.
"Bu, tadi Mas Alfan bawain buah buat Ibu. Udah aku taruh di dapur ya, Bu," selaku.
__ADS_1
"Kalau kesini, nggak perlu repot-repot begitu, Nak Alfan."
"Nggak kok, Bu, tadi cuma kebetulan aja ngelewatin toko buah," celetuk Alfan.
"Mas Alfan memang baik kan, Bu? Karena kebaikannya itu aku jatuh cinta dengan Alfan. Tapi aku sadar kalau sahabatku juga mencintainya. Lantas, haruskah aku yang mengalah? Tidak bolehkah aku memperjuangkan perasaanku di tengah kekuranganku yang sangat banyak ini?" gumamku dalam hati.
Kulihat sorot mata ibu yang sepertinya mengerti dengan kegundahan hatiku saat ini. Tapi aku tak bisa berkata apa-apa. Aku tak ingin ibuku mengkhawatirkanku secara berlebihan. Aku tak ingin perasaanku ini menjadi beban pikiran untuk ibuku yang sudah setengah tua.
"Bu, hari ini aku sama Alfan mau jalan-jalan sebelum berangkat kuliah," pamitku kepada ibu yang sedang sibuk di dapur.
"Shifa, Ibu mau tanya sesuatu. Sini, duduk disebelah Ibu sebentar." Aku pun mengikuti instruksi ibu untuk duduk disebelahnya. Sebelum ibu mengeluarkan sepatah kata, aku sudah tahu ke arah mana pembicaraan ini.
"Shifa, jika terus begini, bagaimana nanti nasib persahabatanmu dengan Elsa? Kamu sudah memikirkannya?"
"Belum, Bu, Shifa juga bingung bagaimana menghadapi Elsa suatu hari nanti. Shifa akan merasa sangat bersalah jika Elsa sampai tahu perasaan Shifa yang sebenarnya ke Alfan," jawabku jujur.
"Tidak bisakah kamu menjauhi Alfan? Ibu hanya tidak ingin kamu kehilangan sahabat yang sangat berharga bagi kamu."
"Entahlah, Bu, saat ini Shifa hanya ingin terus berada di dekat Mas Alfan. Shifa merasa nyaman jika berada di sampingnya. Nggak ada laki-laki sebaik Mas Alfan yang Shifa kenal, Bu." Aku menjawab dengan jujur apa yang ada di pikiranku saat ini.
"Lagipula hubungan aku dan Mas Alfan tidak seserius itu, Bu. Aku hanya dianggap sebagai adik oleh Mas Alfan."
"Tapi tetap saja, Shifa. Hubungan antar dua insan yang berbeda jenis tidak ada yang sesederhana itu. Dia pasti juga memiliki perasaan kepada kamu. Hanya saja, ada yang mengganjal dihatinya. Sebelum perasaan kalian semakin dalam, tidak bisakah kamu menjauhinya pelan-pelan?" pinta ibu tulus. Aku mengerti kekhawatiran ibuku.
"Bagaimana caranya?" lirihku dalam hati.
"Baiklah, Bu, Shifa akan mencoba untuk menjauhinya pelan-pelan, sebelum Elsa mengetahui perasaanku kepada Mas Alfan."
"Kamu yang sabar ya, Nak. Jika Alfan adalah jodoh kamu, kamu pasti akan dipertemukan suatu saat nanti, di waktu yang lebih baik daripada sekarang."
__ADS_1
Maafkan anakmu ini jika aku masih berhubungan dengan Alfan. Aku tidak bisa begitu saja memutus rasa cintaku kepadanya. Kecuali jika Alfan sendiri yang memutuskan untuk menjauhiku, maka aku akan menerima keputusannya dengan ikhlas.