Dialah Matahariku

Dialah Matahariku
Ch 6. Pertemuan kedua


__ADS_3

"Sebenarnya aku nggak tertarik sama sahabat kamu itu," ucap Alfan memulai pembicaraan.


"Kenapa Mas Alfan nggak suka sama Elsa?" tanyaku penasaran.


"Nggak tahu juga sih aku merasa kayak nggak klop aja sama dia," jawabnya.


"Memang kriteria wanita yang Mas Alfan cari kayak gimana?" tanyaku.


"Aku pinginnya mencari istri yang sholehah, taat beragama dan tentunya cantik," ucap Alfan.


"Elsa orangnya sholehah kok, buktinya dia nggak pernah ninggalin sholat sesibuk apapun dia. Kalau masalah wajah sih dia juga nggak jelek. Pasti kalau dia pakai make up dan pakai baju yang cantik, dia bakal kelihatan lebih cantik kayak artis-artis di tv," ungkapku menjelaskan.


"Nah itu masalahnya, dia nggak pernah pakai make up kalau ketemu aku dan pakaiannya juga selalu pakai celana. Aku kurang suka sama cewek yang nggak pakai make up dan berpakaian kayak gitu," ucap Alfan sambil menyeruput minumannya.


"Karena aku sering bertemu dengan orang-orang penting, aku pengennya punya istri yang pandai merawat dirinya seperti memakai make up, pakai gamis atau rok dan yang pastinya istriku nanti harus bisa tampil elegan dan lemah lembut. Istriku itu harus bisa jaga kehormatannya sebagai wanita dan sebagai istri seorang dokter. Dia juga harus bisa menyayangi orangtuaku seperti dia menyayangi orangtuanya sendiri," lanjut Alfan panjang lebar.

__ADS_1


Wajar saja kalau Elsa kurang menarik perhatiannya. Meskipun Elsa baik hati, sholehah, tapi dia mempunyai kelemahan dalam hal merawat diri. Elsa pernah bilang kalau masa remajanya dia sangat tomboy bahkan rambutnya pernah dipotong pendek sampai akhirnya dia dimasukkan ke pondok pesantren oleh orangtuanya. Sampai sekarang dia pergi kemanapun tidak pernah memakai make up, kemana-mana hanya mengenakan celana panjang, kemaja dan kerudung yang dipakai ala kadarnya.


"Wah.. tinggi juga kriteria Mas Alfan, makanya sampai sekarang kamu belum nikah-nikah," ucapku menyindir.


"Ya harus dong karena orangtuaku selalu mengatakan kalau mencari istri itu yang harus bisa diajak bersama-sama mencari surga kelak makanya aku nyarinya yang sholehah. Kalau wajah yang cantik sih supaya nggak malu-maluin kalau bertemu dengan orang-orang," tukasnya enteng.


"Wanita cantik itu ngehabisin duit loh. Buat beli make up aja bisa sampai jutaan. Belum bajunya, belum pergi ke salon, belum lagi printilan-printilan lainnya. Emang Mas Alfan sanggup?" tanyaku.


"Kalau masalah itu aku udah ngerti kok. Memang cantik itu butuh biaya. Malah dengan hal itu aku bisa merasa kalau selama ini kerja kerasku nggak rugi karena ketika aku pulang aku bisa memandangi wajah istriku yang menyejukkan," ucap Alfan.


Jujur saja aku sedikit kecewa dengan yang dia ucapkan. Dia mencari wanita yang terlalu sempurna. Padahal aku kira orang yang baik tidak pernah melihat wanita dari penampilannya. Meskipun tak ku pungkiri kalau dia pantas mendapat wanita yang sempurna karena dia pun juga sosok laki-laki yang sangat sempurna.


"Kalau menurut kamu aku gimana?" tanyaku penasaran. Jujur saja wanita yang baik seperti Elsa saja masih tidak cocok, aku jadi penasaran bagaimana pandangannya sebagai laki-laki terhadap orang sepertiku.


"Kalau kamu itu cantik, pintar bersolek tapi kamu nggak punya cita-cita dalam hidupmu. Kamu itu seperti air yang mengalir, hidup hanya untuk mencari kesenangan bukan hidup dengan tujuan agar menjadi orang yang bisa bermanfaat buat orang lain. Kamu juga pakaiannya terlalu terbuka. Laki-laki yang memandangmu pasti akan mengganggap remeh dirimu. Coba deh tutup auratmu atau kalau kamu masih belum siap berhijab, coba pakai pakaian yang lebih sopan dan coba lebih menghargai dirimu sendiri. Pasti laki-laki akan menghargai kamu juga," ceramah Alfan.

__ADS_1


Apa yang barusan dikatakan Alfan benar-benar tidak diragukan lagi. Aku selama ini memang hidup semauku. Bahkan ibuku tidak pernah menasehatiku. Mungkin ibuku sudah lelah menghadapiku. Aku memang sering tidur dengan laki-laki yang kupacari hanya untuk mendapatkan uangnya bahkan terkadang aku memberikan tubuhku secara percuma kepada lelaki yang baru aku kenal. Selama ini aku tak ubahnya seorang wanita murahan, bahkan lebih buruk lagi. Aku tidak pernah menghargai tubuhku ini.


Semua berawal karena Ariel, pacar pertamaku ketika aku kelas 3 SMA. Pada hari itu tepat ketika ulang tahunku ke 17 tahun, dia mengajakku ke taman wisata untuk merayakan ulang tahunku. Disana aku bersenang-senang menaiki semua wahana yang ada disana. Setelah pulang dari taman wisata dia mengajakku ke sebuah villa tak jauh dari taman wisata. Disana aku dipaksa untuk melayani nafsunya. Aku bahkan berusaha memberontak, tapi dia terus memaksaku berhubungan. Keperawanku akhirnya hilang sudah karena hari itu. Bahkan barang kepunyaanku mengeluarkan banyak darah hingga membasahi seluruh kasur.


Setelah kejadian itu aku selalu mengurung diri di kamar. Di sekolah, aku jadi sering menyendiri mengingat betapa kotornya aku sekarang karena ulah laki-laki yang baru aku kenal tiga bulan. Aku bahkan tidak mengira dia akan berbuat seperti itu.


Suatu hari dia tiba-tiba datang kerumah meminta maaf atas kejadian hari itu.


"Untuk apa kamu meminta maaf, semua sudah terlambat. Kamu mungkin senang karena sudah merusak masa depanku, tapi aku akan melihat hidup kamu hancur suatu hari nanti. Karena aku yakin Allah maha adil. Dia tahu bagaimana kejamnya kamu merusak hidupku!!" Aku benar-benar marah dengan Ariel. Kalau saja aku bisa akan aku bunuh dia dan aku buang tubuhnya ke kandang harimau. Tapi aku bisa apa, nasi sudah menjadi bubur.


Setelah aku lulus dari sekolah SMA, sebenarnya aku tidak ada niatan untuk melanjutkan kuliah. Tapi ibuku memberiku pilihan, "jika kamu tidak mau kuliah lebih baik kamu menikah saja biar ada yang menjagamu." Aku yang merasa pesimis dengan keperawananku, akhirnya terpaksa menuruti keinginan ibuku untuk kuliah. Aku mengambil jurusan akuntansi di universitas dekat rumahku karena ketika kecil aku pernah bermimpi untuk bekerja di sebuah bank.


Suatu hari aku bertemu dengan kakak seniorku. Dia menawariku untuk tidur dengannya dengan imbalan uang senilai dua juta untuk satu malamnya dengan syarat aku harus menjaga rahasia ini, supaya tidak ada yang mengetahui hubunganku dengan kakak seniorku. Aku sempat menolak ajakannya. Tapi setelah kulihat ibuku bersusah payah mencari pinjaman untuk membayar biaya semesterku dan tidak mendapatkannya, akupun menerima tawarannya.


"Toh aku sudah tidak perawan lagi. Untuk apa aku menjual mahal harga diriku. Pasti aku akan ditertawakan laki-laki manapun kalau aku sok jual mahal padahal dalaman-nya sudah bobrok. Lagipula aku juga butuh uang untuk membiayai kuliahku. Aku tidak ingin terus-terusan menyusahkan ibuku," ucapku dalam hati. Akhirnya aku pun selalu menerima tawaran tidur dari laki-laki manapun tidak peduli orang itu masih seumuranku ataupun yang umurnya sudah tua. Lama-kelamaan aku menikmati hidupku yang gelap ini.

__ADS_1


__ADS_2