
"Mas, kita lanjut ke tempat yang kedua, yuk!" ajakku.
"Kamu yakin nih nggak mau mampir ke taman bermain?"
"Nggak mau lah, yang disini kan khusus untuk anak-anak. Kalau di tempat yang kedua, itu baru buat orang dewasa kayak kita gini."
"Ya udah ayo."
Aku dan Alfan pergi untuk menjelajahi tempat yang kedua. Jarak dari tempat yang pertama sekitar lima belas menit. Meskipun jaraknya agak jauh, tapi kami berdua tak merasa lelah. Karena kami disuguhi beraneka macam souvenir yang dijual.
"Disini mirip pasar, ya. Ayo kita lihat-lihat dulu," ajak Alfan.
"Emangnya Mas Alfan mau nyari apa?" tanyaku penasaran. Aku juga ikut melihat-lihat beberapa tas yang digantung di depan toko.
"Ini bagus nggak?" ucap Alfan sambil memperlihatkan baju yang dia ambil.
"Bagus kok. Tapi kalau ada warna biru atau hijau, mungkin lebih cocok buat kamu."
"Baju ini ada kok yang warna biru. Ini baju couple. Baju model ini sedang trend dikalangan muda-mudi seperti kalian," jelas pemilik toko.
"Ayo, Fa, kita beli. Kamu mau nggak pakai baju couple sama aku?"
"Yakin nih? Ayo!" seruku menyetujuinya.
Setelah kami membeli baju couple dan tak lupa Alfan juga membelikanku tas yang aku inginkan, kami pergi ke toilet untuk memakai baju yang baru saja kami beli.
"Kita kayak anak panti asuhan ya, Fa."
"Tapi kita cocok loh, Mas, kayak cowok cewek yang ada di drama korea gitu," jelasku yang sering menonton drama korea. "Emang kamu nggak malu pakai baju couple, Mas?" tanyaku.
"Nggak lah, ayo kita lanjut jalan," ajak Alfan.
"Bentar, aku mau beli itu dong." Aku menunjuk sebuah gerobak eskrim. Sudah lama aku tidak makan eskrim vanila kesukaanku.
__ADS_1
"Ya udah sana."
"Kamu nggak mau, Mas?" tawarku yang sudah memegang eskrim vanila.
"Nggak usah. Kamu badannya kecil, tapi doyan makan juga ya ternyata!" seru Alfan heran. Aku sendiri juga heran dengan tubuhku. Mungkin aku meniru perawakan ayahku yang memang badannya kecil. Aku tidak pernah telat makan, bahkan camilan pun selalu ada setiap hari di kamarku. Tapi memang badanku susah untuk gemuk. Berat badanku tidak pernah lebih dari 43 kilo.
"Hehehe.. Eh, Mas, itu loh hotel yang aku bilangin tadi waktu dijalan. Bagus ya? Nuansanya seperti di hutan. Bentuk gedung hotelnya mirip sama pohon."
"Oh yang itu ya, sayangnya kita bukan dari luar kota, Fa. Kalau kita dari luar kota, pasti aku udah pesenin dua kamar disitu."
Ternyata laki-laki ini benar-benar tidak tergoda dengan ajakanku ke hotel. Dia malah mengartikan lain tentang ucapanku. "Mungkinkah Alfan masih perjaka?" Segera kutepis pikiranku yang mulai aneh-aneh.
**********
"Ayo kita naik roaller coaster," tawarku.
"Ayo, tapi setelah itu kita naik wahana tornado itu ya?"
"Bagaimana kalau yang itu?" tawar Alfan.
Aku kembali melihat wahana yang Alfan maksud dengan perasaan ngeri. Disana banyak penumpang yang berteriak ketakutan. Wahana yang bernama pontang-pontang itu memutar para penumpangnya dengan cepat. Aku bisa mual kalau menaiki wahana sepedti itu.
"Apa bisa yang lain saja?" tanyaku.
"Kenapa? Wahana-wahana seperti itu sama memicu adrenalin seperti roaller coaster, loh."
"Tapi kan kalau roaller coaster aku sudah pernah, makanya aku nggak takut. Kalau wahana yang bikin teriak-teriak seperti itu aku nggak mau. Nanti jantungku bisa copot."
"Ya udah kalau gitu aku ngikut kamu aja deh," ucap Alfan sedikit kecewa. "Tapi sebelum kita naik wahana, ayo kita foto dulu. Dari tadi kita belum foto bareng, pakai baju couple ini, lanjutnya.
"Ayo!" Aku menyetujui ajakannya. Dia pun meminta tolong orang yang lewat untuk memfoto kami berdua. Meskipun gayanya kaku, tapi tidak dapat dipungkiri kalau hasilnya difoto tetap saja tampan.
Setelah puas bermain roaller coaster, kami berdua memilih permainan yang lain. Kami mencoba wahana kapal bajak laut, yang tidak terlalu menakutkan menurutku. Selain itu kami juga mencoba bom bom car, naik poci-poci yaitu teko besar yang muat dua orang dan kami dibawa berputar-putar, dan masih banyak lagi permainan yang sudah kami coba.
__ADS_1
Bahkan kami sempat memasuki rumah hantu yang didalamnya ada orang yang berdandan mirip hantu. Aku benar-benar takut karena dandanannya yang sangat mirip. Terakhir, kami berdua menaiki bianglala atas kemauanku. Tentu saja, di drama korea yang sering aku tonton, para pemeran utama seringkali menaiki bianglala ketika pergi ke taman bermain dan hal itu membuatku iri.
Karena hari sudah mulai sore, kami berdua memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ketempat yang ketiga. Sebelum melanjutkan perjalanan, seperti biasanya, Alfan selalu mengajak untuk mampir ke masjid. Baginya, sholat lebih penting dari apapun. Dan ketika aku bersama Alfan, aku otomatis juga ikut sholat. Setiap sholat, hati menjadi tenang. Tapi entah kenapa aku masih belum berani untuk sholat sendiri. Aku merasa belum pantas untuk menghadap-Nya.
"Kamu cantik deh kalau pakai mukenah pas sholat tadi," ucap Alfan.
"Coba kamu pakai hijab, pasti lebih cantik lagi," lanjutnya.
"Aku masih belum siap pakai hijab. Nanti saja, kalau hatiku sudah tidak malu kepada-Nya, aku akan berubah sedikit demi sedikit."
"Kenapa nunggu nanti kalau bisa sekarang?"
"Nanti pasti aku akan berubah kok. By the way, aku lapar. Ayo kita mampir nyari jajanan dulu sebelum lanjut ketempat yang ketiga," ajakku untuk mengalihkan perhatiannya.
"Kamu itu memang aneh. Padahal tadi kita udah makan, jajan banyak juga. Tapi masih aja ngajak jajan lagi."
"Emangnya nggak boleh? Aku sekarang lagi pengen sosis bakar sama pentol bakar. Tuh baunya nyampek sini, Mas."
"Hemm... ya udah ayok kita mampir di kedai itu. Aku juga mau mencoba pentol bakar. Sebelumnya, aku belum pernah makan sesering ini. Kamu memang cocok buat aku jadikan adik, Fa."
"Bisa nggak sih, kalau aku dijadikan lebih dari adik? Aku kan juga pengen memilikimu, Mas. Aku bahkan rela berubah menjadi wanita sholehah demi kamu. Meskipun hal itu masih dalam proses," ujarku dalam hati.
"Mas, setelah pertemuan kemaren di Cafe Deliche, bagaimana kemajuan hubungan kamu dengan Elsa?" tanyaku penasaran.
"Kita ya cuma temenan biasa aja. Aku aja nggak tahu kemaren, kalau kalian bakalan dateng. Krish cuma bilang mau ngajakin aku karaokean. Emang Elsa nggak cerita apa-apa ke kamu? Biasanya kan cewek itu suka ngrumpi bareng."
"Masak kamu nggak tahu sih, Mas? Elsa sih cuma bilang kalau kamu itu susah buat dideketin."
"Beneran deh, nggak tahu aku. Emang Elsa bilang begitu? Selama ini sih aku bersikap biasa saja sama Elsa. Aku cuma anggap dia sebagai teman yang baru aku kenal aja. Lagian aku juga kurang nyaman ketika ngobrol sama dia."
Yes, mungkin dengan Alfan menganggap Elsa sebagai teman biasa, bisa membuat Alfan semakin dekat denganku. Meskipun saat ini aku hanya dianggap adik olehnya, tapi aku akan berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan hatinya.
Maaf, Elsa. Aku memang sahabat yang tak tahu terima kasih. Aku malah berusaha mendapatkan orang yang kamu sayangi. Padahal aku sudah tahu dari awal, kalau kamu sangat menyukainya selama ini.
__ADS_1