
Aku udah ada di depan kampusmu. Dito mengirimiku sms.
Aku masih ada jam kuliah. Tunggu tiga puluh menit lagi ya. Balasku.
"Dia tidak akan marah lagi kan hanya gara-gara menungguku selama tiga puluh menit?" gumamku. Dosen masih fokus memberikan pelajaran mata kuliah perpajakan. Aku juga berusaha tetap fokus mendengarkan apa yang diterangkan dosen di depannya.
Setelah bel berbunyi, tak lupa dosen memberikan beberapa PR yang harus dikerjakan di rumah. Aku mencatat dengan seksama tugas yang kudapatkan.
"Kamu mau langsung pulang, Shifa?" tanya Elsa.
"Iya, Dito mengajakku bertemu hari ini."
"Ciiieee ... yang mau pacaran. Besok jangan lupa traktirannya ya," tutur Nela.
"Pasti!!" seruku. Kami bertiga berjalan bersama.
"Shifa, aku mau ngomong sama kamu." Terlihat Reno yang berlari mendekatiku dengan nafasnya terengah-engah.
"Ngomong apa lagi? Kita kan udah nggak ada hubungan apa-apa." Aku sampai detik ini masih jengkel dengan hinaan Reno terhadapku. Teman-temanku, berdiri diam melihat pertengkaranku dengan Reno.
"Ayo! Aku pingin ngomong sesuatu yang penting sama kamu." Reno menarik pergelangan tanganku dengan kasar untuk mengikutinya.
"Nggak mau!" Aku berusaha menghempaskan tangan Reno dengan sekuat tenaga. Namun hasilnya nihil, tangan Reno masih memegang pergelangan tanganku dengan erat.
"Reno, kamu jangan kasar gitu dong sama Shifa!" protes Nela.
"Iya, kamu nggak malu apa dilihatin banyak orang," tutur Elsa berusaha membelaku.
"Kalian berdua mending diem deh, jangan ikut campur urusan kami berdua."
"Kamu tuh yang jangan ikut campur. Kamu kan udah diputusin, ngapain masih ngelihatin tampang kamu di depan Shifa?" Nela berusaha melepaskan genggaman Reno kepadaku. Dengan berat hati, Reno melepaskan genggamannya karena dia merasa malu, banyak mata yang saat ini melihat ulahnya.
"Kalau kamu nggak mau ikut aku sekarang juga, aku akan beberkan ke semua orang tentang rahasia kamu!" ancam Reno.
Dengan berat hati, aku terpaksa mengikutinya. Padahal aku sudah tidak ingin menemuinya lagi. "Baiklah, tapi sebentar saja, mengerti?" terangku.
"Kamu yakin, Shifa, mau kita berdua temenin nggak?" tanya Elsa khawatir.
"Nggak usah. Kalian berdua pulang aja dulu. Aku nggak apa-apa kok," tuturku berusaha menenangkan Elsa dan Nela. "Nanti aku hubungi kalau aku sudah selesai."
__ADS_1
Reno mengajak kami berbicara empat mata di belakang gedung kampus. Disini, memang tempat yang sangat sepi. Teringat saat pertama kali aku berbicara dengan Reno disini. Di tempat inilah dia menghinaku habis-habisan. Bahkan sampai saat ini tanganku yang refleks menamparnya waktu itu, masih terasa kebas.
"Sebenarnya kamu mau ngomong apa sih? Sampai kamu buat keributan seperti itu?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Kenapa kamu memblokir nomor teleponku?"
"Karena kita sudah putus."
"Tidak bisakah kita balikan seperti dulu?" tanya Reno.
"Nggak bisa, Ren, kita udah nggak cocok. Aku udah mulai bosan sama kamu."
"Perkataanmu kejam, Shifa. Aku masih mencintai kamu."
Aku berpikir lama sebelum akhirnya berkata, "Kalau kamu masih mencintai aku, buktikan!"
Reno hanya terdiam. Dia mengerti kemana arah pembicaraanku sekarang. Dan aku tahu, dia tidak akan mau jika aku suruh untuk melamarku sekarang. Makanya, aku menyuruhnya untuk serius supaya dia bisa mundur dengan sendirinya.
"Kamu nggak bisa kan? Kamu hanya mencintai tubuhku bukan diriku!" teriakku.
"Bukan begitu, Shifa. Kamu tahu sendiri kan kalau aku nggak bisa berkomitmen serius sebelum aku mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tinggi," terang Reno.
"Ya udah, berarti kamu emang nggak bisa kan membuktikan kalau kamu mencintai aku?"
Aku sempat shock dengan ucapan Reno. Bagaimana hal itu bisa dikatakan pembuktian cintq, padahal dengan mantannya Reno juga sering tidur bareng.
"Kamu mengigau ya, bagaimana kamu sebut itu sebagai pembuktian? Memangnya sebagai laki-laki, kamu kehilangan apa? Bahkan sebelum mengenalku, kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu sudah tidak perjaka." Aku pun segera pergi dari tempat itu.
"Tunggu, Shifa, aku belum selesai ngomong." Reno menarik tanganku lagi.
"Udahlah. Aku udah bosan sama kamu. Aku ingin sendiri!" seruku menghempaskan genggamannya.
Aku segera berlari menjauhinya. Dia benar-benar susah sekali diputusin. Berkencan dengan laki-laki satu kampus ternyata bukan ide yang bagus karena setiap hari bisa bertemu. Apalagi banyak teman-teman kampus yang tahu dengan hubungan kami.
Kriiinngg ... krriiinnggg ....
H**andphone di dalam tasku berbunyi ketika aku mencari-cari keberadaan Dito. Biasanya, dia memarkirkan mobilnya di dekat gerbang kampus selama menungguku.
"Kamu dimana?" tanyanya dari balik telepon.
__ADS_1
"Aku udah di gerbang ini, nyariin kamu."
"Aku ada di Cafe Bintang, dekat kampus kamu."
Tuutt ... tuuutt ... ttuutt ....
Belum sempat aku menjawab, Dito sudah mematikan teleponnya. Kebiasaan Dito kalau lagi marah, dia akan melakukan hal itu. Aku pun memakluminya, mungkin karena pekerjaanya membuat temperamennya buruk. Aku pun berjalan tergesa-gesa ke tempat yang dia maksud.
"Maaf, Sayang, aku lama ya." Ternyata Dito masih menungguku di cafe dekat kampus. Untung saja raut wajah Dito tidak menunjukkan kemarahannya.
"Kamu dari mana saja? Temen-temen kamu sepertinya banyak yang sudah pulang dari tadi."
"Aku menyelesaikan tugasku terlebih dahulu bareng temen-temenku. Nanggung, tinggal sedikit lagi," ujarku beralasan.
"Kenapa kamu nggak bilang? Kamu kan bisa sms aku."
"Permisi, Mbak, mau pesan apa?" ujar waitress menginterupsi pembicaraanku dengan Dito.
"Pesen makanan aja sekalian, nanti kita langsung ke hotel."
"Aku pesen nasi goreng sama jus alpukat ya," terangku.
"Baik, Mbak, silahkan ditunggu sebentar," ucap waitress pergi.
"Kamu nggak pesen lagi, Sayang?" Aku berusaha mencairkan suasana, supaya Dito tidak marah lagi. Meskipun mukanya tidak menunjukkan kemarahannya, tapi aku tahu, Dito tidak segampang itu mau memaafkan aku karena keterlambatanku. Apalagi sebelumnya aku sempat mengingkari janjiku untuk bertemu dengannya.
"Nggak. Barusan aku udah transfer uang jajan bulanan kamu ya. Kamu coba cek aja di aplikasi perbankan milik kamu."
Aku senang dengan jumlah uang yang sangat besar masuk di rekening aku. Terlihat angka empat dengan nol sebanyak tujuh berjajar rapi dibelakangnya.
"Terima kasih, Sayang, tapi bukannya ini kebanyakan ya dari biasanya?"
"Aku habis dapat uang banyak dari proyek yang aku kerjakan sebelumnya. Makanya aku bisa kasih kamu lebih banyak dari biasanya."
"Berarti setelah dari hotel, kita bisa jalan-jalan dong ke mall."
Belum sempat Dito menjawab, makanan yang ku pesan sudah datang. "Ini, Mbak, makanannya," ujar waitress meletakkan makanan pesananku.
"Kamu makan aja dulu, nanti kalau kita nggak kemalaman, kita bisa mampir sebentar ke mall. Tapi kalau kita kemalaman, lebih baik kamu belanja sendiri bareng teman-temanmu saja dengan kartu kredit yang aku berikan sebelumnya."
__ADS_1
"Oke, kalau begitu. Aku makan dulu ya, Sayang."
"Maaf, Alfan, aku belum bisa sepenuhnya berubah menjadi wanita baik-baik karena saat ini, aku juga butuh uang. Apalagi usaha berjualan tas secara online, belum memberikan hasil yang signifikan." Aku berusaha membenarkan pemikiranku saat ini. Meskipun aku tahu, tak seharusnya aku berkelakuan seperti ini.