Dialah Matahariku

Dialah Matahariku
Ch. 29. Rasaku tulus


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Bu." Aku membuka pintu dengan perlahan. Siapa tahu ibuku sudah tidur lebih dahulu, walaupun hal itu sangat jarang terjadi. Ibuku tipe orang yang akan selalu menunggu anak satu-satunya ini pulang dulu ke rumah sebelum dia memejamkan mata.


"Wa'alaikumsalam, Shifa, kenapa kamu baru pulang, Nak?" tanya Ibu sambil berjalan dari dalam kamarnya.


Aku pun mencium tangannya, "Kan Shifa udah bilang tadi, kalau jadwal kuliah pagi diganti jam sore."


"Seriusan kamu tadi bilang begitu? Kok seingat Ibu, kamu nggak pernah mengatakan seperti itu?"


Benar juga, aku tadi tidak mengatakan alasan apapun sebelum meninggalkan rumah. Aku pun berusaha mengalihkan perhatian Ibuku dengan menyodorkan sebuah bungkusan, "Bu, udah makan belum? Shifa beliin spagheti nih buat Ibu."


"Ibu udah makan, Shifa. Malahan Ibu tadi nyisahin makanan buat kamu."


"Kalau begitu, ayo kita makan bareng, Bu. Kasihan kan spagheti yang aku beli, kalau nggak ada makan," ujarku dengan pura-pura cemberut.


"Baiklah, ayo kita makan. Tapi kamu mandi dulu sana, biar Ibu siapin dulu."


Ibuku akhirnya pergi ke dapur tanpa menanyaiku lebih jauh. Ku rebahkan badanku pada tempat tidurku yang paling nyaman. Terbayang sekali lelahnya, dalam sehari aku menemui dua orang sekaligus. Alfan yang mengajakku jalan-jalan ke mall, dan melayani Dito di hotel tempat biasa.


Ku lihat handphone-ku sebelum aku menemui Ibuku di dapur. Terdapat sms dari Alfan dan Elsa. "Kenapa Alfan dan Elsa mennghubungiku?" batinku.


'Kamu sudah tidur belum, Shifa? Terima kasih ya untuk hari ini, sudah menemaniku jalan-jalan. Semoga saja kuliahmu tadi nggak terlambat.'


Sms dari Alfan membuatku senyum-senyum sendiri. Tidak biasanya Alfan mengirimiku sms yang tidak penting seperti ini. Biasanya Alfan mengirimiku sms kalau ada hal yang penting-penting saja.


'Terima kasih juga sama sepatu dan pakaian pembelian Mas Alfan. Aku pamit makan dulu ya.'

__ADS_1


Aku membalas pesan dari Mas Alfan dengan perasaan berbunga-bunga seperti orang yang sedang kasmaran. Alfan sangat baik, dia mau membelikanku banyak barang tanpa mengajakku tidur di hotel seperti kebanyakan pria lainnya. Bahkan barang belanjaanku masih terjejer rapi di atas meja riasku dan belum aku sentuh. "Akan ku buka besok saja," gumamku.


'Shifa, kamu pasti lagi senang-senang sama Pak Direktur itu ya. Jangan lupa oleh-oleh buat aku dan Nela ya. Selamat bersenang-senang!'


Benar juga, hampir saja aku lupa. Untung saja Elsa mengingatkanku untuk membawakan mereka oleh-oleh. Tapi aku tadi tidak jadi jalan ke mall bersama Dito, jadi apa yang akan aku berikan kepada mereka besok di kampus. "Ah sudahlah, akan aku pikirkan besok saja. Sekarang aku mau menemani Ibu makan."


Aku pun pergi ke dapur menemui Ibu dan mengambil makanan yang sudah Ibu hidangkan di meja. "Enak sekali, Bu, masakannya!" pujiku kepada Ibu.


"Tentu saja," balas Ibu yang juga makan spagheti pemberianku. "Jadi, bagaimana jalan-jalanmu dengan Alfan?"


Ibuku ternyata to the point sekali jika mengenai perkembangan hubunganku dengan Alfan. "Ya nggak gimana-gimana, Bu. Tadi Alfan beliin sepatu sama pakaian buat Shifa. Oh iya, Ibu tadi juga dibelikan tas loh sama Alfan."


"Tapi, Shifa, tidakkah kamu memikirkan saran Ibu sebelumnya? Bagaimana jika Elsa tahu kedekatan kamu dengan Alfan?" Ibu pasti mencemaskanku semenjak dia tahu semuanya.


"Tapi kan aku dan Alfan cuma dekat sebagai teman, nggak lebih. Ya, kalau misalnya ketahuan, aku tinggal jawab begitu saja."


"Tapi, Shifa," ujar Ibu menghela napasnya, "Ibu tidak ingin kalian bertengkar hanya karena laki-laki. Ibu ingin masa remajamu berjalan dengan baik-baik saja tanpa ada permasalahan yang akan kamu sesali nanti."


"Bu, Shifa akan atasi masalah ini. Tapi Shifa mohon, jangan suruh Shifa untuk menghilangkan rasa cinta di hati Shifa ini. Shifa tidak akan pergi kecuali Mas Alfan sendiri yang meninggalkan Shifa."


Ibu menghela napas panjang setelah mendengar keputusanku. Kali ini aku sudah membulatkan tekadku. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Meskipun tubuhku penuh dengan noda, tapi aku akan berusaha semampuku untuk tetap bersama Alfan. Walaupun aku tak sesuai kriteria yang Alfan inginkan sebagai seorang wanita, tapi aku sudah cukup bersyukur dengan dia yang care denganku tanpa imbalan apapun.


********


"Pagi, Cantik, mana nih oleh-oleh buat aku sama Elsa?" tagih Nela.

__ADS_1


Aku yang sedang makan dikejutkan dengan kedatangan Nela yang tiba-tiba. "Elsa belum datang ya, Nel?" tanyaku balik.


"Kok kamu malah nanya aku sih. Aku kan baru aja sampai. Oh iya, mana oleh-oleh buatku? Jangan bilang kalau kamu lupa, saking asyiknya jalan sama Pak Direktur itu," tagih Nela lagi.


"Aku kemaren nggak jadi ke mall."


Jawabanku sukses membuat Nela menggerutu kesal. "Yah, gimana sih, Shifa. Harusnya kamu pelorotin sekalian dong uangnya Pak Direktu itu. Biar kamu nggak rugi-rugi amat jalan sama Om-om."


Ah, benar juga. Nela memang orang yang selalu ceplas-ceplos. Meskipun menyakitkan, tapi ucapan Nela selalu jujur dan apa adanya. Itu yang membuat aku menyukai Nela dan kami bisa menjadi akrab. Sahabat memang ada untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing.


"Tenang saja, aku sudah dapat uang jajan kok dari Dito. Nanti sepulang kuliah, kita jalan-jalan ke mall. Biar aku yang traktir. Lagipula aku juga bisa pakai *credit car*d yang diberikan Dito."


"Nah, gitu dong. Sekali-kali kamu belanjain tuh credit card yang dia kasih. Masak iya kamu nggak memanfaatkan credit card yang dia berikan ke kamu. Nanti kalau sudah putus, kamu rugi loh."


"Nel, dalam sebuah hubungan itu nggak ada yang namanya untung rugi loh," celetuk Elsa yang tiba-tiba saja duduk di sebelahku.


"Kamu kenapa baru datang, Sa?" tanyaku penasaran.


"Iya, tumben-tumbenan kamu datang jam segini. Apa lagi kena macet di jalanan?" tebak Nela.


"Sebenarnya, aku tadi diajak bicara empat mata sama Reno."


"Reno lagi?" gumamku pelan. Kenapa dia selalu menghantui hari-hariku. Padahal dia sendiri yang menghinaku habis-habisan. Aku masih ingat perkataannya yang menganggapku sebagai "pelac*r".


"Dia ngomong apa?" Aku dan Nela mulai penasaran.

__ADS_1


"Dia nanyain kamu, Shifa. Katanya suruh supaya dia tidak memblokir nomornya. Dia juga tanya, dia berkali-kali telepon kamu dengan nomor baru. Tapi dia tanya, kenapa kamu nggak respon sama sekali."


Aku baru ingat, kemaren memang ada nomor tak dikenal meneleponku berkali-kali. Berhubung handphone aku silent, jadi aku tak mengindahkan telepon tersebut. Apalagi dari nomor tak dikenal, aku tidak pernah mengangkat telepon dari nomor yang tak ku ketahui asal usulnya.


__ADS_2