Dialah Matahariku

Dialah Matahariku
Ch. 30. Kedua sahabatku


__ADS_3

"Shifa, kamu udah tepat memutus hubungan dengan Reno. Dia jangan kamu kasih harapan lagi. Lama-lama aku gedek sama dia. Karena dia secara terang-terangan udah menghina kamu," celetuk Nela.


Ya, benar juga apa yang dikatakan Nela. Untuk apa aku memberinya kesempatan lagi. Lebih baik aku maju ke depan dan menjauh dari Reno daripada aku terus berputar-putar dengan hubunganku dan Reno.


"Terus aku mesti jawab apa kalau Reno nanyain kamu lagi, Shifa?" Kelihatan sekali Elsa merasa tidak nyaman berada di antara aku dengan Reno.


"Jawab aja, Sa, kalau kamu nggak tahu apa-apa tentang masalahku dengannya."


"Iya, Sa, lagian biarin Shifa fokus sama Pak Direktur itu saja. Daripada sama Reno," ucap Nela membelaku. Setelah Nela menyeruput minumannya, Nela berkata kepada Elsa, "Biar kita bisa ditraktir terus. Kan lumayan kita bisa dapat cipratan dari Shifa."


Elsa yang mendengar itu hanya mengerutkan dahi. Elsa sebenarnya tak menyetujui hubunganku dengan Dito. Karena menurutnya, hubungan kami bukanlah hubungan yang biasa dijalani oleh perempuan muda seusiaku. Bagi Elsa, hubungan yang tidak didasari dengan cinta, akan berakhir buruk bagi kedua belah pihak.


Dulu, sebelum aku mengenal Alfan, aku tak pernah mengindahkan perkataan Elsa. Toh, aku bisa bersenang-senang dengan bebas karena hubunganku dengan beberapa pria. Tapi kali ini, ada rasa penyesalan dalam hatiku. Tak seharusnya aku memanfaatkan ketidakperawanannku untuk mendapatkan uang.


"Kalau misalnya aku putus dengan Dito, bagaimana menurut pendapat kalian?" tanyaku pelan.


"Apa?!" seru Nela tak percaya. Elsa pun juga sama terkejutnya seperti Nela. Sedangkan diriku, aku hanya tersenyum memperhatikan tingkah kedua sahabatku ini.


"Bagus, Shifa, aku setuju," ujar Elsa.


"Nggak, aku nggak setuju," tolak Nela.


"Kenapa?" tanyaku dan Elsa bersamaan.


Nela berpikir lama. Dia seperti enggan memberi pendapat kepadaku yang sedari tadi sudah menunggunya untuk bicara.


"Kenapa, Nel? Ngomong aja, aku nggak apa-apa kok. Aku nggak akan tersinggung dengan ucapanmu. Kita kan sudah lama bersama-sama." Aku tahu apa yang akan diucapkan Nela adalah sesuatu yang bersifat ekstrim. Aku sudah hapal dengan tingkahnya. Nela memang biasanya selalu ceplas-ceplos meskipun terkadang ucapannya menyakitkan.


"Gini, Shifa, kalau seandainya kamu dengan Dito putus, memang kamu sudah siap?" tutur Nela.


Aku memandangi Nela dengan serius sebelum akhirnya dia mulai melanjutkan perkataannya, "Kamu yakin bakalan siap hidup tanpa sokongan uang dari Dito?"

__ADS_1


"Selama ini aku tahu kok kalau kamu mendapatkan banyak uang dari Dito untuk memenuhi kebutuhan kamu. Makanya kamu bisa tampil modis selama di kampus. Aku cuma takut aja kalau tiba-tiba setelah putus dengan Pak Direktur itu, kamu bakalan kesusahan tentang uang," jelas Nela panjang lebar.


Sebenarnya, aku sendiri juga bingung dengan hubunganku. Di satu sisi, aku ingin putus dengan Dito. Karena aku sudah mulai lelah melayaninya. Selain itu, hatiku sudah mulai terisi dengan rasa cintaku kepada Alfan. Tapi, jika aku memutuskan untuk sendiri hanya karena rasa cintaku itu, akankah hidupku bisa senyaman ini. Sedangkan aku tahu bahwa Alfan hanya menganggapku sebagai adik. Entah dia memiliki rasa yang sama kepadaku atau tidak, yang jelas hubunganku dengan Alfan masih sangat sulit untuk dilanjutkan.


"Shifa, kalau menurutku sih, coba kamu kembangin usaha online shop kamu. Nanti setelah kamu punya pegangan untuk membayar biaya kuliah, kamu bisa putusin hubungan kamu dengan Dito. Ya, meskipun uang yang akan kamu dapat dari jualan online tak sebanding dengan pemberian Dito," saran Elsa.


"Sepertinya itu ide bagus. Tapi kalau menurutku sih sekalian saja mulai sekarang kamu coba cari cowok yang bisa kamu ajak serius. Syukur-syukur kamu bisa dapet cowok yang tajir," ungkap Nela.


"Lagipula, kalau hanya mencari cowok kaya, bukankah itu keahlian kamu, Shifa?" lanjut Nela.


Tentu saja apa yang dikatakan kedua sahabatku ini tidak ada yang salah. Mereka memberiku beberapa saran yang bisa aku lakukan untuk sementara ini. Seandainya saja mereka tahu aku berhubungan dekat dengan Alfan, akankah mereka masih sedekat ini denganku?


Kriiinnngg.....


Belum juga sempat menjawab, bel tanda masuk sudah berbunyi terlebih dahulu. "Ayo!" ajakku kepada kedua sahabatku yang masih asyik menyantap makanan. Kami pun bergegas pergi dari kantin, meskipun ada makanan yang belum sempat kami bertiga habiskan.


*******


Aku dan teman-temanku memutuskan untuk pergi ke mall seusai pelajaran berakhir. Dosen yang mengajar mata kuliah yang terakhir tidak bisa datang karena sakit. Jadi kami dipulangkan lebih awal. Maka dari itu, kami bertiga sekarang sudah berada di dalam mall sebelum pulang ke rumah.


"Serius nih?" Seperti biasa, Elsa selalu melotot tak percaya ketika aku memutuskan untuk mentraktirnya.


"Nah, gitu dong, sekali-kali kamu harus memanfaatkan credit card yang udah Dito berikan," celetuk Nela.


"Jadi, kalian mau aku belanjain apa hari ini?"


"Kamu mau apa, Sa?" tanya Nela kepada Elsa.


"Tapi kamu yakin nih, mau belanjain kita berdua?" tanya Elsa.


"Seriusan, kalian berdua boleh beli apapun khusus untuk hari ini."

__ADS_1


Sejujurnya, aku sangat jarang menggunakan credit card yang saat ini sedang kupegang. Selain aku tak berani, aku tak ingin jika aku dianggap memanfaatkan apa yang Dito berikan.


Tapi setelah aku pikir-pikir, benar juga yang dikatakan Nela tempo hari. Aku harus memanfaatkan apa yang diberikan Dito kepadaku. Sebelum aku memutuskan hubungan dengan Dito, aku harus bisa memanfaatkan segala yang dia berikan kepadaku.


"Shifa, ini bagus nggak?" tanya Elsa menunjukkan dress bercorak bunga.


"Kayaknya kurang cocok deh sama kamu. Coba yang lain dulu, Sa."


"Oke."


Elsa mulai memilih lagi pakaian yang akan dia beli. Sedangkan Nela, dia sudah mendapatkan dua baju yang sedang dia coba saat ini.


"Bagus nggak?" tanya Nela kepadaku. Nela memutar-mutar tubuhnya untuk memperlihatkan baju yang sedang dia kenakan. Dress simple berwarna biru dengan aksen brukat di bagian dada membuatnya tampak sangat cantik dikenakan Nela.


"Bagus banget. Cocok deh sama kamu," pujiku ketika melihatnya.


"Iya, Nel, kamu cocok banget sama baju itu."


Nela yang mendengar pujianku dan Elsa merasa sangat senang. Dia kembali masuk ke fitting room. Sepertinya Nela akan mencoba baju yang kedua.


"Sa, kamu udah dapet belum?" tanyaku pada Elsa.


"Belum, Shifa, aku masih bingung."


"Gimana kalau setelah ini kita cari di butik lain? Kamu kan suka setelan panjang. Sekalian aja nanti kamu cari hijabnya," tawarku yang mengerti kemauan Elsa.


Elsa memang memakai hijab jika pergi keluar rumah. Sedangkan pakaian di sini, kebanyakan kurang cocok jika dipadu dengan hijab.


"Oke deh. Terima kasih ya, Shifa. Kamu memang sahabatku." Elsa memelukku dengan sangat erat sebagai ucapan terima kasihnya.


Seandainya saja dia tahu apa yang aku sembunyikan, mungkin dia takkan mengucapkan hal itu. Lagi-lagi, aku merasa bersalah ketika berada dihadapan Elsa. Dan aku hanya diam saja dengan memendam rasa bersalahku ini.

__ADS_1


__ADS_2