
"Kamu dari mana, Fa? Kok pulangnya malem banget?" tanya ibu.
"Habis karaokean, Bu, sama Nela dan Elsa," jawabku. "Ibu kok belum tidur?"
"Ibu nungguin kamu, kamu udah makan belum? Mau Ibu bikinin nasi goreng?"
"Nggak usah, Bu, tadi udah ditraktir sama temen-temen."
"Tadi Bu Retno nyariin kamu. Sebenarnya udah beberapa kali dia kesini. Tapi kamu selalu pulang telat, jadi Bu Retno pulang duluan," jelas ibu.
"Oh iya aku lupa kalau Bu Retno mau minta foto model tasnya. Kalau begitu kapan Bu Retno kesini lagi?" selidikku penasaran.
"Katanya besok kalau ada waktu dia mau mampir lagi. Mumpung hari minggu katanya."
"Kalau besok aku nggak bisa, Bu, aku udah terlanjur ada janji sama temenku. Tapi nggak tahu dia jadi ngajakin aku jalan atau enggak. Soalnya tadi udah ketemu di cafe," ucapku jujur.
"Sama siapa, Fa?"
"Sama Alfan, laki-laki yang minggu lalu pernah kesini."
"Emang kamu pacaran sama dia? Kok kalian sering banget ketemu?"
"Enggak, Bu, kami cuma temenan kok. Ya udah, Bu, aku mau mandi dulu, gerah nih!" seruku kabur.
Aku nggak mau ibu bertanya yang aneh-aneh tentang hubunganku dengan Alfan. Bisa-bisa aku malah keceplosan nanti, kalau Alfan itu incaran Elsa dan aku juga menyukainya. Bisa dimarahi habis-habisan aku, kalau ibuku tahu perasaanku terhadap Alfan.
******
"Bu, aku dan Alfan pergi dulu, ya. Titip kata maaf buat Bu Retno ya, Bu, kalau dia kesini. Kalau bisa sih Ibu mintain nomer whatsapp-nya aja biar aku bisa kirim fotonya," ucapku pamit.
__ADS_1
Aku sempat pesimis kalau Alfan jadi mengajakku ke taman wisata hari ini. Setelah dia tahu bahwa aku suka selingkuh, dia tetap menjemputku di rumah.
"Ya udah, hati-hati ya kalian berdua. Tolong jaga anak Ibu dengan baik ya," pesan ibu.
"Tentu saja, Bu, Alfan akan jaga Shifa sebaik-baiknya," tegas Alfan.
"Aku kira Mas Alfan nggak jadi ngajak aku jalan-jalan," pungkasku sambil memandangi wajahnya yang sedang fokus menyetir mobil.
"Aku yang ngajak kamu, masak aku juga sih yang ngebatalin," kata Alfan.
"Emang kamu nggak *i*lfeel sama aku? Aku kan tukang selingkuh."
"Ngapain ilfeel? Itu kan hak kamu. Seperti kata kamu kemaren, selama itu bukan laki-laki orang sih nggak masalah. Lagian sebelum janur kuning melengkung, kita bebas memilih orang, kok. Tapi memang sih, aku agak kaget kalau ternyata kamu seperti itu," terang Alfan.
"Fa, kalau menurutmu, aku laki-laki seperti apa?" tanya Alfan.
"Ehmm.. kamu itu ganteng, pintar, pokoknya idaman semua wanita deh. Profesi seorang dokter membuat nilaimu menjadi lebih, Mas. Apalagi kamu juga seorang wakil direktur rumah sakit. Siapa sih yang nggak bakalan klepek-klepek kalau ditatap kamu," ucapku jujur.
"Masak sih, tapi kenapa ya aku selalu kesulitan mendekati siapapun? Nggak seperti kamu, kamu malah bisa dapetin dua pacar sekaligus."
"Mungkin karena Mas Alfan sibuk bekerja, jadi Mas Alfan kesulitan buat nyari calon istri," tuturku.
"Tapi gimana nggak sibuk, Fa, kadang sehari saja aku bisa mengoperasi lima pasien. Bahkan terkadang satu pasien bisa operasi sampai empat jam. Padahal di rumah sakit sudah ada enam dokter yang berprofesi sama sepertiku."
"Segitu sibuknya kah jadi dokter, Mas? Kalau begitu Mas Alfan sering dong pulang malem?"
"Bukan sering lagi, tapi hampir tiap hari juga aku bisa pulang di atas jam 12 malam," jelas Alfan.
"Oh gitu.. Pantas saja sampai saat ini Mas Alfan nggak pernah pacaran. Oh iya, Mas, sebelumnya udah pernah ke taman wisata belum?" tanyaku basa-basi.
__ADS_1
"Belum, Fa. Aku penasaran sama tempat itu. Makanya aku ngajakin kamu kesana. Kalau kamu, pasti udah sering kesana, kan?"
"Pernah sih, tapi nggak sering juga. Disana tempatnya dibagi menjadi tiga, Mas. Kita bisa pergi ketiga tempat sekaligus, atau salah satunya juga bisa. Nanti sama petugas karcisnya bakalan ditanyain," terangku yang sudah pernah pergi ke taman wisata sebelumnya.
"Memangnya ketiga tempat itu apa saja? Jelasin dong biar aku nanti nggak kelihatan kikuk kalau beli karcis."
"Yang pertama, ada kebun binatang, tempat edukasi tentang anggota tubuh, dan wahana permainan anak kecil. Disitu kebanyakan pengunjungnya anak sekolah. Terus yang kedua adalah tempat wahana yang paling seru deh, ada roaller coaster, rumah hantu, terus ada kolam renang yang bisa dipakai semua usia. Bahkan anak kecil pun ada kolam renangnya sendiri," jelasku panjang lebar. "Ditempat yang ketiga, ada tempat wisata yang mirip seperti di korea-korea itu loh. Ada bunga sakura, perumahan yang bernuansa korea, kita juga bisa sewa kostum korea yang digunakan untuk jalan-jalan. Aku ingin sekali memakai pakaian korea seperti itu. Nanti kita kesana ya?" ajakku antusias.
"Kalau cuma memakai baju korea sama jalan-jalan ngelihatin bunga sakura, ya nggak seru lah, Fa," tolak Alfan.
"Nggak cuma bunga sakura aja kok, ada yang mirip seperti di belanda juga, yang ada kincir anginnya itu loh. Terus disana juga ada tempat bersalju. Kita bisa nyewa sepatu skating kalau kamu mau yang seru-seruan. Terus kalau malam ada tempat yang disana banyak lampion-lampion yang cantik dan lucu. Ada juga hotelnya kalau Mas Alfan mau menginap disana," jelasku panjang lebar.
"Banyak juga ya tempat wisata disana. Untung saja aku jemput kamu pagi-pagi sekali. Kalau gitu, ayo kita coba semua wahananya," ajak Alfan.
"Kita ke hotelnya juga?" tanyaku penasaran. Aku hanya penasaran apakah Alfan juga memiliki keinginan untuk menikmati tubuhku setelah mengajakku berjalan-jalan seperti laki-laki yang selama ini aku kenal.
"Ngapain ke hotel? Meskipun jarak rumah kita ke taman wisata hampir dua jam, kita nggak perlu menginap segala. Nanti Ibu kamu bakalan mencincang aku habis-habisan, kalau anak satu-satunya nggak dikembaliin hari ini juga."
"Polos banget sih kamu, Mas. Biasanya kalau laki-laki ditawari ke hotel, pasti akan iya-iya aja. Bukannya nolak kayak gini," ujarku dalam hati.
"Kamu takut ya sama Ibu aku? Ibu aku nggak menggigit loh," candaku.
"Aku cuma menghargai kamu sebagai wanita. Kamu jangan segampang itu ngomongin soal hotel ke setiap laki-laki yang kamu kenal, nanti kalau kamu diajak ke hotel beneran, gimana? Kasihan Ibu kamu, yang sudah berjuang sendirian sedari kamu kecil sampai sekarang ini."
Alfan memang laki-laki yang bisa menghargai aku sebagai wanita. Dia bahkan menghormati ibuku juga. Dia benar-benar laki-laki yang terlalu sempurna dimataku.
Entah kenapa, Alfan lebih cerewet ketika bersamaku. Dia selalu mengekspresikan apa yang ada dipikirannya dengan nyaman. Disaat kami berlima bertemu bersama di Cafe Deliche, Alfan tidak secerewet ini. Dia lebih banyak diam dan hanya mengucapkan kata seperlunya saja. Meskipun Elsa berusaha mengajaknya bicara, Alfan seperti tidak nyaman dengannya.
Aku sudah bertekad, meskipun memiliki Alfan adalah hal yang tidak mungkin aku dapatkan. Aku akan buat dia selalu nyaman berada disampingku. "Sekali lagi maafkan aku, Elsa. Setiap aku bertemu dengan Alfan, hatiku benar-benar tidak bisa dikontrol lagi. Aku akan berubah demi Alfan," ucapku dalam hati.
__ADS_1