Dialah Matahariku

Dialah Matahariku
Ch. 11. Maaf, Elsa...


__ADS_3

"Ayo kita pulang, Fa," ajak Alfan.


"Kenapa, Mas? kan ini masih jam 1. Nggak nanggung nih, padahal kita kan udah jauh-jauh kemari," ucapku penasaran. Aku benar-benar masih ingin menikmati keindahan pantai disini. Rasanya aku tidak ingin beranjak pergi ke tempat ini.


"Ayolah kita bisa jalan-jalan ke pemukiman desa. Aku bosan kalau hanya melihat-lihat air saja, aku penasaran banget disini."


"Ya udah ayo kita pergi," dengan terpaksa aku menyetujui ajakan Alfan.


"Kita mau kemana, Mas Alfan? Kan arah pulang seharusnya lurus bukan belok kiri," tanyaku was-was. Aku takut kalau aku dibawa ke tempat yang aneh-aneh.


"Kan aku udah bilang, kita jalan-jalan naik sepeda motor," ucap Alfan.


"Aku pingin ngikuti kendaraan di depan kita itu tuh. Kira-kira mereka mau kemana ya?" lanjutnya.


"Kalau kita kesasar nanti gimana?"


"Tenang aja kalau kesasar ya tinggal putar balik aja."


"Tapi...." perasaanku mengatakan seperti akan terjadi masalah yang menimpa kami. Semoga saja hanya firasatku saja.


"Kamu pegangan, Fa. Jalanannya mulai menanjak dan berbelok."


"Kok jalanannya jadi kecil begini, Mas? Nanti kalau kita berpapasan sama pengendara yang lain gimana?"


"Tenang saja, kita ikuti saja orang di depan. Kamu cukup nikmati saja pemandangan yang kita lewati. Gini-gini aku sering loh ikut touring sama temen-temen aku," ucap Alfan dengan entengnya.


Alfan memang lihai mengendarai kendaraannya. Tapi, jalanan yang kulewati semakin sempit dan berbelok. Kami seperti berkendara di gunung. Disebelah kananku terdapat perkebunan dengan pepohonan yang menjulang ke atas seperti hutan belantara. Sedangkan disebelah kiriku terdapat jurang yang sepertinya sangat dalam. Aku bahkan tidak berani menengok kesisi manapun.


"Aku takut, Mas. Ayo kita balik arah. Mending kita pulang aja," ajakku yang terus merapatkan peganganku. Aku sudah tak bisa memikirkan bagaimana perasaan Elsa saat ini kalau dia tahu aku sedang memeluk pinggang Alfan.


"Udah terlanjur nih. Udahlah kamu tetap tenang, nggak bakalan terjadi apa-apa kok sama kita."


"Tuh lihat disana pemandangannya bagus banget. Lautnya kelihatan indah banget. Aku yang sering touring aja belum pernah melihat pemandangan seindah ini."


Aku pun mengikuti ucapan Alfan melihat kesisi kiriku.

__ADS_1


"Wahhh... bener-bener surganya dunia. Aku bahkan belum pernah melihat pemandangan seperti ini," ucapku kagum.


Terlihat hamparan lautan yang membentang sangat luas. Dengan perpaduan warna biru dan hijau menjadikan air laut yang tampak berkilau seperti berlian. Ombak yang menggulung dengan sangat indahnya membuat kapal-kapal yang melewatinya terombang-ambing dengan cantiknya. Mataku benar-benar dimanjakan oleh keindahan alam disini.


"Mas, lihat deh disana ada air terjun yang dikatakan Bapak tadi," ucapku antusias.


"Iya kamu nikmati saja pemandangannya. Aku sedang fokus menyetir."


Ketika aku sedang menikmati pemandangan lautan, tiba-tiba Mas Alfan memberhentikan sepeda motornya. Kendaraan dibelakangku terpaksa juga ikut berhenti.


"Kenapa, Mas?" tanyaku penasaran.


"Kayaknya kita berpapasan dengan pengendara yang lain. Tadi ada bunyi klakson dari arah depan. Lihat tuh di depan ada dua sepeda motor yang sedang berusaha meminggirkan sepedanya."


"Kok gitu? Terus kita gimana nih?" aku kembali ketakutan.


Aku melihat sebelah kiriku lagi dengan perasaan ngeri. "Bagaimana kalau kita terjatuh masuk ke dalam jurang, pasti kita berdua akan langsung terjatuh sampai kelautan situ," ucapku dalam hati. Karena yang kulihat di bawah situ hanya air lautan yang kusangka sangat indah.


"Apa aku harus turun dulu dari sepeda ini?"


"Nggak usah kamu tenang aja jangan bergerak. Kita ikuti saja kendaraan di depan kita."


"Permisi," ucap Alfan sopan ketika melewati pengendara yang berpapasan dengan kami.


"Silahkan," jawab kedua orang itu.


Setelah sepeda motor kami melewatinya kulihat kedua pengendara itu melanjutkan perjalanannya. Sepertinya mereka penduduk sini. Mungkin mereka tukang ojek yang habis mengantarkan para penumpangnya untuk melihat air terjun yang membuat penasaran pengunjung untuk mendatanginya.


"Nah, akhirnya kita sampai. Mas, habis ini kita kemana ya kalau pingin ke pantainya?" tanya Alfan kepada tukang parkir yang sudah bersiap-siap menyambut kedatangan kami semua.


"Mas sama Mbak tinggal ikuti saja jalan menurun disitu. Nggak jauh kok mungkin perjalanan sekitar 5 menitan."


"Oh ya sudah, terima kasih, ya."


"Iya sama-sama," ucap si tukang parkir pergi setelah memberikan karcis parkir.

__ADS_1


"Ayo, Fa, kita kesana."


"Bentar, Mas, aku ambil nafas dulu. Aku tadi bener-bener ketakutan lewat jalan tadi."


"Ya udah ayo kita beli minuman dulu di kedai situ," tunjuk Alfan.


"Mending kita tadi naik perahu saja daripada melewati jalanan yang bikin jantung mau copot," ucapku ngeri. Tapi kalau dipikir-pikir lagi mending tidak usah keduanya karena dua-duanya sama-sama beresiko tinggi.


"Kan tadi aku udah nawarin kamu buat naik perahu."


"Tapi kan aku seperti orang mabuk kalau naik perahu. Perutku bisa mual dan kepalaku pusing kalau naik perahu."


"Ya udah berarti bener kita tadi naik sepeda motor aja lebih seru."


"Mas Alfan emang nggak takut tadi?"


"Nggak lah, kalau Mas takut, siapa yang akan nenangin kamu kalau kamu nangis."


"Heheehee... iya juga, ya."


Aku dan Alfan akhirnya sampai juga ditempat yang kita tuju, Pantai Coban. Benar kata temanku, ada air terjun yang langsung mengalir ke pantai. Ternyata disini lebih banyak pengunjung daripada di pinggiran pantai tadi. Pantas saja disana kenapa sangat sedikit pengunjung yang menjelajahi pantai seperti aku dan Alfan tadi. Ternyata banyak pengunjung yang lebih menikmati pantai disini. Bahkan masih banyak perahu yang datang dan pergi ke pantai ini.


"Shifa, kamu mau nggak mandi di bawah air terjun kayak mereka?"


"Malu lah, Mas. Lagipula aku nggak bawa baju ganti."


"Kamu pakai aja jaketku dulu. Nanti kalau kita ketemu toko baju, aku beliin baju deh buat kamu. Aku tadi lihat ada toko pakaian di sekitar rumah Bu Kus."


"Tapi Mas..."


Tanpa persetujuanku tiba-tiba Alfan menarik tanganku. Aku dan Alfan menikmati air yang sangat menyegarkan berjatuhan ke tubuh kami. Aku melihat Alfan dengan sangat kagum. Dia seperti bukan seorang dokter ketika bersamaku. Tertawa terbahak-bahak ketika aku menceritakan kisah lucu atau melihat aku bertingkah yang menurut dia lucu, berani menceritakan tentang kisahnya tanpa jaim sama sekali, dan saat ini bahkan dia berani memegang tanganku tanpa rasa malu.


Dia juga berbeda dengan laki-laki yang selama ini aku kenal. Dia baik hati mau menolong orang yang terlihat kesusahan meskipun tidak dia kenal, selalu sholat dimanapun dia berada, bahkan sebelum kita berangkat dia sholat di mushola dekat pemukiman warga. Dan yang paling aku suka dari dia adalah dia tidak pernah memandangku dengan rendah. Tidak seperti laki-laki pada umumnya yang selalu mengajakku tidur, dia hanya berani memegang tanganku saja. Aku kagum dengan segala pemikirannya yang sangat keren itu.


"Fa, nggak sia-sia ya kita kesini. Pantai disini bener-bener indah banget. Setelah melewati perjalanan yang mengerikan tadi, itu sih nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan pemandangan yang kita dapat. Aku bakal rekomendasiin tempat ini ke semua kolegaku. Aku bakal ajak rekan-rekan di rumah sakit untuk pergi kesini ketika liburan akhir tahun nanti," ucap Alfan bangga.

__ADS_1


Aku yang mendengar ucapan Alfan merasa sangat berterima kasih terhadap temanku yang merekomendasikan tempat ini.


"Kali ini maafin aku, Elsa. Aku juga mencintai Alfan seperti kamu. Akan aku buat Alfan mencintaiku juga," ucapku dalam hati.


__ADS_2