Dialah Matahariku

Dialah Matahariku
Ch. 21. Aku hanya adik baginya


__ADS_3

Setelah aku mendapat sms dari Reno semalam, aku jadi malas lagi untuk berangkat ke kampus. Aku berniat untuk tidak masuk kuliah hari ini. Tapi ibuku berkata, "Kalau kamu jarang masuk kuliah, Ibu bakalan nikahin kamu sekarang juga!" membuatku bergegas pergi ke kampus.


Entah kenapa, aku masih ngeri mendengar dengan kata nikah. Seringkali tubuhku dimanfaatkan laki-laki, membuatku pesimis akan pernikahan. Apalagi calon suamiku nantinya, mungkin dia akan marah besar kepadaku karena seringnya aku bermain dengan laki-laki lain.


Di kampus, ternyata Nela tidak masuk kuliah. Dia bilang selama satu minggu ini dia mau liburan ke luar negeri. Jadi tinggal Elsa sahabatku yang akan menemaniku di kampus.


"Kenapa, Sa? Selama dosen ngasih materi, kamu kayaknya nggak fokus deh." Selain aku yang memiliki masalah dihidupku, sepertinya Elsa juga sedang menghadapi masalah.


"Gimana ya, Fa, cara mengambil hati Alfan supaya bisa melirik aku?" tanya Elsa lesu.


"Memang selama ini bagaimana hubungan kalian?" tanyaku balik. Aku tahu, sebenarnya hubungan mereka berdua nggak ada kemajuan. Alfan sendiri bilang, kalau dia tidak tertarik dengan Elsa, meskipun Elsa sudah berubah menjadi wanita yang lebih cantik dan dan elegan seperti keinginan Alfan.


"Alfan susah diajak ketemu. Aku tahu dia sibuk, tapi dia itu terlalu cuek dengan aku. Aku chat juga jarang dibales. Apa mungkin dia nggak suka sama aku ya?"


"Jangan ngomong begitu, coba dideketin lebih semangat lagi. Siapa tahu bisa nyantol," saranku.


"Nah, itu yang aku bingung. Gimana cara deketin dia kalau tiap aku aja ketemu pasti banyak alasan."


"Elsa, kenapa kamu nggak coba sholat istikharah aja biar tahu dia jodoh kamu atau bukan. Daripada kamu berusaha deket sama dia mati-matian, tapi ternyata dia bukan jodoh kamu, kan rugi."


"Gitu ya, Fa. Coba deh nanti malem aku bakalan sholat istikharah. Semoga saja dia jodohku. Karena aku terlanjur jatuh cinta sama dia," kata Elsa yakin.


"Kalau misalnya dia bukan jodoh kamu gimana?" tanyaku penasaran.


"Jangan ngomong gitu, Fa, pokoknya Alfan harus jadi calon imamku. Dia itu kan paket sempurna, baik iya, tampan iya, profesinya juga menjanjikan buat dijadiin suami."


Elsa memang benar jika mengatakan kalau Alfan itu paket komplit, calon suami idaman. Apanya yang kurang dari dia? Mungkin dia malaikat berwujud manusia.


Ketika aku sibuk membicarakan Alfan dengan Elsa, tiba-tiba dia sms aku. Sepertinya dia memiliki semacam indra ke enam, tahu aja kalau aku sedang membicarakannya.


Sedang apa? Kuliah ya?


Aku pun membalas sms dari Alfan dengan sembunyi-sembunyi supaya Elsa tidak curiga.


Lagi jam istirahat. Ini lagi ngobrol sama Elsa. Mas Alfan lagi ngapain? Nggak kerja?

__ADS_1


"Sms dari siapa, Fa? Kok senyum-senyum gitu?" celetuk Elsa tiba-tiba.


"Dari cowok yang pernah aku ceritain itu loh. Yang nyuruh aku buat berhijab." Aku yang agak kaget, menjawab sekedarnya dengan dibumbui sedikit kebohongan.


Capek, habis operasi pasien kecelakaan. Emang lagi ngobrolin apa sama Elsa? Pasti nge**ghibah tentang cowok ya?


Alfan membalas smsku lagi. Di situasi semacam ini, membuatku merasa awkard, aku merasa tidak nyaman karena kebohonganku untuk menutupi kedekatanku dengan Alfan.


Belum juga aku sempat membalas sms itu lagi, Bel sudah berbunyi menandakan waktu pelajaran mata kuliah selanjutnya sudah siap dimulai.


"Ayo, Shifa!" ajak Elsa.


"Ayo!" Aku dan Elsa berjalan memasuki ruangan tempat aku mencari ilmu.


Setelah kuliah usai, aku dan Elsa saling berpamitan karena Elsa sudah dijemput ayahnya. Aku merasa iri dengan kedekatan Elsa dan ayahnya. Aku tidak pernah bisa merasakan kehangatan pelukan sang ayah. Karena semenjak kecil, aku sudah ditinggal oleh ayahku ke tempat yang sangat jauh.


Ketika aku asyik berjalan di pinggir jalan untuk mencari angkot yang lewat, tiba-tiba ada yang memegang tanganku. "Siapa yang berani pegang tanganku tiba-tiba seperti ini? Jangan-jangan ini tangan Reno. Mungkin dia ingin minta penjelasan karena semalam aku memblokir nomornya," tanyaku dalam hati.


"Shifa!" sapa seseorang yang suaranya sangat aku kenal.


"Mau jemput kamu lah, kan aku tadi udah sms kamu."


"Kapan?" Aku pun mengambil handphone di dalam tasku untuk melihat sms dari Alfan. Benar juga, ada dua panggilan tak terjawab dari Alfan dan tiga chat yang tidak aku balas.


"Buka handphone-nya nanti aja di dalam mobil. Yuk kita masuk ke dalam mobil," ajak Alfan.


Aku mengekori Alfan untuk masuk ke dalam mobilnya. Rasa kaget bercampur bahagia menyelimuti hatiku saat ini. Aku kaget karena tiba-tiba Alfan berada di kampusku, tapi aku juga sangat bahagia karena tiba-tiba dia berada disampingku saat ini.


Kok nggak dibalas?


Shifa, hari ini kamu pulang jam berapa?


Aku jemput kamu ya.


Ku baca berkali-kali sms dari Mas Alfan yang baru saja aku tahu. Karena selama jam kuliah tadi, handphone aku silent karena aku tidak mau bunyi handphone yang bisa mengganggu konsentrasiku.

__ADS_1


"Kamu pasti sibuk di kampus, sampai-sampai sms dan teleponku nggak kamu jawab," ujar Alfan.


"Iya, Mas, handphone-ku tadi aku mode silent. Dosenku hari ini galak-galak semua," cetusku beralasan.


"Mas Alfan kenapa tiba-tiba kesini? Emang Mas Alfan nggak sibuk?" lanjutku.


"Aku pingin ngelihat kamu."


Deeegggg... perkataan Alfan lagi-lagi membuatku terbayang melayang ke angkasa. "Mungkinkah dia juga suka kepadaku?" Pertanyaan itulah yang selalu mengganggu pikiranku.


"Lagian aku saat ini ingin makan di restoran favorit aku. Kamu mau kan nemenin aku makan?" lanjut Alfan.


"Cuma nemenin doang nih? Jadi aku dijemput biar bisa ngelihatin Mas Alfan makan seafood?" candaku.


"Ya nggak lah kamu ikut makan juga. Masak kamu cuma ngelihatin aku doang. Nanti cacing-cacing diperutmu pada protes lagi," canda Alfan balik.


"Hehehe.. tahu aja Mas Alfan kalau perutku gampang lapar."


"Tentu saja, kan aku udah anggap kamu sebagai adik. Aku harus tahu dong kebiasaan adikku, makanan apa aja yang adikku suka, ya kan?"


"Adik lagi? Kenapa cintaku bisa terjebak dalam kakak-adik zone begini sih?" ucapku dalam hati. Entah sampai kapan Alfan akan terus menganggapku sebagai adik, aku akan terus berusaha memasuki hatinya lebih dalam lagi.


"Iya, betul itu. Oh iya, berarti malam ini Mas Alfan free dong?" tanyaku basa basi.


"Nggak juga. Nanti aku ada jadwal operasi jam sepuluh malam."


"Malem banget?!" seruku kaget. "Terus pulangnya jam berapa dong?"


"Ya kalau operasinya sudah selesai aku bisa pulang," jawab Alfan enteng.


"Tuh restorannya sudah kelihatan. Kita makan disitu ya," lanjutnya.


"Oke, terserah Mas Alfan aja."


Kasihan Alfan, dia hari ini lembur. Mungkin sudah sering dia melakukan lembur karena tuntutan pekerjaannya. Aku menjadi bersyukur karena aku dulu tidak mengambil jurusan kedokteran. Selain biayanya yang mahal, pasti aku akan sering lembur seperti Alfan kalau sudah bekerja di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2