
"Servisan kamu benar-benar enak banget, Sayang," puji Dito.
"Tapi hari ini cuma sekali aja ya. Aku benar-benar capek banget," keluhku. Tentu saja aku kelelahan. Setelah kemaren aku dihajar habis-habisan, sekarang Dito malah minta lagi. Apalagi punya Dito itu kuat banget, hampir satu jam melakukannya, kepunyaan Dito baru bisa tidur. Sepertinya sebelum Dito berjumpa denganku, dia minum obat kuat.
"Baiklah, nggak apa-apa aku maklumin. Ya udah, sekarang kamu mau makan di mana?" tawar Dito.
"Di cafe hotel aja deh mendingan. Habis itu kita pulang ya," pintaku kepada Dito.
"Kamu yakin nih, nggak lanjut jalan ke mall? Biasanya kamu suka ngajakin aku ke mall," ucap Dito sambil sibuk dengan ponselnya.
Entahlah, biasanya aku paling suka minta belanjaan ke Dito. Meskipun umur kami rentangnya sangat jauh, hampir dua puluh tahun perbedaan umur kami. Tapi aku enjoy aja jalan dengan Dito. Walaupun mungkin banyak orang yang berbisik di belakangku.
Tapi entah kenapa setelah aku bertemu Alfan, aku mulai sedikit ilfeel sama Dito. Aku mulai menyadari, bagaimana selama ini aku bisa tahan tidur dengan orang seumuran ayahku? Bagaimana bisa aku jalan dan bergandengan tangan dengan orang yang lebih tepatnya aku panggil om ini?
"Nggak, Sayang, aku hari ini bener-bener capek," tolakku yang masih menggunakan selimut.
"Ya udah kamu mandi dulu sana," suruh Dito. Dito mulai mendekatiku dan mulai membisikkan sesuatu di telingaku, "Tapi aku sebenarnya masih kangen banget sama kamu."
Geli rasanya, setelah telingaku dibisiki olehnya. Ingin segera aku menjauh darinya tapi ku urungkan niatku setelah mendengar ucapannya yang membuatku bersemangat, "Aku udah transfer uang ke rekening kamu," ujar Dito.
Ku lihat handphone-ku yang bergetar, menandakan ada pesan yang masuk. Setelah aku cek, ternyata benar apa yang dikatakan Dito. Dia sudah mengirimiku uang senilai tiga puluh juta rupiah yang dia sebut sebagai "uang jajan" untukku.
"Wah ... terima kasih ya," ucapku senang.
"Tentu saja, kalau gitu kamu mandi dulu sana. Aku masih mau menelepon seseorang," perintah Dito. Aku pun mengikuti instruksi Dito dengan perasaan yang sudah lebih baik dari sebelumnya. Uang transferan dari Dito sukses membuatku terbang di atas angin. Dito sangat tahu, bahwa aku tidak bisa hidup tanpa uang. Aku hanya tidak ingin kekurangan uang seperti dulu lagi.
"Kamu yakin bisa habisin ini semua?" tanya Dito tak percaya.
"Iya, spaghetti di sini kan porsinya cuma sedikit. Makanya aku pesen dua porsi buat aku," jawabku santai.
__ADS_1
Karena selama ini aku berusaha tampil elegan di depan Dito, membuat Dito jadi terheran-heran melihatku makan dua porsi spaghetti carbonara. Padahal selama ini ketika aku bersama Dito, aku memang menyembunyikan kebiasaan burukku yang doyan makan. Tapi karena saat ini aku kelaparan, cacing-cacing di perutku tidak bisa diajak kompromi lagi.
"Apa selama ini kamu memang makannya banyak?" tanya Dito.
"Enggak kok, cuma kan aku sekarang kehabisan tenaga karena habis ngelayanin kamu tadi di atas ranjang. Makanya sekarang aku mau makan yang banyak, supaya tenagaku bisa pulih lagi," jawabku beralasan.
"Oh iya, Sayang, nanti bungkusin buat Ibu aku juga ya," pintaku.
"Iya, terserah kamu aja."
"Terima kasih, Sayang." Aku mulai memakan lagi makanan yang ada di hadapanku saat ini.
"Oh iya, bulan depan anakku sudah memasuki liburan sekolah loh. Kamu mau nggak ketemu sama anakku? Biar sekalian kamu bisa kenalan sama dia."
"Kenapa baru sekarang? Di saat aku sudah tidak ingin menjalin hubungan yang serius, Dito malah ingin memperkenalkanku dengan anaknya," gumamku dalam hati.
"Ya kita coba aja, kalau anakku bisa cocok sama kamu, kenapa enggak?"
"Mana ada gadis yang mau menikah dengan laki-laki seusia ayahnya?" gumamku lagi.
Mungkin dulu sebelum aku mengenal Alfan, aku tak mempermasalahkan siapa suamiku kelak, asal dia kaya raya. Tapi setelah aku mengenal Alfan, standartku tentang calon imamku berubah. Aku ingin memiliki suami yang bisa membimbingku ke jalan yang benar. Dan aku ingin memiliki suami yang tak terpaut jauh usianya. Kalau masalah kaya, mungkin aku juga akan memikirkannya. Tapi laki-laki yang kaya sudah bukan prioritasku lagi. Aku ingin berubah.
"Kita lihat nanti aja ya," jawabku.
"Kenapa kamu kayak nggak suka gitu? Padahal dulu kamu yang ngebet banget supaya ditemuin sama anak aku?"
Aku berpikir lama, "Bukannya nggak suka, hanya saja bulan depan sepertinya aku sangat sibuk. Karena usaha aku jualan tas secara online, sudah mulai banyak pelanggan," jawabku seadanya.
"Kamu jualan tas online? Kok aku nggak tahu? Apa uang yang aku berikan masih kurang juga?" tanya Alfan tak percaya.
__ADS_1
"Ah ... benar juga. Aku tidak pernah cerita apa-apa tentang usahaku ini kepada Dito," lirihku pelan.
"Bukan begitu. Ibuku mulai curiga bagaimana aku bisa memiliki uang untuk membayar SPPku tiap semester. Makanya aku pura-pura aja jualan online." Aku berusaha membuat-buat alasan supaya Dito tak menanyaiku lebih detail.
"Ya sudah. Kalau kamu kekurangan uang, kamu tinggal bilang aja. Asalkan tiap aku minta kamu selalu ada untuk menemaniku dan kamu menyanggupinya, berapapun uang yang kamu butuhkan akan aku penuhi."
"Serius nih?"
"Beneran. Memang uang yang selama ini aku kasih masih kurang atau bagaimana?" tanya Dito.
"Nggak sih. Uang yang kamu kasih, sebagian untuk aku bayar kebutuhan kuliah dan sebagian lagi aku tabung."
"Kenapa kamu tabung? Memang kamu nggak butuh jajan? Kartu kredit yang aku kasih juga jarang banget kamu gunakan. Memangnya kenapa?" Pertanyaan Dito membuatku bingung bagaimana harus menjawabnya. Bukankah dia beruntung karena aku jarang menggunakan kartu kredit yang dia berikan? Kenapa dia malah menginterogasiku.
"Kalau setiap hari aku belanja, takutnya Ibu aku malah makin curiga. Aku nggak siap jika Ibuku tahu bagaimana kelakuan anaknya di belakangnya sekarang," jawabku jujur.
"Udah yuk, kita pulang sekarang." Aku mencoba mengalihkan perhatiannya supaya dia tidak melulu menanyaiku. Aku tidak suka jika ada orang yang terlalu ikut campur dengan urusanku.
"Ya sudah, aku bayar dulu ya." Dito pun memanggil si pelayan untuk membayar makanan yang kami pesan.
"Kamu sekarang menjalin hubungan cuma sama aku saja kan?" Dito mulai bertanya-tanya tentang keseriusanku dengannya.
"Iya, memang sama siapa lagi," jawabku
santai. Tentu saja aku tidak berbohong, karena memang saat ini status pacaranku hanya dengan Dito. Dengan Reno, aku juga baru saja putus. Sedangkan dengan Alfan, aku hanya dianggap adik olehnya.
"Bagus kalau begitu, kamu nggak boleh sama siapapun selain aku ya?" Aku menganggukkan kepalaku dengan terpaksa. Bagaimana bisa dia menyuruhku hanya dengan dia, sedangkan bertemu saja satu bulan sekali.
"Iya."
__ADS_1