Dialah Matahariku

Dialah Matahariku
Ch. 20. Online shop


__ADS_3

Kami berdua masih asyik berada di kantin kampus. Seharusnya sekarang kami ada jadwal kuliah, namun dosen yang mengajar tidak masuk karena ada kesibukan di luar negeri. Akhirnya kami hanya disuruh mengerjakan tugas untuk dikumpulkan minggu depan.


"Gimana, Fa, kamu udah posting tas-tas yang mau kamu jual?" tanya Elsa.


"Udah nih, aku juga udah kasih harga biar kalau ada yang naksir barang daganganku, mereka nggak tanya-tanya harga lagi. Tapi ini aman kan, Sa? Takutnya penipuan lagi, karena aku dulu pernah belanja online dan aku sempet ketipu satu jutaan lebih."


"Aman kok tenang aja. Tas yang aku pakai ini juga dapet belanja dari online shop itu," kata Elsa.


"Enak ya zaman sekarang kalau mau jualan bisa dropship. Orang-orang dulu kalau pingin jualan pasti ribet banget. Harus punya modal banyak, beli barang di agen yang pasti tempatnya jauh, habis itu dijual di tempat yang ramai biar ada yang beli, belum lagi masih ada yang nawar pula," terang Nela panjang lebar.


"Iya aku setuju sama kamu. Makanya Mama aku kalau marah-marah pasti bilangnya gini, 'enak kamu, Sa. Dulu zaman Mama mana ada gadget, kalau mau beli pakaian ya harus ke pasar. Udah gitu kadang naik delman atau becak. Bisa seharian baru nyampek rumah, karena jarak rumah ke pasar juga jauh.' Gitu sih kata Mama aku."


"Kamu kenapa nggak coba posting jajanan Ibu kamu juga, Fa? Siapa tahu banyak yang tertarik," pungkas Nela.


Belum juga aku sempat menjawab, mataku tiba-tiba melihat orang yang saat ini sangat aku benci, Reno. Dia sedang menuju kemari, kantin kampus, bersama teman-temannya. Sepertinya mereka baru saja istirahat.


"Ayo kita ke taman," ajakku geram. Aku masih ingat bagaimana dia menghinaku saat itu. Tak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun ucapan dia yang menyayat hatiku.


"Kenapa?" tanya Elsa.


"Ngapain sih?" tanya Nela yang hampir bersamaan dengan Elsa.


"Nggak apa-apa." Aku pun buru-buru pergi dari tempat ini. Aku nggak mau melihat sehelai rambut milik Reno. Elsa dan Nela juga mengikutiku pergi.


"Hai Shifa... " sapa teman-teman Reno.


Aku berlalu pergi tanpa mengindahkan sapaan mereka. Bagiku, mereka tak ubahnya seperti Reno, menjengkelkan!


"Shifa, kamu yang tenang dong. Masak cuma gara-gara ketemu Reno aja muka kamu jadi kayak kepiting rebus sih," komentar Elsa.

__ADS_1


"Iya yang sabar dong. Tarik napas pelan-pelan... terus keluarkan...."


Aku mengikuti instruksi Nela beberapa kali sampai hatiku tenang. "Ihh... sebel aku sama dia. Tahu gini aku nggak bakalan mau pacaran sama cowok satu kampus. Bikin darah tinggi aja tiap ketemu!" jeritku marah.


"Udahlah yang lalu biarkan berlalu. Biar kamu bisa segera hilangin badmood kamu, gimana kalau nanti kita pergi ke mall?" ajak Nela.


"Nggak bisa. Hari ini aku udah ada janji sama Bu Retno," lirihku kecewa.


"Gimana kalau besoknya aja? Sebelum kamu putusin hubungan kamu dengan Pak Direktur itu, kamu bisa pakai credit card yang dia berikan sepuasnya. Lagipula kalau kalian jadi putus, pasti credit card-nya bakalan diminta balik," saran Nela.


"Bener juga kamu, Nel. Ya udah besok kita jalan-jalan ke mall. Aku deh yang belanjain," ucapku setuju.


Semenjak aku mengenal Dito, dia memberikan aku credit car**d dengan limit yang menurutku besar sebagai imbalan karena dia merasa puas dengan servisan-ku. Sejujurnya, aku juga ditawari tinggal di apartemen yang mewah dan juga diberikan mobil yang sangat mahal. Tapi aku menolaknya, karena aku bingung bagaimana menjelaskan kepada ibuku jika aku memiliki semua kemewahan dalam sekejap. Dito mengerti dengan penolakanku. Sebagai gantinya, Dito memberikan aku uang rutin tiap bulannya dan memberikan credit card supaya aku bisa berbelanja sesuai keinginanku.


"Nel, kasih saran yang bener dong. Ajakin Shifa sholat biar hatinya lebih tenang. Bukannya ngajakin nge-mall mulu tiap hari," protes Elsa.


"Nggak apa-apa kali, Sa. Mumpung belum nikah, puas-puasin dulu belanjanya. Nanti kalau sudah nikah dan punya anak, mana sempat mau belanja. Bisa keramas tiap hari aja Alhamdulillah banget," sergah Nela.


"Nggak mau!" jawab Elsa.


"Ayo!" seru Nela.


Akhirnya kami tidak jadi pergi kemanapun karena kami sibuk mendebatkan hal sepele. Begitulah sahabat, kadang berantem, kadang juga saling ngasih support kalau ada salah satu yang drop. Aku bersyukur memiliki mereka disisiku. Dan di satu sisi aku juga merasa bersalah karena merebut apa yang diinginkan Elsa.


********


"Assalamu'alaiku, Bu!" seruku ketika memasuki rumah.


"Wa'alaikumsalam," ucap ibu dan Bu Retno yang ternyata sedang menungguku.

__ADS_1


"Shifa, kata Ibu kamu, kamu jualan tas. Sini aku mau lihat, dari kemaren kepingin banget beli tas, tapi nggak ada yang nemenin ke mall," terang Bu Retno.


"Bentar, Bu Retno, saya ambil handphone dulu di tas." Aku pun mengambil handphone milikku di saku tas bagian depan. Bu Retno mulai melihat-lihat tas yang aku rekomendasikan kepadanya.


"Untung saja tadi aku nanyain ke Elsa tentang tas. Kalau nggak gitu, gimana aku bisa menghadapi Bu Retno seperti sekarang," bisikku dalam hati.


"Aku pesen yang ini dong, kayaknya bagus deh. Kira-kira berapa hari nyampe kesini?" tanya Bu Retno.


"Tiga sampai lima hari, Bu Retno. Bisa kok diantar nyampek rumah Bu Retno langsung."


"Beneran nih, kalau gitu aku mau yang ini juga dong buat anakku. Tapi uangnya besok ya, Fa, aku titipin ke Ibu kamu."


"Iya, Bu Retno, nggak apa-apa kok kalau mau dititipin ke Ibu. Totalnya Rp 556.000 ya, Bu."


"Tapi ini beneran bagus kan, Fa?" tanya Bu Retno takut.


"Iya, Bu, temenku kuliah sering pesen di aku kok. Nih salah satu temenku yang pakai tas yang pesen di aku," ucapku sambil menunjukkan foto Elsa tadi di taman kampus.


"Wah.. bagus juga. Kalau punyaku nanti bagus, aku bakalan rekomendasiin ke temen-temen arisan aku deh, Fa."


"Makasih ya, Bu Retno. Ya udah aku mandi dulu ya, badanku baunya nggak banget nih. Bu Retno silakan ngelanjutin ngobrolnya sama Ibu," kataku pamit.


Aku yang belum sempat ke kamar mandi mendapatkan notifikasi pesan dari handphone-ku. Kulihat ternyata Reno yang mengirimiku pesan. "Untuk apa dia menghubungiku lagi?" tanyaku dalam hati.


Shifa, apa kamu nggak bisa maafin aku? Aku nggak enak kalau merasa canggung kayak gini di kampus.


Aku tak habis pikir dengannya. Kemaren-kemaren dia menghinaku habis-habisan. Tapi sekarang? Dia tiba-tiba menghubungiku duluan.


Maaf Reno, buat kamu, nggak ada kata-kata yang mau aku ucapkan lagi. Aku lebih suka yang sekarang. Putus dari kamu adalah pilihan terbaik untukku. So, jangan hubungi aku lagi. Bye!

__ADS_1


Aku segera memblokir nomor Reno setelah ku balas pesannya agar dia tidak bisa menghubungiku lagi. Memangnya aku cewek apaan? Sudah dihina begitu kejamnya, sekarang masih juga menghubungiku lagi. Cuihh.. tak sudi aku dengar suaranya.


__ADS_2