Dialah Matahariku

Dialah Matahariku
Ch. 12. Awal kehancuran hubunganku


__ADS_3

Di kantin kampus...


"Hai guys, lagi makan apa kalian? Tumben nih dateng duluan," sapaku.


"Kamu mau, Fa, sana kamu pesen deh makanan yang kamu mau, biar aku hari ini yang bayarin," kata Nela.


"Wah... beneran nih?" tanyaku sumringah.


"Bu, aku pesen tahu telor kayak biasanya ya, jangan lupa jus alpukatnya!" seruku kepada ibu kantin.


"Siap, jeng!" balas ibu kantin.


"Elsa, kenapa wajah kamu kelihatan murung?" tanyaku penasaran.


"Kayaknya Alfan tetep nggak suka sama aku deh. Tiap kali aku chat dia balasnya cuma iya, nggak, udah gitu aja mulu dari kemaren-kemaren. Padahal aku udah berubah seperti ini juga demi dia bisa suka sama aku."


"Memang, cowok itu susah ditebak. Suka banget bikin hati kita para wanita dibuat tarik ulur. Awalnya sih baik, tapi giliran kita kasih hati, dia malah kabur" tutur Nela.


"Ya gimana ya, aku juga nggak pernah pacaran sama dokter sih. Jadi aku juga nggak bisa ngasih solusi apa-apa. Gimana kalau kamu ajak dia ketemuan? Kamu tanya dia maunya apa, terus bilang aja kalau kamu ada rasa sama Alfan."


"Nggak mau lah, Fa. Aku sebagai cewek ya malu dong kalau harus ngomong suka duluan ke cowok. Mau taruh dimana muka aku kalau misalnya aku ditolak."


"Iya nih, Fa, kamu kalau ngasih saran kok yang aneh gitu."


"Lha dari pada kayak gini terus, kitanya nggak tahu perasaan dia kayak gimana, kan. Atau kalau kamu ada waktu luang, kunjungi aja dia di rumah sakit pada saat jam istirahatnya dia," ujarku.


Meskipun aku juga menyukai Alfan, tapi aku harus bersikap biasa saja di depan Elsa. Aku tahu perasaanku ini salah, tapi aku juga nggak bisa terus membohongi perasaanku. Ini kali kedua aku merasakan jatuh cinta dengan seorang laki-laki dan aku takkan membiarkan cintaku ini sia-sia seperti kisah cintaku dengan Ariel.


"Selamat pagi cewek-cewek yang cantik-cantik," sapa Reno yang tiba-tiba datang.


"Kamu ada jam kuliah pagi ini, Ren?" tanya Nela.


"Iya, aku ada mata kuliah Pak Edi Sujatmoko. Kalian juga ada jam kuliah pagi, ya?"


"Iya dong, kalau nggak ada jam kuliah, ngapain juga kita-kita berangkat pagi. Mendingan tidur di rumah, lebih enak," ucap Nela.

__ADS_1


"Sayang, kok kamu diem aja. Nonton ke bioskop yuk sepulang kuliah?"


"Ke bioskop mulu, kapan ke pelaminannya?" sindir Nela.


"Apaan sih, Nel. Kami nggak ada rencana ke jenjang lebih serius. Kami masih mengejar impian dan masa depan masing-masing, ya kan, Ren?"


"Iya dong, kalau aku udah dapat pekerjaan yang mapan, aku pasti bakal lamar kamu," gombal Reno.


"Kalau kayak gitu ceritanya sih, pasti Shifa keburu diambil orang. Emang kamu nggak takut?" goda Elsa.


Reno hanya diam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Aku takut karena provokasi Elsa dan Nela, Reno jadi berpikir yang aneh-aneh. Aku saat ini tidak ingin menjalin hubungan yang serius dengan siapapun. Aku masih belum siap jika suatu saat aku menikah, suamiku akan menghinaku habis-habisan karena ketidakperawananku.


"Krish gimana kabarnya, Nel? Kemaren aku chatting-an sama dia. Dia bilang kamu dan dia jarang ketemu, iya kah?" tanyaku mengalihkan perhatian.


"Iya, Fa, aku udah berusaha mendekati dia. Tapi dia sulit diajak ketemu. Setelah pertemuan kita yang pertama, aku sama Krish cuma sekali bertemu lagi."


"Terus kamu mau nyerah, Nel?"


"Ya nggak lah, seperti kata kamu waktu itu, aku bakal tiap hari sms dia dan nanyain kabar dia. Dia masih respon kok sama sms aku."


"Mungkin semua dokter memang seperti itu kali, Fa, sifatnya dingin, cuek dan nggak bisa diajak bercanda. Yang mereka omongin pasti hal-hal yang serius," pungkas Nela.


"Nggak juga sih, ada kok dokter yang sifatnya hangat dan bisa diajak bercanda," ucapku.


"Kamu tahu darimana, Fa? Kata kamu, kamu nggak pernah pacaran sama orang yang berprofesi dokter."


"Kan aku pernah kenalan sama dokter juga, meskipun nggak pacaran. Yang penting kalau kita memang suka sama seseorang. Kita harus berpikir gimana caranya bikin orang itu biar nyaman sama kita," jelasku. Aku hampir saja keceplosan mengatakan kalau aku mengenal Alfan.


"Duh.. mentang-mentang playgirl, jadi hafal deh gimana caranya menggaet cowok. Aku ajarin dong, biar Alfan melirik aku," goda Elsa.


"Emang kamu playgirl, Sayang? Berarti bukan cuma aku dong yang sekarang jadi pacar kamu?" tanya Reno.


Aku, Nela dan Elsa menjadi gelagapan dengan pertanyaan Reno. Kami semua lupa bahwa Reno ada disebelahku dari tadi.


"Bukan gitu, Ren. Dulu Nela pernah cerita kalau dia punya memacari dua cowok sekaligus ketika masih SMA. Makanya kita berdua suka goda dia dengan menyebut playgirl, iya kan, Elsa?" tukas Nela.

__ADS_1


"Iya-iya bener," ucap Elsa setuju.


"Lagian mana mungkin sih aku duain kamu. Kan kita tiap hari bertemu di kampus, kecuali hari libur."


"Ya udah, aku kira kamu menduakan aku. Padahal kan kamu tahu sendiri, aku selalu mencintai kamu."


"Iya, Sayang, cuma kamu yang aku punya," ucapku menyetujui perkataan Reno.


***********


"Menurut kamu, seru nggak film tadi?" tanya Reno sambil melahap ayam goreng.


"Bagus kok, ceritanya seru. Alurnya juga nggak ngebosenin," jawabku.


"Gimana kalau setelah ini kita ke tempat kost aku, kita kan udah lama nggak gituan?" ajak Reno.


"Nggak mau lah, hari ini aku capek."


"Kok kamu selalu nggak mau sih aku ajak gituan? Sudah satu bulan loh kita nggak berduaan."


"Aku males, aku juga capek. Kamu tahu sendiri kan, semakin hari tugas kuliah aku semakin banyak."


"Kamu selalu saja banyak alasan tiap kali aku ajak berduaan. Apa mungkin benar kata sahabatmu tadi, kalau kamu punya laki-laki lain?"


"Ya nggak gitu juga kali, aku cuma capek aja. Aku bosen kalau tiap ketemu pasti ngajakin tidur bareng. Kamu aja nggak pernah ngasih aku apa-apa," tuturku kesal.


Semenjak mengenal Alfan, aku mulai bosan dengan hidupku sendiri yang selalu saja ditiduri laki-laki. Aku ingin berhenti dari kebiasaan buruk ini. Tapi kalau aku sepenuhnya berhenti, siapa yang akan memberiku uang nanti?


"Oh gitu ya, sekarang kamu mulai matre. Kamu tahu sendiri kan, kalau aku juga belum bekerja. Selama ini aku hanya mengandalkan kiriman uang dari orang tuaku di desa."


"Aku bukannya matre. Aku cuma merasa kalau selama ini aku nggak dihargai. Aku selalu tidur sama kamu, tapi kamunya nggak pernah ngasih aku apa-apa!" tandasku kesal.


"Kamu kok jadi berubah gini sih. Kalau kamu mau uang, ya cari dong laki-laki yang kaya. Sekalian saja kamu jual tuh tubuh kamu!" Hina Reno.


Braaakk...

__ADS_1


Kugebrak meja di depanku. Aku yang kesal mendengar ucapan Reno, langsung pergi meninggalkannya. Aku benar-benar marah kali ini. Aku menyesal sudah memberikan tubuhku ini secara percuma. Tapi aku juga kesal kalau aku harus disamakan dengan ******* olehnya. Meskipun aku tak ubahnya seperti yang dia katakan, tapi hatiku tetap merasa sakit ketika aku mendengar ucapannya.


__ADS_2