
Setibanya di rumah, aku langsung masuk kamar karena masih merasa kesal kepada Ibu Sumarni. Lebih tepatnya, atas apa yang dilakukan oleh Ibu Sumarni padaku. Membuatku merasa malu di depan umum walaupun aku yakin sebagian orang akan menilai buruk kepada Ibu Sumarni. Namun, tetap saja hatiku merasa kesal karenanya.
Aku benar-benar tidak ingin melakukan apa pun selain rebahan. Kumainkan ponselku, tetapi tiba-tiba hatiku merasa ingin sekali melihat akun sosial milik Mas Ashraf.
Jiwa kepo-ku meronta-ronta.
Segera kubuka akun sosial mediaku dan kuintip akun sosmed milik Mas Ashraf. Masih sama seperti yang dulu bahkan kami masih berteman. Aku tahu, Mas Ashraf tidak terlalu suka memainkan sosial media. Hanya sebatas memiliki agar tidak ketinggalan zaman.
Ketika baru membuka beranda akun tersebut, aku langsung terdiam saat melihat foto Mas Ashraf—ah, lebih tepatnya foto pernikahan lelaki itu dengan Yuni. Bukan akun Mas Ashraf yang menguploadnya, tetapi milik Yuni dan menandai akun mantan suamiku.
Terlihat senyum kedua pengantin itu berbinar bahagia.
Kudes*hkan napasku secara kasar ke udara. Ternyata memang benar kalau Mas Ashraf sudah menikah dengan Yuni. Cepat sekali. Padahal kami berpisah belum lama ini.
"Ish!" Kugelengkan kepala untuk mengusir pikiranku sendiri. Merutuki diriku sendiri yang justru memikirkan Mas Ashraf padahal seharusnya aku tidak peduli lagi padanya. Ingin sekali kutulis komentar di situ, tetapi aku tidak ingin terlihat mencolok. Akhirnya, kuhapus pertemanan akunku dengan Mas Ashraf. Bahkan aku memblokirnya.
__ADS_1
Sudah cukup semua harus benar-benar berakhir tanpa sisa walaupun masih ada sisa cinta di antara kami. Aku yakin itu karena tidak mudah menghapus rasa cinta yang pernah tumbuh.
***
"Ira."
"Siapa?" tanyaku dari dalam rumah ketika mendengar ada yang memanggil. Segera kutaruh cucian piring di wastafel, lalu bergegas ke ruang depan.
Betapa terkejutnya diriku ketika melihat Elmira sedang berdiri di depan pintu. Bibir gadis itu tersenyum simpul begitupun dengan aku. Kita pun saling berpelukan erat.
"Padahal, Ra. Di sana, mereka semua menjelekanmu. Katanya kau ini sangat keras kepala dan berani kepada Ibu Sumarni. Makanya kalian bercerai," adu Elmira.
Kuhirup napasku dalam. "Biarkan saja, El. Aku yakin suatu saat mereka akan mendapat balasannya. Kalau orang yang bisa berpikir menggunakan nalar, pasti akan menyalahkan Mas Ashraf. Lihat saja, kami baru dua bulan bercerai, tapi Mas Ashraf sudah menikah lagi."
"Iya, sih. Tuh, laki keganjengan banget."
__ADS_1
Aku terkekeh mendengar Elmira yang terus menggerutu. Apalagi kalau sampai dia di posisiku, sudah pasti akan mengomel tanpa henti.
"Udah, El. Jangan ngomel mulu. Aku dah ikhlas sekarang. Lebih baik aku menata hidupku lagi dan fokus untuk menyenangkan diriku. Setidaknya sekarang aku bebas, El." Aku tersenyum senang.
"Bener, Ra. Bagaimana kalau kau ikut aku bekerja di kota. Daripada di sini," ajak Elmira.
Bibirku seketika terbungkam rapat. Ada kebimbangan yang kurasakan. Jika dulu aku harus meminta izin kepada Mas Ashraf, tetapi sekarang tidak lagi. Aku bebas mengembara ke mana pun.
"Ra, memang, sih. Di kota kita nantinya hanya akan menjadi pembantu, setidaknya di sana tidak seperti di kampung. Kita bebas melakukan apa pun tanpa ada lambe nyinyir seperti Ibu Mertuamu itu."
"Aku tidak lagi punya Ibu Mertua," sanggahku kesal.
Elmira tertawa terbahak-bahak. "Ah, ya. Aku lupa kalau kau bukan lagi anak menantu si ratu ghibah itu."
Ya Tuhan, Elmira ada-ada saja menyebut Ibu Sumarni.
__ADS_1
Setelahnya, aku pun meminta waktu kepada Elmira untuk memikirkan semuanya. Aku harus meminta solusi kepada orang tuaku terlebih dahulu. Elmira pun mengiyakan dan memberi waktu sampai minggu depan karena gadis itu akan kembali ke kota. Jika aku sanggup, maka nantinya aku akan berangkat bersama dengan Elmira.