Diamnya Seorang Menantu

Diamnya Seorang Menantu
DSM-34


__ADS_3

Setelah panggilan itu terputus, aku segera keluar kamar dan mengabari pada Ibuku. Tentang Mas Ashraf yang sudah punya anak. Tentu saja hal itu juga membuat Ibuku merasa terkejut. Bahkan, jiwa julid wanita itu pun kambuh. Setidaknya, Ibu merasa bersyukur karena aku sudah bercerai dari Mas Ashraf. 


Kabar itu pun hanya kuanggap angin lalu saja. Toh, tidak ada manfaatnya buatku juga Hanya saja, dengan ini bisa menjadi bukti bahwa Mas Asrhaf sudah berkencan dengan Yuni bahkan ketika kami belum bercerai. Aku jadi membayangkan bagaimana reaksi Ibu Sumarni. Apakah wanita itu akan malu karena hal tersebut sudah pasti menjadi bahan pembicaraan orang-orang. 


Tanpa kusadari dan entah mendapat dorongan dari mana, aku justru bertukar pesan dengan Pak Danu dan mengatakan pada lelaki itu. Curhat tentang Mas Ashraf dan Yuni. Padahal menurutku hal tersebut bukanlah hal penting dan Pak Danu pun tidak seharusnya tahu itu. 


Setelah cukup lama saling bertukar pesan, barulah aku tersadar dan menepuk kening. Menyebut diriku ini sebagai orang bodoh dan tidak bisa mengendalikan diri. Sebagai bentuk formalitas, aku pun meminta maaf pada Pak Danu karena sudah terlalu jauh bercerita. Setelahnya, aku lebih memilih untuk memasukkan ponsel ke dalam laci nakas, lalu tidur. 


***


Semenjak Mas Ashraf memiliki anak, aku menjadi lebih sering mendapat informasi tentang dia. Padahal aku sama sekali tidak datang ataupun  sekadar menengok anaknya. Namun, Elmira yang selalu saja memberiku kabar karena kebetulan gadis tersebut sedang cuti selama satu bulan. 

__ADS_1


Kadang rasanya malas sekali ketika harus mendengar kabar Mas Ashraf, tetapi terkadang juga aku merasa sangat penasaran karena Elmira bilang kalau Yuni sering marah-marah sekarang. Bahkan, terkadang wanita itu membentak Ibu Sumarni. 


"Kasihan juga. Aku tidak bisa membayangkan betapa marahnya Ibu Sumarni karena dibentak anak menantunya," gumamku lirih. 


Aku menggeleng, untuk apa memikirkan mereka. Toh, tidak ada manfaatnya juga. Di saat sedang sibuk dengan lamunan, aku tersentak saat terdengar nada dering yang memekakkan telinga. Aku lupa mengaktifkan mode diam. 


Aku berdecak keras. Lagi-lagi Elmira. Aku bisa menebak dengan pasti kalau wanita itu pasti akan menceritakan tentang Mas Ashraf. Aku pun menoleh untuk memastikan keadaan aman. Setelahnya, kuterima panggilan itu dan berbicara setengah berbisik. Apalagi sekarang ini sedang berada di jam kerja dan toko sedang sepi. Itulah sebabnya aku menerima panggilan itu. 


"Ada apa, Mir? Mau bahas Mas Ashraf lagi?" tanyaku ketus. 


"Kabar penting apa? Cepatlah, aku sedang bekerja dasar tukang kepo," kelakarku. Bukannya marah, justru kudengar kekehan dari seberang telepon. Aku memang sudah terbiasa bercanda seperti itu dengan Elmira sehingga tidak ada lagi rasa tersinggung. 

__ADS_1


"Kau tahu, Ira. Barusan kudengar kabar kalau Mas Asrhaf akan bercerai dengan Yuni." 


"Apa! Kau jangan bercanda, Mir!" sentakku tanpa sadar. Saking terkejutnya dengan kabar yang baru kuterima. 


"Ya ampun, kau jangan buat telingaku tuli!" 


Kudengar nada bicara Elmira yang meninggi. Biasanya wanita itu sedang kesal jika berbicara dengan nada setinggi itu. 


"Aku serius, Ira. Ibu Sumarni meminta Mas Ashraf menceraikan Yuni karena menganggap kalau anak yang baru dilahirkan oleh Yuni, bukanlah anak Mas Ashraf." 


"Kasihan sekali. Memang dari mana kau tahu, Mir?" Aku mulai penasaran.

__ADS_1


"Yaelah, kau seperti tidak paham sama mantan Ibu Mertuamu aja. Tukang ghibah dan sekarang dia yang menjadi bahan ghibahan orang lain. Puas rasanya." 


"Dasar kau, Mir! Seharusnya yang merasa puas itu aku, bukan dirimu," protesku.


__ADS_2