Diamnya Seorang Menantu

Diamnya Seorang Menantu
DSM-26


__ADS_3

Tubuhku gemetaran saat Tuan Berto sudah mengikis jarak di antara kami. Semakin aku mundur, beliau justru semakin dekat hingga akhirnya aku ditindihnya. Rasanya cukup berat dan menyakitkan karena gerakan lelaki itu sangat kasar. 


Aku menangis. Memohon agar segera dilepaskan. Walaupun bukan lagi seorang perawan, tetapi jika harus bercinta dengan paksaan, hal ini pasti akan sangat menyakitkan. Namun, air mata yang sudah membanjiri wajahku nyatanya tidak mampu meluluhkan hati Tuan Berto. Lelaki itu tetap saja menindihku dan berusaha untuk menciumiku. 


Aku terus meronta, sambil menoleh ke kanan-kiri agar Tuan Berto tidak bisa meraih bibirku. Rasanya sangat menjijikkan jika itu sampai terjadi. Dengan tenaga yang kupunya, kuteriak sekeras mungkin. Berharap ada yang mendengar.


Sepertinya Dewi Fortuna sedang memihak padaku. Kudengar pintu didobrak dan Tuan Berto yang hampir menciumku pun langsung menghentikan gerakannya. Lelaki itu langsung bangkit berdiri, sedangkan aku langsung duduk sambil menangis terisak.


"Apa yang kau lakukan, Mas!" 


Kudengar suara Nyonya Erlin yang menggelegar. Tubuhku kian beringsut takut karena khawatir Nyonya Erlin akan curiga padaku. Namun, aku berusaha memberanikan diri dan kulihat Tuan Berto hanya berdiri terpaku sambil memfokuskan pandangan.

__ADS_1


"Aku ingin punya anak!" Suara Tuan Berto meninggi. 


Kulihat wajah Nyonya Erlin yang memucat. Wanita itu bahkan tidak membuka suara sama sekali. Rasanya begitu kasian hingga membuatku menjadi tidak tega. Sebagai seorang wanita aku paham bagaimana perasaan Nyonya Erlin. 


"Mas, bukankah kau tahu sendiri kenyataannya." Wanita itu berbicara lirih. "Aku bukan wanita sempurna." 


Ya Tuhan, ingin sekali kupeluk wanita itu dengan erat. Terlihat sangat malang sekali. Namun, aku tidak memiliki keberanian untuk melakukan itu. Jangankan memeluk, berhadapan dengan Nyonya Erlin saja sudah membuatku takut wanita itu mengira aku adalah wanita penggoda. 


"Ira."


"Pulanglah ke kampung dan jangan sekalipun kau datang ke sini. Maaf, aku sudah meminta bantuanmu kemarin. Aku memecatmu sekarang ini bukan karena membencimu, tapi karena tidak ingin jika suamiku makin kalap dan akan melakukan hal yang lebih dari tadi. Aku tidak mau melukaimu, Ira." 

__ADS_1


Ya Tuhan, baik sekali Nyonya Erlin. Di saat seperti ini saja, dia masih memikirkan perasaanku. Seharusnya Tuan Berto merasa beruntung memiliki wanita sebaik itu meskipun tidak sempurna. 


"Apa yang kau katakan, Erlin!" bentak Tuan Berto. Bahkan, sampai membuatku ikut kaget mendengar suaranya. 


"Diamlah, Mas! Aku tidak mau kau dulu." 


"Terima kasih banyak, Nyonya. Saya memang mau mengundurkan diri dari sini." 


Aku berbicara terbata karena masih merasa gugup. Perasaanku benar-benar tidak enak. Melihat kedua majikanku yang sepertinya membutuhkan waktu untuk berbicara berdua pun, kulipih untuk berpamitan dari sana. Aku akan menata bajuku agar besok pagi bisa langsung pergi dari rumah itu. 


Aku sengaja pergi karena tidak ingin mendengar pertengkaran kedua orang itu. Rasanya benar-benar tidak tega. Ketika sudah masuk kamar, segera kukunci pintu dengan rapat khawatir Tuan Berto akan memaksa masuk. Lalu kuhubungi Elmira dan kuceritakan semua padanya. 

__ADS_1


Aku hanya bisa mendes*h kasar ketika kudengar umpatan Elmira untuk Tuan Berto. Mungkin, selama ini yang diketahui oleh Elmira adalah Tuan Berto itu sangat baik. Sebelum panggilan terputus, Elmira mengatakan bahwa ia akan mencarikan pekerjaan lain untukku. Namun, aku menolak. Aku lebih memilih pulang kampung di mana hidupku lebih tenang meskipun hanya memiliki uang yang cukup untuk makan. 


Semoga kehidupanku akan kembali baik di kampung. 


__ADS_2