
Waktu terus berlalu. Kucoba untuk menikmati masa-masa ngidam. Mual yang hebat setiap pagi. Jika siang hanya ingin rebahan saja sampai aku merasa tidak enak hati terhadap Ibu Mertuaku. Ya, walaupun wanita itu mengatakan tidak apa-apa karena itu bawaan bayi, tetap saja terkadang aku merasa tidak enak hati. Satu hal lagi, jika malam aku akan merasakan hasratku selalu naik. Meminta Mas Danu untuk melayaniku.
Jika lelaki itu menolak dengan alasan tidak ingin bercinta karena kehamilanku masih rawan, maka aku akan menangis keras dan dengan terpaksa Mas Danu akan mengiyakan.
Bukan hanya perhatian mereka, orang tuaku pun memberi perhatian yang sangat lebih. Semua pola makanku diatur. Tidak boleh lagi jajan sembarangan dan aku hanya bisa menurut saja. Walaupun terkadang aku merasa jengah dan terkekang. Namun, aku berusaha percaya bahwa semua itu adalah untuk kebaikanku dan calon buah hatiku tentunya.
Seiring waktu berjalan, aku menikmati kehamilan ini. Menurut pada perintah mereka. Hingga tanpa terasa kini usia kehamilanku sudah memasuki tri semester ketiga. Perutku sudah sangat begah rasanya karena membuncit. Mas Danu pun memperlakukanku dengan sangat spesial.
"Mas, bagaimana pekerjaan mu?" tanyaku saat kami sedang duduk berdua.
"Aku sudah meminta temanku untuk mengawasi sementara. Aku mulai bekerja di rumah mulai sekarang," sahut suamiku.
"Kenapa? HPL anak kita masih lama. Dua minggu lagi, Mas." Aku membalas.
"Tidak apa. Aku hanya sedang belajar dari pengalaman." Mas Danu terlihat menghirup napasnya dalam. "Dulu, waktu mantan istriku hamil, aku terlalu sibuk berkerja sampai tidak terlalu peduli padanya. Sampai akhirnya aku diganjar dengan rasa sakit kehilangan dirinya sekaligus buah hatiku. Sekarang aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Istri dan anakku lebih penting dari pekerjaan."
__ADS_1
Rasanya aku ingin menangis mendengar ucapan Mas Danu. Aku tahu, kehilangan istri dan anaknya sudah pasti menciptakan luka yang membekas lama. Aku tidak akan cemburu, justru merasa iba terhadap suamiku.
"Ira, apakah kau mau berjanji untuk baik-baik saja?" tanyanya.
Hatiku bergetar hebat. Dengan gegas kupeluk lelaki itu dan tak lupa ku daratkan ciuman di pipinya.
"Tentu saja. Aku akan berusaha untuk kuat. Aku pun ingin membesarkan anak kita dengan penuh cinta. Bukankah itu impian kita?" Ku sentuh pipi suamiku dan meyakinkan dirinya.
Lalu setelahnya kami pun berpelukan erat.
***
"Kau mau ke mana, Ira?" Mas Danu terbangun. Mungkin karena merasa gerakanku saat turun dari ranjang.
"Kencing, Mas. Dari tadi aku kencing terus," sahutku. Berjalan pelan menuju ke kamar mandi. Selain buang air berkali-kali, aku pun merasakan pinggangku sangat sakit. Seperti hendak patah hingga membuat langkahku tertatih.
__ADS_1
Mas Danu benar-benar setia, ia menuntunku ke kamar mandi. Setelahnya, Mas Danu meminta agar aku ke rumah sakit, tetapi aku menolak. Merasa diri baik-baik saja walaupun aslinya semua tidak baik.
Saking sakitnya, aku sampai merintih dan meringis. Mas Danu pun tidak lagi meminta pendapatku. Justru langsung membawaku ke rumah sakit agar lekas mendapatkan pemeriksaan.
"Kau harus kuat, Ira. Aku akan selalu ada untukmu."
Rasanya senang sekali mendengar kalimat itu terlontar dari mulut Mas Danu.
Setelah mendapat pemeriksaan, ternyata aku memang sudah hampir melahirkan. Sudah pembukaan tiga. Mas Danu pun dengan setia menemani dan memberi semangat. Ia akan mengusap punggungku ketika kontraksi itu datang.
Tiba ketika pembukaan lengkap, Mas Danu menggenggam tanganku dan memberiku semangat.
Rasanya sangat sakit sekali, tetapi melihat betapa semangatnya Mas Danu, membuatku pun tetap semangat.
Oe oe oe
__ADS_1
Ketika terdengar suara tangis bayi, aku merasakan sebuah kelegaan yang teramat besar.
Alhamdulillah.