
Seperti pepatah Jawa yang mengatakan kalau hidup itu harusnya 'Sawang-Sinawang'. Kulihat hidup Nyonya Erlin memang sangat bahagia. Apa sih, yang kurang. Harta, dicintai suami, disayang mertua. Sangat berbeda dengan aku, tapi ternyata hidupnya tidak sebahagia apa yang dilihat orang.
Kini aku sadar, cobaan orang berumah tangga itu sangat berbeda-beda. Ada yang diuji dengan pasangan, keluarga, ekonomi, juga anak. Mendengar Nyonya Erlin yang mandul, seketika membuat hatiku sebagai seorang wanita menjadi teriris. Memang sedih saat belum memiliki anak apalagi jika keluarga sudah mendesak.
Aku yang baru dua tahun lebih menikah belum memiliki keturunan saja sudah sakit jika ada yang mengataiku sebagai wanita mandul. Apalagi Nyonya Erlin yang sudah menikah lebih dari sepuluh tahun dan sudah jelas mandul. Aku sungguh tidak bisa membayangkan betapa kuat dan sabarnya wanita itu.
"Nyonya, maafkan saya. Tapi saya menolak jika harus menjadi istri siri apalagi hanya untuk melahirkan keturunan Tuan Berto."
Aku menolak dengan sangat yakin. Kata hatiku berkata seperti itu. Apa pun yang terjadi walaupun aku harus berhenti bekerja di rumah ini sekalipun, bagiku itu lebih baik daripada harus menjadi madu di pernikahan orang lain.
"Kenapa? Aku akan memberikan apa pun yang kau mau, Ira. Lama sekali aku mencari wanita yang tepat dan entah mengapa saat bertemu dirimu, aku merasa kalau kau sangat pantas untuk melahirkan keturunan Mas Berto." Nyonya Erlin masih terus merayu.
Namun, aku tetap saja menolak.
__ADS_1
"Nyonya, saya tidak ingin mendapatkan masalah di kemudian hari. Apalagi saya yang seorang janda, Nyonya. Walaupun Anda yang meminta saya sendiri untuk menjadi madu Tuan Berto, tetapi saya tidak bisa melakukan itu. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, Nyonya. Saya juga tidak ingin kita berdua sama-sama merasakan sakit," ujarku panjang lebar.
Aku harus memberi pengertian pada Nyonya Erlin. Bahwa ketika menikah dan tidak dikaruniai anak, poligami belum tentu menjadi solusi.
"Lalu, menurutmu apa yang harus kulakukan?"
Kudengar Nyonya Erlin mendes*hkan napasnya secara kasar.
"Nyonya, Anda bisa mengadopsi anak dari panti asuhan. Kalau orang jaman dulu bilang sebagai pancingan," kataku.
Kutatap Nyonya Erlin yang terus diam, sepertinya wanita itu sedang merenungi semuanya.
"Baiklah, akan kucoba caramu. Semoga saja. Jujur, aku berharap ada sebuah keajaiban. Walaupun dokter memvonis mandul, suatu saat Tuhan memberi keajaiban dengan membuatku hamil."
__ADS_1
Suara Nyonya Erlin terdengar sangat berat. Aku pun merasa iba padanya. Jika melihat hidupnya yang bahagia, ternyata sangat berbeda jauh dengan sorot matanya yang terlihat penuh luka. Aku yakin, hati Nyonya Erlin pasti merasakan sedih tidak seperti apa yang terlihat dari kehidupannya.
***
Semenjak perbincangan dengan Nyonya Erlin. Aku merasa tidak nyaman lagi berada di rumah tersebut. Memang, keluarga Tuan Berto masih bersikap biasa saja terhadapku. Seolah tidak pernah terjadi perbincangan di antara kami. Namun, aku tetap merasa tidak nyaman saja.
Arrgh! Sudahlah! Aku tidak boleh terlalu memikirkan ini. Niatku bekerja adalah agar bisa melupakan Mas Ashraf dan semua masalahku bukan untuk mencari masalah baru.
"Ira!"
Kuhentikan langkah ketika mendengar panggilan dari Tuan Berto. Entah mengapa, jantungku tiba-tiba berdebar kencang. Merasa khawatir jika Tuan Berto akan membahas hal yang tidak-tidak.
Kubalik badan dan ketika melihat tatapan Tuan Berto yang mengarah padaku, seketika kutundukkan kepala secara dalam. Tidak ingin bertatapan langsung dengan lelaki tersebut.
__ADS_1
"Kenapa kau menolak perintah Erlin? Memang apa susahnya? Kita bisa menikah siri dan Erlin juga sudah setuju. Hal apa yang membuatmu merasa berat, Ira!"