
Semenjak membaca pesan dari Mas Ashraf terus saja membuat hatiku tidak tenang. Ada kekhawatiran yang kurasakan. Entah mengapa, perasaan gelisah merasuki hati walaupun sudah kucoba untuk mengusirnya.
Aku berusaha tetap tenang dan biasa saja. Tidak mau mengundang kecurigaan. Hanya Elmira yang bisa tahu isi hatiku. Elmira bahkan meyakinkanku kalau semua pasti baik-baik saja. Ia bilang akan berusaha agar acaranya berjalan lancar dan Mas Ashraf tidak datang mengganggu.
Aku merasa gugup saat sudah dirias sangat cantik. menggunakan gaun pengantin yang mewah bahkan lebih indah daripada saat menikah dengan Mas Ashraf dulu. Acara kali ini pun lebih megah padahal ini merupakan pernikahan keduaku.
Setelah semuanya siap, aku segera keluar dan duduk di samping Pak Danu. Jujur, aku merasa tidak nyaman saat banyak pasang mata yang menatap ke arahku. Merasa tidak percaya diri karena sekarang menjadi pusat perhatian. Apalagi lihatlah Pak Danu yang sejak tadi terus saja tersenyum.
Ku dekatkan wajah ke telinga Pak Danu. "Pak, kenapa semua orang menatap saya. Apakah saya terlihat jelek?" tanyaku memberanikan diri.
Kali ini Pak Danu yang balik mendekatiku. Ia pun berbisik sama sepertiku. "Bukan jelek, tapi kau terlihat sangat cantik."
Ya ampun, pipiku merah merona ketika mendengar pujian yang lebih mirip dengan gombalan. Bahkan, suasana pun kian riuh karena banyak yang menggoda. Mereka mengira kalau aku dan Pak Danu sudah tidak sabar untuk melakukan malam pertama. Padahal kami sama-sama pernah merasakan dulu. Jadi, sudah tahu rasanya. Haha.
__ADS_1
Selang beberapa saat, suasana mendadak hening ketika acara ijab kabul dimulai. Pak Danu berjabatan erat dengan bapakku. Kepalaku hanya bisa tertunduk dalam sambil berdoa semoga semua berjalan dengan lancar.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah."
Aku mengucap syukur dalam hati karena semua berjalan lancar dan sekarang aku sudah resmi menjadi istri Pak Danu. Namun, semua tidak berlangsung lama. Tiba-tiba keributan terjadi di depan. Aku pun berbalik dan terkejut ketika melihat Mas Ashraf datang bersama Ibu Sumarni. Bukan hanya itu, Mas Ashraf bahkan sampai membanting beberapa kursi yang berada di sana.
"Aku tidak setuju!" teriak Mas Ashraf saat sudah berdiri di depanku.
"Ashraf! Apa-apaan ini!"
__ADS_1
Kudengar suara Bapak yang menggelegar. Sudah pasti lelaki itu sedang sangat emosi sekarang ini.
"Pak, aku masih sayang sama Ira dan aku mau rujuk dengannya, Pak." Suara Mas Asrhaf tidak sekeras tadi. Bahkan, terdengar sangat memohon.
"Rujuk? Ira sekarang adalah istriku!" Kali ini Pak Danu yang membuka suara. Kurasakan napasnya yang tersengal.
"Istrimu? Aku tidak pernah setuju! Ira harus kembali padaku!" Mas Ashraf masih tetap ngeyel. Aku sungguh tidak menyangka kalau Mas Ashraf setidak-malu seperti itu.
"Ira, maafkan Ibu, Nak. Ibu salah karena selama ini sudah bersikap kurang baik padamu. Kembalilah dengan putraku, Nak. Ibu janji akan mengubah semua kesalahan yang pernah ibu lakukan padamu," ujar Ibu Sumarni.
Ya Tuhan, aku tidak percaya kalau mantan Ibu Mertuaku memohon seperti itu. Aku jadi curiga kalau ada hal yang tidak baik terjadi pada mereka.
"Ira, belas kasihanilah kami. Sekarang kami sudah tidak punya apa pun. Yuni sangat licik. Anak yang dilahirkan Yuni bukanlah anak Ashraf karena ternyata Ashraf mandul. bahkan, Yuni sudah membalik nama semua harta kami hingga sekarang kami tidak memiliki apa pun."
__ADS_1
Aku tertegun mendengar ucapan Ibu Mertuaku. Tidak menyangka kalau Yuni ternyata setega itu.