Diamnya Seorang Menantu

Diamnya Seorang Menantu
DSM-31


__ADS_3

"Terima kasih sudah mau menikah denganku walaupun kita menikah karena dijodohkan, Pak. Aku tidak menyangka kalau Mama-Mama kita ternyata bersahabat baik dan akhirnya kita menikah. Sama seperti dalam kisah novel itu, Pak." 


Aku menggandeng tangan Pak Danu dengan mesra. Baru saja lelaki itu mengucapkan ijab kabul atas diriku. Setelah mengetahui bahwa mama kita saling mengenal dan bahkan bersahabat baik, mamanya Pak Danu pun meminta aku menjadi anak menantunya. Tentu saja aku langsung menerima tanpa perlu mempertimbangkan. Begitu pun dengan Pak Danu. 


Digandeng sejak tadi, Pak Danu hanya tersenyum simpul, senyuman yang membuat hatiku meleleh. 


Oh Ya Tuhan ....


***


"Ira! Ira! Iraaaa!"


Aku tersentak saat suara cempreng Ibuku masuk ke lubang telinga bahkan seperti hendak memecahkan gendang telingaku. Ya ampun, sampai membuat telingaku berdenging keras. Segera kuusap sambil menatap kesal ke arah ibuku yang juga memasang wajah tidak bersahabat. 


"Ibu, jangan membuatku kaget dan tuli," dengkusku kasar. Andai bukan Ibu, sudah pasti aku akan memarahinya habis-habisan. Tapi, jika sekarang aku berani melakukan itu sudah pasti aku akan mendapatkan omelan yang panjang seperti rel kereta api bahkan sampai berbulan-bulan tidak kelar juga omelan itu. 


"Habisnya kau ngalamun. Ingat, Ira. Kita sedang di luar dan jangan ngelamun. Kalau kesambet bagaimana?" 


Tatapan Ibuku masih tajam, setajam belati menusuk hati. Aduh!

__ADS_1


"Sampai senyum-senyum sendiri pula. Emang apa yang kau bayangin?" Ibuku mulai kepo. 


Aku pun hanya menghela napas panjang lalu meminum teh hangatku. Kulirik Pak Danu. Lelaki itu duduk satu meja denganku dan sibuk makan nasi goreng. 


Ah, jadi pengen disuapin. Hihi. 


Setttt dah! Aku tidak mau membayangkan Pak Danu lagi, daripada seperti tadi. Kupilih untuk fokus menyantap makananku. Selera makanku tiba-tiba meningkat, kulahap kwetiau di depanku dengan antusias. Tidak peduli pada mereka yang penting perutku kenyang. 


Melamun juga butuh tenaga, Bestie. 


"Sukini, aku tidak menyangka kalau kau sudah punya anak gadis sebesar ini. Cantik pula," puji mamanya Pak Danu. 


"Tentu saja cantik. Dia kan cewek. Lagi pula, kau harusnya tahu kecantikan dia temurun dari siapa, Anjani." 


Aku memutar bola dengan malas. Melihat tingkah Ibuku yang begitu genit. Sama seperti Bapakku yang hanya menggeleng melihat tingkah istrinya. Aku yakin kalau Bapak sudah membatin. 


"Kau masih sama seperti dulu, Sukini." 


"Anjani, aku juga tidak menyangka kalau kau juga punya putra yang gagah dan tampan seperti ini. Aku yakin kalau putramu pasti menjadi idola dan idaman para wanita." Giliran Ibuku yang berbicara.

__ADS_1


Aku merasa mual, pandai sekali Ibuku mencari muka. Memuji pria lain di depan suaminya sendiri. Lihatlah, wajah Bapak sudah terlihat masam seperti mangga muda. 


"Haha. Putraku ini susah sekali dekat dengan wanita karena hanya sibuk bekerja. Andai saja bisa, aku ingin menjodohkan dia dengan putrimu," celetuk Tante Anjani. 


"Mama." Terdengar suara Pak Danu penuh penekanan. Sorot matanya bahkan sudah menajam. Aku yakin lelaki itu pasti kesal dengan mamanya. 


Padahal tebakanku benar bukan, kita kemungkinan besar akan dijodohkan. Hahah. Kalau benar terjadi mungkin aku akan menerima karena Pak Danu itu jauh lebih baik dari Mas Ashraf. 


"Tapi sepertinya itu tidak mungkin karena aku tidak yakin putrimu mau menerima putraku." 


"Kenapa begitu?" Ibu menyela dengan tidak sabar. 


Dasar emak-emak, pikirku. 


"Em, karena anakmu masih gadis, sedangkan putraku ini seorang duda." 


Whatt!!!! 


Uhuk uhuk. 

__ADS_1


'Kan aku tersedak juga mendengar ucapan mamanya Pak Danu. 


__ADS_2