
Setelah seminggu memikirkan semuanya dan meminta pertimbangan dari orang tua, akhirnya aku berangkat bersama Elmira ke kota. Kutinggalkan semua sisa kenangan menyakitkan yang masih tersisa. Kuberjanji akan menghapus hal-hal apa pun yang melukai hatiku.
Pada intinya, aku ingin menjauh dari Mas Ashraf dan semuanya. Tidak mau mendengar lagi kabar tentang lelaki itu ataupun keluarganya.
Aku ingin merasa hidup tenang dan fokus pada kehidupanku sendiri. Merawat diri, pergi bebas ke mana pun. Semuanya. Semua hal yang tidak bisa kulakukan ketika masih resmi menjadi istri Mas Ashraf. Kini aku bisa melakukan semuanya dengan bebas. Tanpa ada penghalang apa pun.
Aku merasa bebas seperti seekor burung yang baru keluar dari sangkar kawat bukan sangkar emas. Perlakuan Mas Ashraf dan Ibu Sumarni tidak pantas jika disamakan dengan sangkar emas.
Kami—aku dan Elmira—tidak bekerja dalam satu majikan. Rumah majikan Elmira dan aku, hanya selisih lima rumah. Namun, kami masih bisa saling menyapa dan mengobrol. Bahkan, sesekali kami berbelanja bersama.
Majikanku yang baru adalah seorang pria matang, berusia sekitar umur tiga puluh lima tahunan bersama dengan istrinya. Ada ibu dari sang tuan juga di rumah itu juga di sana.
Namun, sikap nyonya besar dalam memperlakukan sang menantu sangat berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh Ibu Sumarni kepadaku dulu. Wanita kaya dan tua itu, memperlakukan anak menantunya dengan baik. Selalu kulihat perhatiannya dan ya, hal itu cukup membuatku iri.
Kenapa dulu Ibu Mertuaku tidak memperlakukanku seperti itu?
__ADS_1
Ah! Sudahlah, tidak perlu disesali dan ditangisi lagi. Yang terpenting sekarang aku sudah terbebas dari mereka.
"Ira!"
Suara si tuan terdengar memanggilku dari arah tengah, segera ku berlari mendekatinya. Kulihat Tuan sedang duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. Wajahnya terlihat lesu seperti tidak ada semangatnya sama sekali.
"Kenapa, Tuan? Apa Anda sedang sakit?" tanyaku memberanikan diri.
Kulihat, Tuan Berto—majikanku—justru menghela napas panjangnya berkali-kali tanpa menghentikan pijatan di pelipis.
Aku mengiyakan. Tanpa membantah lagi. Segera kubuatkan kopi hitam dalam takaran yang pas. Setelahnya, kuberikan kopi tersebut dan langsung diseruput oleh Tuan Berto. Padahal masih banyak asap panas yang mengepul. Aku tidak yakin, lidah Tuan Berto masih baik-baik saja setelah menyeruput minuman panas tersebut.
Setelah cukup lama hanya berdiam diri, aku pun berpamitan hendak kembali ke dapur. Bukan tanpa alasan, aku tidak mau terus merasa canggung jika hanya berdua dalam waktu yang lama. Apalagi statusku sebagai seorang janda, membuatku merasa tidak nyaman jika hanya berdua dengan lelaki lain.
Namun, baru saja hendak melangkah pergi, Tuan Berto kembali memanggil. Menyuruh untuk tetap berada di tempatku sekarang ini karena ada hal yang akan dibicarakan oleh lelaki itu. Jujur, hatiku deg-degan dan terus menerka hal apa yang sekiranya akan dibahas.
__ADS_1
Mungkinkah aku akan dipecat? Ah, tidak! Aku tidak mau terlalu memikirkan hal itu. Lagian, kalau memang mau dipecat, apa kesalahanku. Aku merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Ada apa, Tuan?" Akhirnya, kuberanikan diri bertanya.
"Ira, maaf kalau aku terlalu lancang bertanya padamu. Aku hanya penasaran saja. Kata istriku kau ini seorang janda? Apakah itu benar?" tanya Tuan Berto.
Aku terpaku dalam waktu yang cukup lama. Tidak menyangka atas pertanyaan yang dilayangkan oleh majikanku sendiri. Ingin sekali bungkam karena hal itu merupakan hal yang membuatku tidak nyaman. Namun, jika tidak menjawab, sudah pasti aku terlihat sangat tidak sopan.
"Ma-maaf, Tuan. Memangnya kenapa?" tanyaku balik tanpa menjawab pertanyaan tadi. Jujur, aku takut jika statusku sekarang ini menjadi masalah.
"Tidak apa. Aku hanya bertanya saja." Tuan Berto menatapku dalam dan segera kupalingkan wajah.
"Iya, Tuan. Saya memang seorang janda. Apakah ada masalah dengan status saya, Tuan?" Aku kembali bertanya walaupun dalam hati merasa tidak nyaman.
"Emm ...." Tuan Berto menggantungkan ucapannya dan hal itu makin membuatku ketar-ketir tak karuan.
__ADS_1