Diamnya Seorang Menantu

Diamnya Seorang Menantu
DSM-44


__ADS_3

Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Rasanya sangat lemas dan tidak bertenaga. Bahkan, semua yang masuk ke perutku langsung keluar begitu saja termasuk air putih sekalipun. Badanku benar-benar tidak baik-baik saja.


Aku merasa yakin kalau ini akibat dari lemburan setiap malam bersama Mas Danu. Ish, aku harus memberi perhitungan kepada lelaki itu setelah ini. Nanti malam aku mau meminta cuti untuk tidak nina-ninu terlebih dahulu.


Ketika tenagaku sudah pulih, Ibu Mertuaku meminta agar rebahan saja dan langsung pergi meninggalkanku sendiri. Pikiranku berkecamuk. Pernah mengalami masa lalu yang tidak indah bersama Ibu Mertua, membuatku merasa trauma. Padahal Mama Anjani itu sangat baik, tetapi aku masih saja merasa khawatir kalau beliau akan seperti Ibu Sumarni.


Ternyata aku memang benar-benar salah, Ibu Mertuaku kembali masuk sambil membawa teh hangat. Padahal ada pelayan di rumah, tetapi beliau justru membawa sendiri. Aku merasa sangat spesial sekarang ini. Ibu Mertuaku sungguh sangat perhatian hampir sama persis seperti Ibuku. Mungkin itu yang membuat mereka bersahabat baik.


"Diminum dulu, Ira. Sambil nunggu dokter datang."


Kuraih cangkir dari tangan Ibu Mertuaku lalu menyesapnya perlahan. Tanpa lupa mengucapkan terima kasih terlebih dahulu.


"Sejak kapan kau sakit seperti ini?" tanyanya penuh perhatian.

__ADS_1


"Baru saja, Ma. Rasanya sangat mual dan tidak nyaman. Mama kenapa memanggil dokter? Aku baik-baik saja, palingan juga masuk angin," sahutku.


"Biar kau diperiksa. Mama tidak bisa melihat anak mama sakit," ucap Ibu Mertuaku.


Kupeluk wanita itu sangat erat dan tak lupa mengucapkan terima kasih karena sudah baik selama ini. Membuatku merasa nyaman di rumah tersebut. Selang beberapa saat, pintu kamar dibuka. Kupikir dokter itu sudah datang, tetapi ternyata yang datang adalah suamiku.


Kulihat langkah Mas Danu sangat tergesa. Lalu menangkup kedua pipiku bahkan ia mendaratkan ciuman hingga membuat senyumku merekah. Kulihat sorot matanya penuh dengan kekhawatiran dan hal tersebut mampu membuatku merasa bahagia.


Aku mengangguk lemah dan berusaha terlihat baik-baik saja di depan suamiku. Walaupun rasanya sangat aneh, saat melihat bibirnya, ingin sekali ku lahap sampai habis. Namun, aku berusaha menahan hasrat yang tiba-tiba naik saat teringat bahwa Ibu Mertuaku masih berada di sini bersama kami.


Mas Danu baru sedikit menjauh dariku ketika dokter masuk dan langsung memeriksa. Jantungku berdebar-debar dan merasa khawatir. Takut ada hal buruk yang terjadi pada tubuhku. Namun, sebisa mungkin aku meyakinkan hatiku bahwa semua baik-baik saja dan aku hanya masuk angin biasa.


Kegelisahanku perlahan memudar berganti rasa heran ketika melihat dokter itu justru tersenyum simpul.

__ADS_1


"Apakah Anda sudah terlambat datang bulan, Nyonya?" tanya dokter tersebut.


Aku diam dan mengingat kapan terakhir kali datang bulan. Ya, aku baru ingat kalau sudah lebih dari dua minggu terlambat. Aku pun mengangguk lemah hingga membuat mereka semua tersenyum simpul. Entah mengapa, aku mendadak seperti orang bodoh saja.


Namun, kuingat satu hal bahwa jika orang terlambat datang bulan itu artinya ....


"Selamat, Nyonya. Anda sedang hamil."


Aku mematung. Masih belum percaya kalau aku mengandung benih Mas Danu. Hal yang pertama kudapatkan ketika dokter mengatakan bahwa aku sedang hamil adalah pelukan Mas Danu. Suamiku langsung memeluk erat dan banyak sekali ciuman yang ia berikan di wajahku.


"Aku sangat senang, Ira. Terima kasih. Aku berjanji akan menjagamu dan calon buah hatiku dengan sepenuh hati."


Aku tersenyum mendengar ucapan Mas Danu. Merasa duniaku ini sangat sempurna. Bukan hanya Mas Danu, tetapi Ibu Mertuaku juga memelukku dan mengucapkan selamat. Rasanya senang sekali dan setelah ini aku akan bilang pada orang tuaku. Memberi kejutan bahwa sebentar lagi mereka akan menimang cucu.

__ADS_1


__ADS_2