
Kutaruh sendok dengan gerakan cukup kasar. Selera makan yang barusan menggebu pun kini lenyap sirna sudah. Bahkan, aku sama sekali tidak ingin menghabiskan makanan tersebut.
"Katanya si Janda bekerja di kota, kenapa sekarang udah di kampung lagi? Tidak betah ya?"
Yuni, istri baru Mas Ashraf itu, duduk dengan santai di depanku. Senyumnya terlihat meledek dan mampu membuatku merasa jijik. Bagaimana bisa wanita itu tidak tahu malu padahal status jandaku itu juga ada sangkut paut dengannya. Jika bukan karena berselingkuh, mungkin aku masih mempertimbangkan keutuhan rumah tanggaku bersama Mas Ashraf.
Walaupun sudah kehilangan selera makan, tetapi aku mencoba untuk tetap menghabiskan sisa nasi dalam piring. Jangan sampai mubazir. Kubiarkan saja Yuni mengoceh. Kuanggap ia adalah anjing menggonggong.
Sangat pas, bukan?
Upsz!!
"Di mana Mas Ashraf?" tanyaku tanpa rasa bersalah. Padahal aku sangat malas jika harus menyebut nama lelaki itu, tapi sengaja kulakukan untuk membuat Yuni merasa panas. Ingin sekali kulihat wanita itu cemburu.
"Untuk apa kau mencari Mas Ashraf? Pasti kau mau mengemis minta balikan. Iya 'kan!" Suara Yuni terdengar seru. Sepertinya wanita itu sudah mulai terpancing.
__ADS_1
"Tidak, untuk apa minta balikan sama dia. Untuk apa aku memungut barang bekas yang pernah kupakai. Bukankah kau tahu kalau barang bekas itu tempatnya di tempat sampah?" Aku menimpali dengan santai.
Jika dulu aku diam, sekarang tidak lagi. Harus kul lawan siapa saja yang sudah berani membuatku terluka.
"Satu hal yang harus kau ketahui, Yun. Biarpun aku ini janda, setidaknya aku ini janda berkelas. Bukan perawan murahan yang suka sama laki orang." Rasanya puas sekali berbicara seperti itu.
Aku sama sekali tidak merasa bersalah meskipun ucapanku ada yang melukai hati Yuni. Yang kulakukan adalah membalas mereka. Terkesan kejam, memang. Tapi, aku pun tidak akan menyakiti siapa pun jika orang itu tidak menyakitiku terlebih dahulu.
Kulihat kepalan tangan Yuni memukul meja. Bahkan, gigi wanita itu terlihat bergemerutuk. Bukannya takut, aku justru tersenyum sinis saat melihatnya. Jika Yuni hendak bersandiwara di depan umum maka aku pun akan melakukan hal yang sama. Agar kita impas.
"Yun! Ada yang ketinggalan!" teriakku
Menghentikan langkah Yuni. Kulihat wanita itu berbalik dan menatapku curiga. Namun, aku tetap berusaha terlihat tenang. "Aku lupa menanyakan satu hal. Bagaimana keadaan Ibu Sumarni, mantan Ibu Mertuaku. Apa dia masih baik padamu? Atau hanya baik di saat awal saja?"
Kutarik bibirku tersenyum sinis. Rasanya sangat puas melihat Yuni yang makin kelihatan kesal. Tanpa menjawab apa pun, Yuni langsung berjalan menghentak dan pergi dari sana.
__ADS_1
"Dasar! Dia pikir aku akan kalah? Tidak akan!"
***
Waktu terus berlalu aku mulai betah bekerja di toko tersebut. Walaupun bosku sangat disiplin, tetapi aku suka. Justru makin bersemangat apalagi jika menatap wajahnya yang tampan itu.
Ah! Astaga. Pikiranku terlalu jauh. Jangan sampai aku bertindak seperti wanita murahan.
Setelah pertemuan dengan Yuni kala itu pun, aku tidak lagi bertemu dengannya. Mungkin wanita itu sudah kapok, tapi aku tidak peduli dengannya.
"Ira."
aku yang saat itu sedang menata barang pun terkejut ketika mendengar panggilan sang atasan. Aku segera mendekat ke sana. Berdiri menunduk di depannya sambil mendengarkan apa pun perintahnya. Namun, saat aku mendongak, kulihat ada satu bungkus besar kasur bayi yang terjatuh. Segera ku dorong tubuh bosku secepat kilat dan kami pun jatuh dalam posisi saling bertindih. Bukan hanya itu, bahkan kami saling bertatapan seperti dalam adegan sinetron.
Ya Tuhan, ini tidak aman untuk jantungku.
__ADS_1