
Aku berdecak keras. Sudah menolak permintaan Mas Asrhaf, tetapi apa. Lelaki itu justru terus memaksa hingga akhirnya di sinilah aku sekarang. Di tempat yang cukup sepi karena Mas Ashraf berkata pembicaraannya sangatlah penting.
"Aku mohon, Ira. Aku sungguh sangat menyesal karena sudah menceraikanmu," ucap Mas Ashraf memalas. Kulihat wajahnya tidak seperti dulu.
Terlihat lusuh dan gusar. Padahal seharusnya Mas Asrhaf lebih glowing, menilik bagaimana cetarnya seorang Yuni. Tidak seperti aku yang hanya menggunakan krim bayi saja tanpa pernah bisa berdandan. Namun, apa yang kulihat sekarang. Mas Ashraf justru kucel, tidak terurus dan seperti tidak memiliki semangat hidup.
"Kenapa kau berbicara seperti itu, Mas? Melihat bagaimana status kita sebagai mantan suami istri dan kau sudah menikah bahkan memiliki anak, sepertinya ucapanmu sudah tidak pantas lagi," ucapku tenang.
"Aku sedang mengurus proses perceraian dengan Yuni."
Aku berpura-pura terkejut mendengar kabar itu. Padahal sebelummya aku sudah tahu semuanya. Ya, aku hanya ingin mendramatisir keadaan aja. Haha.
"Kenapa, Mas? Aku sungguh tidak percaya. Seharusnya sekarang ini kalian sedang menikmati masa bahagia karena sudah memiliki anak. Bukan seperti saat denganku, yang tidak juga memiliki anak bahkan sampai dikatakan mandul." Aku tersenyum miris. Teringat bagaimana dulu Ibu Sumarni terus saja melabel diriku dengan panggilan itu.
__ADS_1
"Aku tidak mau jika wanita yang menjadi istriku bersikap kurang ajar kepada ibuku. Aku tidak mau ia membantah apalagi sampai berbicara keras. Walaupun Ibu statusnya sebagai Ibu Mertua. Tapi aku mau mereka menghormatinya."
Aku mendes*hkan napas ke udara secara kasar mendengar ucapan Mas Ashraf. Lelaki itu sungguh sangat egois dan bersyukur aku sudah bercerai darinya. Aku tidak percaya bagaimana lelaki itu tidak belajar dari pengalaman ketika membina rumah tangga denganku. Aku yakin, alasan mereka bercerai bukan hanya karena bayi yang 'mungkin bukan' milik Mas Asrhaf, tetapi karena lelaki itu tidak berubah.
Aku jadi ingat pepatah yang mengatakan bahwa watak dan watuk(batuk) itu berbeda. Jika Watuk(batuk) diobati bisa sembuh, tapi watak mau sampai mati pun tetap tidak akan sembuh. Ya, seperti Mas Asrhaf ini yang berwatak egois.
Jujur, mendengar Mas Ashraf berbicara seperti itu justru membuatku ingin tertawa keras. Bukan malah menaruh simpati. Aku lebih dulu merasakan apa yang Yuni rasakan sehingga aku lebih paham. Mas Ashraf sepertinya sudah melupakan hal itu.
"Mas, saran aku. Kalau memang kau mau menikah lagi dan langgeng. Maka kau harus bisa mandiri. Jangan membawa istrimu tinggal satu atap dengan ibumu."
"Ya, karena rumah tangga itu ibarat sebuah kerajaan, dan di dalamnya tidak boleh ada dua ratu yang bertahta. Saranku, ketika sudah berumah tangga, lebih baik hidup mandiri walaupun ngontrak daripada tinggal bersama mertua atau orang tua sendiri," nasehatku.
"Wah, kau ternyata sudah pintar menggurui, Ira. Aku tidak percaya itu."
__ADS_1
Kulihat Mas Ashraf tersenyum sinis. Aku tahu, lelaki itu pasti dongkol karena sudah dinasehati. Tidak mau semakin lama berurusan dengannya, aku pun memilih untuk berpamitan dengan dalih tidak enak meninggalkan Elmira terlalu lama.
Namun, Mas Ashraf benar-benar menahanku.
"Lepaskan aku, Mas!"
"Tidak akan! Aku mau kita kembali, Ira!"
"Aku tidak mau!" tolakku mentah-mentah. Sudah cukup dulu aku terluka karenanya dan aku tidak sudi jika harus jatuh di lubang yang sama.
"Ira ...."
"Lepaskan dia!"
__ADS_1
Suara seseorang dari belakangku berhasil menghentikan perdebatan kami.