Diamnya Seorang Menantu

Diamnya Seorang Menantu
DSM-25


__ADS_3

Jujur, aku merasa lelah. Terus didesak oleh majikanku. Menjelaskan hal itu berulang kali. Kujawab pertanyaan Tuan Berto sama persis seperti apa yang kukatakan pada Nyonya Erlin. Lelaki itu memang akhirnya mengiyakan, tetapi dari sorot matanya kulihat ada kekecewaan. 


Ah, mungkin itu hanyalah sebatas perasaanku saja. 


Tidak mau terlarut pada hal yang tidak penting menurutku, kupilih untuk fokus pada pekerjaanku. Itu jauh lebih penting. 


***


Jam sudah menunjuk pukul sepuluh malam, tapi mataku masih saja terjaga. Susah sekali untuk terpejam. Apalagi sejak tadi kurasakan jantungku berdebar kencang. Ada rasa gelisah yang begitu kuat kurasakan. 


Dalam hati terus kurapalkan doa semoga semua baik-baik saja dan itu hanyalah sebatas perasaanku saja. 


Ketika masih mencoba untuk bisa tertidur lelap, kudapati pesan dari Tuan Berto yang menyuruhku untuk membuatkan kopi. Lelaki itu bilang sedang lembur. Rasanya malas sekali, tetapi aku harus ingat bahwa di sini tempatku bekerja. 


Aku segera ke dapur dan membuatkan pesanan sang tuan. Setelahnya, aku pun menuju ke lantai dua di mana ruang kerja Tuan Berto berada. Suasana sudah sangat sepi karena semua penghuni rumah sepertinya sudah tidur. 

__ADS_1


Kuketuk pintu tiga kali dan ketika sudah mendengar sahutan dari dalam, aku pun bergegas masuk. Kulihat Tuan Berto sedang sangat serius dengan laptopnya. 


Aku mendekat, menaruh kopi di dekat lelaki itu. Setelahnya, aku berpamitan pergi, tetapi Tuan Berto justru menyuruhku agar tetap tinggal. Jujur, aku takut ketika hanya berdua dengan majikanku ini. Apalagi dalam suasana malam. Aku khawatir akan ada fitnah nantinya. Namun, jika pergi pun aku tidak bisa. Tatapan Tuan Berto terlihat sangat menakutkan jika sedang marah. 


"Duduklah, Ira. Temani aku lembur," perintah Tuan Berto. 


Aku ragu. Hal ini sepertinya tidak baik dan bisa dikatakan tidak wajar menurutku. Aku hanyalah sebatas pembantu di sini. Bukan seorang istri yang akan menemani suaminya lembur. Jujur, aku khawatir. Bagaimana jika Nyonya Erlin tahu aku hanya berdua dengan Tuan Berto. Sungguh, batinku merasa takut wanita itu akan salah paham. 


"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa. Saya harus kembali ke kamar."


"Kenapa? Aku adalah majikanmu dan semua perintahku harus kau turuti, bukan?" Suara Tuan Berto mulai terdengar meninggi dan aku pun memasang kuda-kuda. Bersiap untuk kabur jika lelaki itu menyerang. 


"I-iya, Tuan. Saya tidak mau kalau Nyonya Erlin tahu dan salah paham," sahutku jujur. 


"Dia tidak akan tahu kalau kau tutup mulut." 

__ADS_1


Telunjuk Tuan Berto mengarah tepat ke wajahku. Lihatlah, tatapan Tuan Berto sangat tajam seperti hendak menghunus jantungku. Aku mundur teratur karena sangat takut melihat majikanku yang terlihat sangat menyeramkan. 


"Tu-Tuan ...." 


"Aku sudah memintamu dengan cara baik, tapi kau masih saja menolak, Ira! Memangnya berapa uang yang seharusnya kubayar agar kau mau melahirkan keturunanku?" 


Wajah Tuan Berto terlihat dipenuhi amarah. Membuatku kian merasa takut. Apalagi, semakin lama, jarak antar kita semakin dekat dan aku sudah bersandar di pintu. Kuraih gagang pintu dengan cepat dan hendak membukanya, tetapi gerakan Tuan Berto lebih cepat. Lelaki itu sudah merengkuh tubuhku dan membawanya ke sofa. 


Tubuhku gemetar hebat bahkan keringat dingin sudah mengucur deras. Aku menangis. Meminta Tuan Berto agar tidak melakukan hal yang lebih lagi. Walaupun statusku janda, tapi aku bukanlah wanita murahan yang bisa diajak bercinta oleh siapa saja. 


"Saya mohon, jangan lakukan  apa pun pada saya, Tuan." 


Aku bergidik ngeri. Apalagi saat melihat senyuman licik di sudut bibir Tuan Berto. 


"Jika dengan cara baik tidak bisa, maka aku harus melakukannya dengan kekerasan. Apa pun akan aku lakukan demi punya keturunan. Kalau tidak, siapa yang akan meneruskan bisnisku ini, ha!" 

__ADS_1


Aku menggeleng sambil terus meronta. Dalam tangisku berdoa semoga ada yang datang untuk menolongku. 


__ADS_2