Diamnya Seorang Menantu

Diamnya Seorang Menantu
DSM-37


__ADS_3

Aku terkejut, begitupun dengan Mas Ashraf saat melihat Pak Danu berjalan mendekat. Lihatlah pria tampan itu. Berjalan dengan gagah dan berkelas. Berbeda dengan Mas Ashraf yang terlihat sangat sederhana. Secara kepribadian pun mereka sangat berbeda. 


"Pa-Pak Danu," panggilku gugup. 


Lelaki itu berdiri tepat di depanku sambil tersenyum simpul. Senyumnya sungguh sangat menawan. Hatiku pun berdesir karenanya. Namun, sepersekian detik selanjutnya, aku menggeleng. Merutuki diriku sendiri yang sudah selancang itu. 


"Kau siapa!" 


Suara Mas Ashraf seketika menyadarkanku dari lamunan. Kutoleh lelaki itu dan lihatlah wajahnya yang terlihat jelas sedang menahan kesal. 


"Aku? Sepertinya bukan urusanmu." 


Pak Danu benar-benar tenang ketika menjawab pertanyaan Mas Ashraf. Sama sekali tidak terlihat takut meskipun Mas Ashraf sudah melotot tajam, bahkan bola matanya seperti akan lepas dari tempatnya. 


"Tentu saja itu menjadi urusanku karena Ira adalah mantan istriku." Dengan tidak tahu dirinya Mas Ashraf menjawab seperti itu. 


Aku pun tersentak ketika mendengar tawa Pak Danu yang begitu menggelegar. Ini pertama kali aku mendengarnya karena selama ini yang kulihat hanyalah senyuman saja bukan tawa. 


"Mantan istri? Sejak kapan urusan seorang wanita itu menjadi urusan mantan suaminya? Kau harus tahu, Tuan, setelah kalian resmi bercerai maka semua urusan Ira bukanlah urusanmu lagi." Pak Danu benar-benar berbicara dengan tegas. Sementara aku hanya bisa diam karena tidak tahu harus menjawab apa. 

__ADS_1


"Kau!" Mas Ashraf hampir saja memukul Pak Danu, tetapi entah mengapa lelaki itu justru menggantungkan tangan di udara. Aku pun merasa heran. 


"Kau harus ingat, Tuan. Jika sekali saja kau berani menyakiti apalagi mengusik hidup Ira, maka aku tidak akan segan-segan memberi pelajaran untukmu!" ancam Pak Danu. 


Aku hanya bisa menurut ketika Pak Danu sudah menarik tanganku dan mengajakku pergi dari sana. Bahkan, aku tidak tahu di mana keberadaan Elmira karena sudah kutelusuri setiap sudut, tidak ada satu pun tanda-tanda keberadaan sahabatku itu. 


Mungkin Elmira sudah pulang. Begitulah pikirku.


Pak Danu mengajakku masuk ke mobil. Kutatap lelaki itu dan wajahnya terlihat sangat susah untuk dijelaskan. Ketika Pak Danu menoleh padaku, langsung saja kupalingkan muka. Tidak mau bertatapan dengannya. 


"Katakan padaku kalau lelaki itu kembali mengusikmu," ujar Pak Danu. 


"Tidak papa, aku hanya tidak mau ada orang yang menyakitimu apalagi mantan suamimu," ujarnya lagi. 


Bibirku tersenyum lebar. Apa yang dikatakan  oleh Pak Danu benar-benar membuatku serasa terbang melayang. Sejak saat ini hidupku akan tenang karena memiliki penjaga. Hihi. 


"Terima kasih banyak, Pak. Bapak sudah berbaik hati kepada saya," ucapku bahagia. 


Pak Danu tidak menjawab, hanya mengangguk mengiyakan lalu melajukan mobilnya pergi dari sana. Namun, ketika mobil baru saja berjalan, aku terkejut saat ponselku berdering keras. Kulihat nama Elmira tertera di layar. Lihat saja, aku akan memarahi dia karena sudah tega meninggalkanku. 

__ADS_1


"Mir! Kenapa kau jahat sekali! Ninggalin aku cuma sama Mas Ashraf. Kau ini ...." 


"Kau yang jahat, Ira! Aku sudah menunggumu, tapi kau malah meninggalkanku. Aku masih di tempat semula, dan kulihat kau masuk mobil." 


Aku terpaku. Apakah mungkin ucapan Elmira itu benar. 


"Tapi kau tidak ada tadi, Mir." 


"Karena aku sedang di toilet. Waktu aku lihat kau masuk mobil, sudah kuteriaki, tapi kau tuli. Tau gini, aku tidak akan nunggu kamu, Ra." 


Aku terkekeh mendengar omelan sahabatku. Kupikir Elmira tega meninggalkan aku, ternyata aku yang meninggalkannya.


"Dasar kau! Aku langsung pulang aja." 


Elmira pun mematikan panggilan itu. Kutatap layar ponsel sambil tersenyum simpul. Aku tidak menyangka akan mengalami kejadian seperti ini.


"Kenapa kau senyum  sendiri!" Aku tersentak


 Lalu mengetuk kening karena sudah melupakan satu hal bahwa Pak Danu ada di sampingku.

__ADS_1


"Ma-maaf, Pak."


__ADS_2