Diamnya Seorang Menantu

Diamnya Seorang Menantu
DSM-35


__ADS_3

Saking asyiknya mengobrol aku sampai lupa kalau sekarang ini sedang bekerja. Terus saja mengoceh sampai lupa waktu. Bahkan, bukan hanya Mas Ashraf yang menjadi topik pembicaraan kami. Saking asyiknya aku sampai lupa jika sekarang berada di toko. Justru membicarakan soal Pak Danu. 


Ya, Pak Danu yang sekarang membuatku nyaman saat bercerita bahkan sejak kapan aku mulai mengagumi Pak Danu, aku tidak pernah menyadari itu. Dan semuanya kuutarakan kepada Elmira tanpa ditutupi. 


"Iyalah, udah pasti Pak Danu itu lebih baik dari Mas Ashraf. Lebih tampan, gagah, dan ya ... kau tahulah, Mir." 


"Ehem!" 


Aku tersentak saat mendengar suara dehaman dari arah belakang. Walaupun belum menoleh, tetapi aku tahu dan paham siapa pemilik suara itu. Ucapanku yang belum selesai tadi pun tercekat di tenggorokan. Dengan kecepatan super, segera kumatikan panggilan tersebut dan menggenggam ponsel itu dengan erat. 


Lalu aku berbalik. Benar saja, Pak Danu berdiri di belakangku dengan sorot mata yang menajam. Segera aku menunduk untuk menghindari pandangan lelaki itu. 


"Kau tahu ini sedang berada di jam kerja, Ira!" Suaranya terdengar tegas. 

__ADS_1


"Ma-Maaf, Pak." Aku menjawab dengan terbata. Takut pada kemarahan lelaki itu. 


Apalagi sekarang ini Pak Danu sudah mengajakku masuk ke ruangannya. Ya Tuhan, aku terus merapalkan doa dalam hati semoga aku bisa keluar dalam keadaan baik-baik saja dari ruangan Pak Danu. 


Di dalam ruangan itu, aku merasa seperti sedang di persidangan. Di mana Pak Danu menatapku dengan penuh selidik. Menuntutku untuk menjawab setiap pertanyaannya dengan jujur. 


"Jadi, mantan suamimu sudah bercerai dengan istri barunya?" tanya Pak Danu. 


"Em, Ira ...." Pak Danu diam dan meragu. Aku pun terus menatap karena merasa penasaran dengan kelanjutan ucapannya. Melihat aku yang menatapnya, Pak Danu justru memalingkan wajah. Membuatku merasa tidak enak hati. 


"Kenapa, Pak? Kenapa Bapak malah diam saja?" tanyaku tidak sabar sendiri karena dalam hati aku merasa cemas Pak Danu akan memecatku. Masalahnya apa? Tentu saja karena aku menelpon dan justru berghibah saat berada di jam kerja. 


"Tidak jadi. Sepertinya pertanyaanku tidak penting juga. Lebih baik kau kembali bekerja," ucap Pak Danu. 

__ADS_1


Ah, padahal aku sangat kepo, tetapi Pak Danu benar-benar memaksaku supaya lekas kembali bekerja. Aku pun hanya bisa menurut saja tanpa membantah perintah Pak Bos. Ya, walaupun aku merasa sangat penasaran karena Pak Danu yang mengurungkan pertanyaannya. 


***


Malam ini Elmira mengajakku membeli nasi goreng lesehan pinggir jalan. Padahal rasanya malas sekali, tetapi Elmira memaksa. Katanya, karena lusa ia harus kembali ke Jakarta. Dengan terpaksa, aku pun mengiyakan permintaan sahabat baikku itu. 


Kami berdua benar-benar menikmati momen bersama. Makan, bercanda dan saling bertukar cerita. Aku terkejut ketika Elmira mengatakan bahwa dua bulan lagi ia akan pulang. Bukan hanya cuti, tetapi berhenti bekerja. Bukan tanpa alasan, Elmira mengatakan bahwa ia akan menikah dengan kekasihnya yang berada di luar kota. 


Tentu saja hal tersebut menjadi kabar paling membahagiakan untukku. Berbagai doa dan nasehat kukatakan kepadanya. Walaupun aku gagal membina rumah tangga, setidaknya aku sudah sedikit paham bagaimana orang berumah tangga. 


Setelah cukup lama saling mengobrol, Elmira hendak mengajak pulang, tetapi aku terkejut ketika melihat Mas Ashraf berdiri di seberang jalan. Dengan cepat aku menunduk. Berharap lelaki itu tidak melihatku. Namun, ternyata aku salah. Walaupun aku menghindar, tetap saja Mas Ashraf bisa menahanku. 


"Ira, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." 

__ADS_1


__ADS_2