
"Du-Duda? Jadi, Pak Danu ini duda anak dua? Eh!"
Ibuku sudah menepuk bibirku pelan.
"Jangan ngawur kau, Ira." Ibuku mulai mendelik. Aku pun hanya bisa cengengesan.
Kulihat Pak Danu yang masih memasang wajah datar, sedangkan Mamanya Pak Danu tersenyum simpul.
"Putraku memang duda, tapi belum punya anak," ucap Tante Anjani.
Kuembuskan napas lega. Ternyata kita sama-sama belum punya anak. Aku pun terkekeh sendiri dalam hati. Menggunakan metode cocoklogi, antara janda dan duda yang sama-sama belum memiliki anak. Cocok bukan? Hahaha. Rasanya ingin tertawa dengan pemikiranku sendiri.
"Kupikir anak kau ini belum menikah, Anjani. Kalau anakmu duda, pas banget sama anakku yang seorang janda," ujar Ibuku membuka kartuku.
Mampus.
Lihatlah Pak Danu dan Tante Anjani terlihat membulatkan mata dengan penuh. Sepertinya mereka pun sama terkejutnya seperti aku tadi. Segera kutundukkan kepala ketika menyadari tatapan Pak Danu yang mengarah padaku.
Aku salah tingkah sendiri, kan.
Di sela obrolan kedua wanita itu yang membahas tentang status anak mereka yang janda dan duda. Aku yang malu pun hanya bisa menunduk sambil menyantap makananku. Berpura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka.
Setelah setengah jam lebih melewati adegan menyebalkan itu, akhirnya kami pun pulang. Aku bisa bernapas lega. Setidaknya, diriku ini berhenti menjadi topik pembicaraan selain itu aku pun tidak terlihat salah tingkah di depan Pak Danu.
__ADS_1
"Ira. Jadi, kau bekerja di tempat Danu? Ya ampun, ini memang sebuah kebetulan," ujar Ibuku saat kami baru masuk rumah.
Kuhela napas panjang. "Kenapa, Bu? Jangan bilang mau jodohin kami. Ira tidak mau. Ira masih ingin bebas dan tidak mau terikat apa pun dulu."
Ibuku menatap penuh ke arahku ketika mendengar ucapanku. Aku yakin wanita itu pasti akan mengomel. Sebelum wanita itu marah-marah, aku lebih memilih untuk masuk kamar dan tidur. Besok masih berkerja seperti biasa dan aku pun harus menguatkan mentalku bertemu Pak Danu setelah kejadian tadi.
Ya Tuhan, aku tidak bisa membayangkan bagaimana sikapku besok ketika berhadapan langsung dengan Pak Danu.
***
"Ira."
Aku merasa gugup, ketika sedang menata barang di etalase, terdengar suara Pak Danu yang memanggil. Aku pun langsung bangkit dan menatap lelaki itu. Entah mengapa, aku merasa tatapannya terlihat berbeda.
"Ikut ke ruanganku," perintahnya.
"U-untuk apa?" tanyaku takut.
Bukannya menjawab, Pak Danu justru melangkah pergi begitu saja. Dengan terpaksa, aku pun mengekor di belakang. Ketika masuk ke ruangan Pak Danu, suasana mendadak tegang. Tubuhku mendadak panas dingin dan berkeringat. Entah mengapa, aku merasa takut Pak Danu akan berkata yang tidak-tidak.
"Ira," panggilnya lirih. "Apa kau sudah lama menjadi janda?"
Aku bingung bagaimana menjawab pertanyaan Pak Danu.
__ADS_1
"Em, maaf. Sepertinya pertanyaanku terlalu lancang. Jangan dijawab kalau kau tidak suka," ujarnya.
Kutatap wajahnya yang terlihat gugup. Lucu juga ya. Padahal biasanya wajahnya terlihat sangar.
"Tidak papa, Pak. Saya masih janda kembang, Pak. Baru beberapa bulan lalu bercerai."
Yaelah, kenapa justru aku merasa seperti wanita genit. Segera kututup mulut karena keceplosan, tapi lihatlah, Pak Danu justru tersenyum lebar.
"Berarti janda anget, ya."
Eh, tunggu dulu. Pak Danu bilang apa tadi, janda anget?
"Anget seperti tahu bulat, ya, Pak." Aku balas bercanda agar suasana tidak tegang.
"Kau suka bercanda juga ya." Pak Danu mulai tersenyum lagi dan suasana pun terasa santai. "Kenapa kau bercerai? Kupikir kau adalah wanita baik-baik."
Sungguh aku kesal dengan pertanyaan Pak Danu yang bisa saja membuat salah paham.
"Saya memang wanita baik, Pak. Yang tidak baik itu suami eh mantan suami saya," ucapku pada akhirnya.
Kening Pak Danu terlihat mengerut dalam. "Kenapa begitu?" tanya Pak Danu.
"Ya, tidak kenapa-napa. Mana mungkin suami baik kalau ia tega bermain di belakang dan selingkuh. Bahkan, sekarang mantan suami saya sedang menikmati masa ngidam bersama istri barunya. Itu yang kemarin beli kasur bayi di sini, yang Pak Danu bilang saya kurang ramah kepada pelanggan. Itu mantan suami saya dan istri barunya."
__ADS_1
Aku berceloteh sepanjang itu tanpa sadar.