Diamnya Seorang Menantu

Diamnya Seorang Menantu
DSM-42


__ADS_3

Aku sungguh tidak tega atas apa yang menimpa Mas Ashraf dan Ibu Sumarni. Padahal semua ini mungkin adalah karma yang harus mereka terima karena dulu pernah bersikap tidak baik padaku. Ingin sekali aku membantu mereka. Namun, kulihat tatapan Pak Danu yang terlihat penuh arti padaku.


"Jangan mudah terbawa emosi oleh mereka. Mungkin sekarang mereka bilang akan berubah dan bersikap baik padamu. Tapi, kita tidak akan pernah tahu bagaimana kedepannya." Pak Danu berbicara dengan yakin. Membuat hatiku seketika bimbang.


"Kau jangan memengaruhi Ira!" bentak Mas Ashraf. Menunjuk wajah Pak Danu.


Jujur, aku membenci sikap Mas Ashraf yang seperti itu. Ia masih sama seperti dulu. Tempramental.


Bapakku yang sudah tidak sabar pun segera memanggil keamanan. Meminta mereka untuk mengusir Mas Asrhaf. Namun, aku tidak yakin semua akan baik-baik saja jika Mas Ashraf hanya diusir. Aku khawatir lelaki itu akan makin membabi buta.


Akhirnya, kuberanikan diri. Melepas rangkulan Pak Danu dan berjalan mendekati Mereka. Pak Danu hendak menahan, tetapi ku yakinkan padanya kalau semua pasti baik-baik saja. Meskipun hanya lewat kedipan mata.


"Mas, aku turut bersedih atas apa yang menimpamu. Aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan lekas memberi kemudahan kepadamu dan Ibu."

__ADS_1


"Ira, apa kau tidak mau kembali padaku. Aku salah karena sudah menyiakan wanita sebaik dirimu." Mas Ashraf hendak menggenggam tanganku, tetapi aku segera menyingkir.


Aku menggeleng lemah. "Maaf, Mas. Aku tidak bisa. Aku sekarang sudah resmi menjadi istri Pak Danu. Lelaki yang bisa menerimaku apa adanya."


"Dia bukan lelaki yang baik untukmu, Ira!" hardik Pak Danu.


"Apa menurutmu kau adalah lelaki yang baik untukku? Jawabannya tidak, Mas. Dua tahun lebih menjalin rumah tangga denganmu membuatku sangat paham bagaimana sifat asli kau dan ibumu." Ku hentikan ucapanku untuk menghirup napas dalam. "Pergilah, Mas. Jangan pernah mengusik kehidupanku lagi. Bukankah ketika kau sudah menikah dengan Yuni, aku sama sekali tidak mengusik kehidupanmu?"


"Bu, saya mohon. Saya sudah bahagia sekarang. Saya yakin kalau Tuhan akan memberi jalan pada kalian. Kalau sampai kalian tetap di sini dan membuat masalah, mungkin saya akan bersikap tegas," ancamku. Menyela ucapan Ibu Sumarni.


Kulihat wajah Ibu Sumarni yang terlihat sangat kesal. Lalu menarik tangan Mas Ashraf dan mengajaknya keluar dari tempat acara. Aku pun bernapas lega. Walaupun Ibu Sumarni terus mengumpat dan mengomel, tetapi aku tidak peduli. Yang terpenting mereka tidak menganggu kehidupanku lagi.


Setelah kepergian mereka. Acara pun dilanjut lagi. Suasana yang tadi penuh ketegangan, kini terlihat santai dan penuh canda tawa. Aku pun mengikuti serentetan acara yang cukup menguras tenaga.

__ADS_1


***


Kutatap kamar pengantin yang terlihat sangat cantik karena dipenuhi oleh taburan bunga mawar. Wangi semerbak bunga itu terasa masuk ke indera penciuman dan membuatku merasa makin gugup. Sebentar lagi aku akan di unboxing oleh Pak Danu. Aku tidak bisa membayangkan segugup apa diriku nanti.


Setelah semua gaun pengantin dilepas, aku pun langsung membersihkan diri. Sementara Pak Danu masih di luar karena ada beberapa rekan kerja yang harus ditemui. Di kamar mandi, aku berendam air hangat dengan lama. Untuk sedikit mengurangi rasa lelah dan tulangku yang terasa seperti akan patah.


Hampir setengah jam berlalu, aku pun menyudahi. Memakai jubah mandi lalu bergegas masuk ke kamar. Tepat ketika aku sampai di kamar, Pak Danu baru saja mengunci pintu. Suasana di kamar itu pun mendadak dingin. Aku merasa sangat gugup dan hanya bisa menunduk dalam.


"Kau sudah mandi, Ira?"


Aku hanya mengangguk pelan. Jemariku saling merem*s ketika kudengar langkah Pak Danu yang makin mendekat. Bahkan, kurasakan wajah Pak Danu sangat dekat denganku.


"Apa kau sudah siap, Ira?" bisiknya, tepat di telinga hingga membuat tubuhku meremang seketika.

__ADS_1


__ADS_2