
"Sial banget aku hari ini."
Kulempar tas ke atas kasur lalu menghempaskan tubuhku di sana. Seharian ini keadaan membuatku benar-benar badmood.
Jatuh di atas tubuh Pak Danu seperti di sinetron, bertemu dengan Mas Ashraf dan Yuni. Belum lagi, Pak Danu yang mengomeliku karena melayani pelanggan kurang maksimal. Andai Pak Danu tahu kalau yang kulayani adalah mantan suamiku, pasti akan lain lagi perintah Pak Danu.
Eh, tapi apa peduli Pak Danu? Bukankah hal itu tidak penting. Mau yang datang berhubungan apa denganku, sudah pasti pelayanan memuaskan yang harus dimaksimalkan.
Jangan terlalu kepedean, Ira.
Aku ngegrundel dalam hati sendiri. Entah mengapa, sejak pertama kali melihat Pak Danu, seperti ada magnet kuat di hati yang membuatku selalu terbayang oleh lelaki itu.
Tidak mau semakin larut pada pikiranku yang ngawur. Lebih baik kuambil handuk dan membersihkan diri sebelum makan malam dengan keluargaku. Aku bahkan lupa kalau malam ini kami akan makan di luar. Bapak yang baru gajian sengaja mengajak kami makan di warung lesehan.
***
"Aku mau pesan kwetiau super pedas saja, Bu."
__ADS_1
Aku memesan makanan kesukaanku sejak dulu. Makanan apa pun yang sangat pedas selalu menjadi obat jika hatiku sedang tidak tentu. Itulah mengapa aku merasa beruntung sekarang ini. Di saat suasana hatiku sedang tidak baik-baik saja, keluargaku mengajak makan di luar. Tanpa pikir panjang, langsung kuiyakan saja.
"Jangan terlalu pedas, Ira. Sayangi lambungmu," nasehat ibuku.
"Kalau tidak pedas tidak berasa, Bu. Kurang nampol," sahutku asal. Ya, padahal itu memang jawaban jujur dariku. Aku ini termasuk salah satu manusia pecinta pedas.
Mereka pun tidak menjawab lagi, hanya saja saat memesan, Ibu meminta pesananku hanya pedas saja bukan super pedas.
Ah, tidak apa. Setidaknya ada yang bisa mengembalikan mood baikku.
Em, tidak ada yang salah, sih. Semua bebas makan di mana pun, tapi untuk ukuran seorang pengusaha muda seperti Pak Danu, biasanya tempat makannya adalah restoran mewah dan tempat nongkrongnya adalah kafe-kafe ternama.
Ah, masa bodoh. Kenapa jika berkaitan dengan Pak Danu, aku selalu memikirkan sampai jauh sekali. Jika diibaratkan seperti dari Sabang sampai Merauke. Eh, lebay juga ya.
Dengan terpaksa aku tersenyum kepada Pak Danu. Sepertinya lelaki itu juga kaget dengan keberadaanku. Lihat saja, wajahnya pun tampak terkejut, tapi memaksa senyumnya. Pak Danu tidak datang sendirian, tapi bersama dengan wanita paruh baya yang kuduga kalau itu adalah ibunya. Wajah mereka sangatlah mirip menurutku.
Hanya sebatas saling melempar senyum saja sudah membuat suasana mendadak canggung apalagi kalau kita makan dalam satu meja yang sama. Aku tidak bisa membayangkan segrogi apa diriku nanti.
__ADS_1
Eh, tunggu dulu. Kenapa wanita itu meninggalkan Pak Danu dan datang ke mejaku. Perasaanku pun mendadak gugup. Tiba-tiba merasa cemas sampai membuatku seperti ingin buang air besar, tapi kutahan.
"Sukini."
Aku kian melongo, ketika mendengar wanita itu memanggil nama Ibuku. Jangan bilang kalau ....
"Ya ampun, Anjani. Apakah ini kau? Ya Tuhan, kau apa kabar?"
Kedua wanita itu saling berpelukan erat, sedangkan aku hanya melempar tatapan ke arah Pak Danu. Sepertinya kami sama-sama bingung dengan tingkah dua wanita paruh baya yang saat ini masih berpelukan mesra.
"Ya ampun, Sukini. Sudah lama sekali aku mencarimu. Akhirnya, kita bisa bertemu lagi."
"Tentu saja. Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bersahabat sampai selamanya," sahut Ibuku tak kalah antusias.
Tunggu dulu, ini sungguh sangat susah dicerna oleh otak. Bagaimana bisa Ibuku dan mamanya Pak Danu ternyata bersahabat dekat.
Aku benar-benar tidak percaya ini.
__ADS_1