
"Apa yang akan Anda bicarakan, Tuan?" tanyaku memecah keheningan di antara kami. Aku sudah tidak sabar lagi menunggu ucapan Tuan Berto selanjutnya. Hatiku benar-benar merasa cemas ada masalah dengan statusku.
"Ah, tidak jadi. Lebih baik nanti biar istriku saja yang berbicara denganmu." Tuan Berto justru memungkasi pembicaraan kami. Meninggalkan rasa penasaran. Rasanya sudah tidak sabar lagi ingin segera bertemu dengan Nyonya dan bertanya ada apa sesungguhnya.
Dikarenakan pembicaraan yang gagal dengan Tuan Berto, semangat bekerja-ku perlahan menurun. Sepertinya bukan karena aku seorang pemalas, tapi pikiranku yang gelisah dan tidak tenang yang membuatku merasa enggan melakukan apa pun.
Namun, aku tetap akan menyelesaikan pekerjaanku karena itu sudah menjadi kewajiban.
***
Pada malam hari, di saat hendak pergi tidur setelah seharian bekerja, diriku dibuat tersentak karena ada yang mengetuk pintu kamar. Aku hanya diam, lalu bermalasan turun dari tempat tidur. Tepat ketika aku membuka pintu, Nyonya Erlin terlihat berdiri tepat di depanku. Bukan juga sempat bertanya, Nyonya Erlin sudah menarik tanganku agar kembali masuk ke kamar. Yang membuat makin heran adalah Nyonya Erlin justru mengunci pintu kamar dan memegang kuncinya dengan kuat-kuat.
Wanita itu duduk di atas kasur, sedangkan aku masih tetap berdiri. Bahkan, kutundukkan kepala tanpa berani Nyonya Erlin sama sekali.
"Ira."
Kudengar suara Nyonya Erlin begitu berat dan lirih. Kuangkat sedikit kepala dan kulihat Nyonya Erlin sedang menatapku dengan tatapan yang susah dijelaskan. Bahkan, aku sendiri tidak bisa menyelami arti tatapan itu.
"Duduklah. Ada hal penting yang akan kubicarakan denganmu."
Kulihat Nyonya Erlin menepuk perlahan tempat di sampingnya. Seolah memberi kode agar aku duduk di sana. Aku mengangguk pelan lalu duduk di samping wanita itu.
__ADS_1
Aku masih tetap diam tanpa berani mengucap sepatah kata pun. Hanya akan berbicara jika Nyonya Erlin sudah menyuruh untuk bicara.
"Ira, aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa, Nyonya?" tanyaku menuntut jawaban.
"Aku ingin menyewa rahimmu. Biarkan benih Mas Berto tumbuh di rahimmu dan setelah lahir nanti, aku akan mengadopsinya. Berapa pun uang yang kau mau, aku akan membayarnya."
Bola mataku membulat penuh. Mendengar permintaan Nyonya Erlin yang jauh dari perkiraan.
Sewa rahim?
Mengandung benih majikanku sendiri?
Aku tidak mau melakukan itu.
"Mohon maaf, Nyonya. Tapi saya tidak bisa."
Langsung saja kutolak permintaan majikanku itu. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Nyonya Erlin.
"Kenapa? Kau bisa menikah secara siri dengan Mas Berto agar Ibu Mertuaku tidak curiga. Sekaligus percintaan kalian bukanlah sebuah zina."
__ADS_1
Kuhela napas panjang mendengar ucapan Nyonya Erlin. Jika seperti itu idenya, bukankah artinya aku setuju berbohong kepada Nyonya Besar? Aku sungguh tidak mau. Dosaku sudah banyak dan aku tidak mau semakin menambahnya dengan cepat.
"Nyonya, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak bisa melakukan itu."
Kulihat Nyonya Erlin menghirup napas secara dalam. Bahkan, matanya sudah terlihat berkaca-kaca. Wanita itu terlihat sangat menyedihkan daripada aku yang ditinggal selingkuh oleh Mas Ashraf.
"Aku bingung, Ra." Raut wajah Nyonya Erlin terlihat murung. Membuat hatiku menjadi tidak tega padanya.
"Bingung kenapa, Nyonya? Kalau memang ada yang akan Anda ceritakan, maka ceritakanlah. Kita sama-sama wanita dan saya berjanji akan menjaga apa yang Anda ceritakan dari siapa pun."
"Ira, sebelum aku menceritakan masalahku. Menurutmu apa yang kau lihat dari hidupku?" Nyonya Erlin justru bertanya balik.
"Em, hidup bahagia. Banyak harta, punya suami penyayang dan Ibu Mertua yang sangat baik. Nyonya Besar sudah memperlakukan Anda dengan sangat baik itu saja sudah luar biasa menurut saya, Nyonya. Padahal Anda hanyalah anak menantunya," ujarku. Sesuai dengan pandanganku sendiri.
"Ya, orang-orang yang melihatku memang menganggap hidupku sangat bahagia, tapi tidak dengan apa yang kurasakan. Ira ... kau tahu, sebenarnya hatiku hampa." Nyonya Erlin menghela napas panjangnya lagi. "Lebih dari sepuluh tahun menikah dengan Mas Berto, aku belum memiliki keturunan. Hal yang paling diidamkan oleh aku dan suamiku juga keluarga besar kami."
"Nyonya, bersabarlah. Mungkin memang belum waktunya. Kalau sudah rezeki tidak akan ke mana, Nyonya." Kucoba menguatkan hati Nyonya Erlin.
"Bukan belum waktunya, tapi memang tidak ada waktunya lagi. Aku dan Mas Berto sudah mencoba segala cara, tetapi hasilnya tetap tidak ada. Yang kuterima justru kenyataan pahit. Ira ... aku mandul."
Deg!
__ADS_1
Jantungku serasa berhenti berdetak dalam beberapa detik. Kutatap Nyonya Erlin yang sedang memejamkan mata, tetapi bulir bening terlihat mengalir dari kedua sudut mata wanita itu.
Aku sungguh merasa tidak tega melihat Nyonya Erlin menangis. Sebagai seorang wanita, aku paham bagaimana perasaan wanita itu.