
"Me-Menikah? Dengan Anda?"
Aku gugup sendiri. Ini diluar dugaan. Pak Danu mengajakku menikah padahal kami tidak memiliki hubungan spesial apa pun selama ini. Bibirku benar-benar terkatup rapat. Hendak berbicara apa saja, aku tidak tahu.
"Ira, maaf kalau aku terlalu lancang. Aku tidak akan memaksamu untuk menjawab sekarang. Jawablah sesuai dengan kata hatimu. Kalau memang kau mau menolak, tidak apa. Itu lebih baik daripada memaksa hatimu untuk mencintaiku," ujar Pak Danu.
Ya Tuhan, hatiku meleleh mendengar ucapannya. Benar-benar meneduhkan. Benar kata Pak Danu, aku harus memikirkan semuanya terlebih dahulu. Jangan sampai aku gegabah dan salah mengambil langkah. Aku pun segera berpamitan untuk masuk ke rumah karena tidak ingin berada dalam situasi yang canggung secara terus-menerus.
Setelah mobil Pak Danu lenyap dari pandangan. Aku pun bergegas masuk dan segera kucari orang tuaku. Menceritakan hal yang tadi diutarakan oleh Pak Danu. Kulihat, Ibu begitu antusias dan memintaku agar langsung menyetujui. Katanya sudah tidak sabar ingin menjadikan Pak Danu sebagai menantu kesayangan. Kalau Bapak lain lagi, ia justru memintaku memikirkan matang-matang. Kalau hatiku masih ragu, lebih baik jangan langsung diterima.
Berdebatlah kedua orang itu sampai akhirnya aku masuk kamar untuk memikirkan semuanya.
***
Setiap malam aku benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak. Selalu kepikiran Pak Danu. Apalagi jika sedang berada di tempat kerja, rasanya sangat canggung. Serba salah saja. Mau melakukan apa pun serba tidak enak.
__ADS_1
Dua Minggu setelah Pak Danu mengajak menikah, aku belum bisa memberi jawaban. Pak Danu pun tidak bertanya lagi. Lelaki itu diam dan tidak membahas hal itu lagi. Sementara hatiku masih sedikit ragu.
Hari ini Pak Danu berpamitan padaku. Katanya akan pergi dalam waktu yang lama. Mungkin sebulan, dua bulan, atau bahkan setahun. Belum bisa ditentukan. Aku lemas. Kenapa Pak Danu mau pergi selama itu. Mungkinkah lelaki itu mau menghindar karena belum juga mendapat jawaban.
Ah, aku tidak mau asal menebak. Mungkin memang Pak Danu sedang ada kepentingan.
"Kenapa lama sekali, Pak?" Tanpa sadar pertanyaan tersebut keluar dari mulutnya.
"Memangnya kenapa? Apa kau takut merindukanku?" Pak Danu tersenyum licik.
"Em, Ira. Sebelum aku berangkat. Nanti aku ingin makan denganmu di sebuah restoran. Kuharap kau bisa datang karena nantinya, pertemuan kita yang akan menentukan apakah aku jadi berangkat atau tidak."
"Maksudnya, Pak?" tanyaku bingung. Tidak paham apa maksud Pak Danu.
Lelaki itu bukannya menjawab justru pergi begitu saja. Meninggalkanku dengan rasa penasaran yang begitu memenuhi hati. Daripada kian gelisah, aku pun berusaha menghibur diri dengan kembali fokus bekerja.
__ADS_1
***
Malam ini aku sengaja berdandan cantik. Memakai gaun panjang, tidak seperti biasa. Entah mengapa, aku ingin terlihat spesial di mata Pak Danu. Dengan gegas langkahku menuju ke restoran tempat kami memiliki janji temu.
Ternyata, Pak Danu menyiapkan kejutan untukku. Makan malam kami terlihat romantis bahkan ini adalah hal pertama yang pernah kudapati semenjak dulu. Ketika menikah dengan Mas Ashraf, aku belum pernah merasakan kejutan seromantis ini.
Ketika aku sudah duduk di depan lelaki itu, ternyata Pak Danu kembali mengulangi pertanyaan yang dulu. Mengajakku untuk menikah, tetapi kali ini Pak Danu ingin jawaban yang jelas. Lelaki itu bilang jika aku menerima lamarannya, maka kami akan menikah bulan depan. Jika aku menolak maka Pak Danu akan pergi dalam waktu yang lama.
Aku bimbang. Meminta waktu untuk memikirkan sudah tidak mungkin lagi.
"Aku butuh jawabanmu sekarang, Ira. Jangan takut jika kau mau menolak atau menerima karena semua keputusanmu akan kuterima dengan lapang dada."
Kutatap wajah Pak Danu yang terlihat begitu memohon.
"Pak Danu, maaf ...."
__ADS_1