Diamnya Seorang Menantu

Diamnya Seorang Menantu
DSM-40


__ADS_3

"Maaf? Kenapa kau meminta maaf, Ira? Apa kau akan menolak ku?" tanya Pak Danu sambil menggoyangkan kedua lenganku.


Bibirku mencebik kesal. "Apa Pak Danu termasuk orang yang tidak sabaran?" sarkasku.


Sepertinya Pak Danu paham apa yang ku maksud. Lelaki tersebut langsung menurunkan kedua tangannya dari lenganku. Lalu berdeham keras dan meminta maaf. Dalam hati, aku tergelak keras. Pak Danu terlihat lucu jika sedang dalam situasi seperti tadi.


"Em, Ira. Aku butuh jawabanmu, bukan kata maafmu."


Kulihat Pak Danu menghela napas panjang. Sementara aku menahan tawa. Ya Tuhan, menggemaskan sekali bosku yang satu ini.


"Jadi, gini Pak Danu. Saya memang belum memberi keputusan apa yang akan saya ambil. Tapi setelah memikirkan dengan matang-matang. Saya ingin meminta maaf pada Anda. Maaf ...." Aku sengaja menghentikan ucapanku untuk menghirup napas dalam. Sekaligus melihat raut wajah Pak Danu yang terlihat lucu.


Pak Danu terlihat tidak sabar, tetapi ia hanya diam dan menunggu kelanjutan ucapanku.


"Maafkan saya, Pak. Kalau semisal saya menikah nanti, saya belum bisa menjadi istri yang baik untuk Anda. Atau bahkan saya tidak bisa langsung memberi Anda keturunan," ucapku lirih.

__ADS_1


Bayangan masa lalu. Kegagalan saat membina rumah tangga bersama Mas Ashraf membuatku ragu ketika hendak membuka lembaran baru. Namun, pada akhirnya aku meyakinkan diriku sendiri untuk tidak kalah terhadap keadaan. Harus kubuktikan kepada Mas Asrhaf bahwa aku baik-baik saja dan bisa hidup lebih baik setelah bercerai dari lelaki tersebut.


"Ira, apa itu artinya kau menerima pinanganku?" tanya Pak Danu mengulangi.


Kutatap wajahnya yang terlihat penuh harap. Lalu mengangguk pelan setelahnya. Ucapan syukur terdengar dari bibir Pak Danu. Bahkan, lelaki tersebut langsung berterima kasih padaku.


"Kita bisa membina rumah tangga bersama. Saling melengkapi satu sama lain. Kalau kita menikah nanti, aku pun belum tentu bisa menjadi suami yang baik untukmu, tapi kita bisa belajar bersama." Pak Danu menarik kedua tanganku dan menggenggamnya erat.


"Apa Pak Danu yakin pada ucapan Bapak?" tanyaku meragu. Walaupun dalam hati aku sudah bisa merasakan kalau Pak Danu adalah lelaki yang bertanggung jawab. Jelas sangat berbeda dengan Mas Ashraf.


"Baik, Pak. Semoga kita bisa saling bergandengan tangan membangun bahtera rumah tangga," kataku sambil tersenyum simpul.


***


Tanpa terasa, satu bulan berlalu. Besok adalah hari di mana aku dan Pak Danu akan melangsungkan pernikahan. Semua memang sengaja dipercepat. Rasanya sungguh tidak sabar mendengar Pak Danu mengucapkan ijab kabul atas diriku dan kami hidup bahagia bersama selamanya.

__ADS_1


Mendengar aku hendak menikah dengan Pak Danu, Elmira adalah orang yang paling antusias. Bahkan, ia sengaja mengambil libur selama seminggu hanya untuk menemaniku. Aku pun merasa senang atas hal itu.


"Ira, apa kau menghubungi Mas Ashraf untuk mengatakan bahwa kau akan menikah?" tanya Elmira padaku.


Aku menggeleng cepat. "Tentu saja tidak. Buat apa aku menghubungi dia. Toh, dia itu bukan lagi orang yang penting untukku."


"Tapi, Ira. Sepertinya Mas Ashraf sudah tahu kalau kau akan menikah besok," kata Elmira.


Ku toleh sahabatku tersebut dengan penuh curiga. "Apa kau yang bilang pada Mas Ashraf, Mir?" tanyaku curiga.


Elmira langsung mengangkat kedua jari tanda damai. "Tentu saja bukan. Aku berani bersumpah kalau aku tidak pernah mengatakan apa pun padanya."


"Lalu kenapa kau bisa tahu?" Aku masih saja menaruh curiga.


Elmira tidak menjawab. Ia justru memberikan ponselnya padaku dan menunjukkan sebuah pesan dari Mas Asrhaf. Mungkin karena nomornya sudah ku blokir, jadi ia menghubungi Elmira.

__ADS_1


Mir, kudengar besok Ira akan menikah. Apakah itu benar? Tolong, katakan pada Ira kalau aku masih sayang padanya dan aku tidak mau dia menikah dengan lelaki mana pun. Hanya aku yang boleh memilikinya apalagi sekarang aku sudah bercerai dari Yuni.


__ADS_2