
"Ira," panggil Pak Danu, bosku.
Aku tersentak lalu bangun dan berdiri dengan penuh kegugupan. Sungguh, aku tidak menyangka jika terhanyut dalam suasana tadi. Lihatlah, Pak Danu sudah menatapku tajam. Setelah ini pasti aku akan mendapat hukuman karena sudah bersikap lancang seperti tadi.
"Kembalilah bekerja," perintahnya dan langsung pergi dari depanku begitu saja.
Aku melongo, tidak percaya kalau Pak Danu akan menyuruhku kembali berkerja tanpa berbicara ataupun mengomel seperti biasa. Padahal biasanya, ia akan mudah menghukum karyawannya yang berani menyentuhnya apalagi sampai bertindihan seperti tadi. Aku pun tidak mau ambil pusing, mungkin Dewi Fortuna memang sedang memihak kepadaku.
Kutatap punggung lelaki itu yang perlahan menjauh, setelah bayangannya benar-benar tidak terlihat, aku pun langsung menuju kembali bekerja walaupun bayangan tadi terus mengusik. Bagaimana aku bertatapan dengan Pak Danu menciptakan gelayar aneh yang belum pernah kurasakan bahkan ketika bersama dengan Mas Ashraf sekalipun.
Namun, sepersekian detik selanjutnya, kuhirup napas dalam. Aku tidak boleh seperti ini. Tidak pantas jika memikirkan Pak Danu sampai sejauh ini. Hubungan kami hanyalah sebatas bos dan karyawan dan tidak sepatutnya aku memikirkan hal yang lebih.
Ketika sedang sibuk menata barang di etalase, aku terkejut melihat Mas Ashraf dan Yuni masuk ke toko. Rasanya sangat benci melihat mereka apalagi Yuni yang terlihat centil. Terus saja menggandeng Mas Ashraf. Seolah sedang memanasi hatiku padahal aku merasa biasa saja.
Ah, Mas Ashraf masih seperti dulu. Jika digandeng di depan umum, ia akan menunjukkan ketidak-sukaan. Sangat cuek. Sama seperti saat bersamaku dulu. Wajahnya akan terus cemberut. Seperti sekarang ini.
__ADS_1
Sebelum mereka mengetahui keberadaanku, lebih baik bersembunyi saja. Namun, sial! Pak Danu yang sudah keluar lagi entah sejak kapan, menyuruhku untuk melayani mereka. Ingin ku berteriak keras dan meminta agar yang lain saja, tetapi aku tidak memiliki keberanian untuk melakukan itu.
Ya Tuhan, bagaimana bisa aku melayani mantan suamiku bersama istri barunya. Namun, inilah pekerjaan yang harus kulakukan. Walaupun dengan berat hati, tetap saja aku mendekati mereka.
Kulihat Mas Ashraf yang tampak terkejut melihatku. Begitu pun dengan Yuni. Entah wanita itu memang benar terkejut atau pura-pura saja karena aku merasakan hal mencurigakan. Hatiku merasa yakin kalau Yuni sudah mencari informasi tentangku dari siapa pun. Aku yakin itu.
Aku harus profesional. Di depan mereka aku melayani dengan sepenuh hati. Seperti melayani pembeli yang lain. Sangat ramah dan penuh senyum. Walaupun dalam hati terus saja mengumpat. Merasa kesal terhadap mereka. Ingin sekali ku usir mereka agar segera pergi. Rasanya tidak betah apalagi saat melihat bibir Yuni yang tampak tersenyum meledek. Rasanya ingin sekali merem*s wajah wanita itu.
Ingat, Ira! Kau harus profesional. Begitulah batinku bergejolak.
***
"Mas, kasur bayinya mau warna apa?"
Ya Tuhan, gemas sekali melihat Yuni yang bermanja seperti itu di lengan Mas Ashraf. Sangat lebay menurutku. Padahal, kalau aku memiliki suami pun pasti akan melakukan hal yang sama. Semanja apa pun tingkah Yuni, tetap saja Mas Ashraf memasang wajah datar. Membuatku kian merasa gemas.
__ADS_1
"Terserah kau saja," sahut lelaki itu dengan ketus.
"Kalau begitu ambil warna biru aja, deh. Kalau lahir cewek atau cowok kan tetap pantas memakai. Kalau pink, nanti kalau yang lahir cowok, sudah pasti akan terlihat jelek." Yuni mengoceh panjang lebar.
Sementara aku tersenyum dalam hati melihat betapa cueknya Mas Ashraf.
Setelah memilih-milih banyak barang, tetapi yang dibeli hanyalah kasur bayi tadi. Ish, sungguh menyebalkan. Padahal aku merasa sudah melayani mereka dengan sepenuh hati.
"Ini barangnya, terima kasih sudah berbelanja." Kutangkup kedua tangan di depan dada sambil tersenyum senang.
Ya, aku senang karena akhirnya mereka pergi juga.
"Hih! Dasar lebay!" Ku berlagak seperti orang yang sedang memukul karena saking gemasnya.
"Ehem!"
__ADS_1
Akan tetapi, aku tersentak ketika mendengar suara dehaman dari arah belakang. Ternyata Pak Danu sedang mendelik tajam ke arahku.
"Maaf, Pak." Kutunjukkan dua jari tanda damai sambil cengengesan.