
Aku tidak menyangka akan kembali tinggal di kampung. Hanya sebentar tinggal di kota. Ah, mungkin memang aku ini ditakdirkan menjadi anak kampung dan tidak cocok tinggal di kota. Orang tuaku pun justru senang saat mengetahui aku pulang kampung. Mereka bilang, lebih tenang jika aku di rumah karena yang mereka tahu, hidup di kota itu berbahaya dan sangatlah bebas. Mereka bilang khawatir jika suatu saat aku akan terjerumus dalam hal yang salah.
Terlihat jelas ya, betapa sayangnya mereka padaku padahal statusku sekarang bukanlah anak perawan yang mesti dijaga. Namun, seorang janda yang bisa saja bebas melakukan apa saja. Bagaimana bisa orang-orang terkadang menilai janda itu sangat buruk.
Hah!
Kudes*hkan napasku ke udara. Terkadang merasa bingung dengan jalan hidup yang mesti ku lalui. Entah akan bagaimana endingnya, sama sekali tidak bisa ku tebak. Yang bisa kulakukan adalah mengikuti garis hidup yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan untukku.
Akhirnya, kucari pekerjaan di kampung dengan modal ijazah SMA yang aku miliki. Tanpa lelah, daripada harus merasakan jenuh yang berkepanjangan di rumah. Setelah hampir seminggu mencari, ada sebuah panggilan dari salah satu toko tempatku melamar. Mereka memberi tahu bahwa aku bisa bekerja mulai besok. Rasanya sungguh sangat senang. Seperti mendapat nilai sempurna saat ujian.
***
__ADS_1
Pagi ini aku sudah berdandan rapi. Menggunakan kemeja juga celana katun. Tak lupa jilbab sebagai penutup kepala agar penampilanku makin rapi. Hari pertama bekerja membuatku sangat bersemangat. Bahkan, saking semangatnya, aku sampai di toko paling awal. Belum ada karyawan yang lain.
Aih!
Tentu saja aku menggerutu dalam hati. Walaupun aku ini termasuk anak rajin, jika terlalu pagi seperti ini sudah pasti akan sangat membosankan. Namun, jika pulang lagi pun, aku tidak mungkin melakukannya. Bisa-bisa terlambat datang dan itu bisa saja membuatku dipecat di hari pertama kerja.
Akhirnya, aku pun menunggu dan menunggu sampai akhirnya toko tersebut buka. Hari pertama bekerja tentu saja masih membuat bingung. Tidak tahu apa yang harus dilakukan pertama kali. Kulihat karyawan yang lain mengambil sapu dan membersihkan ruangan tersebut. Aku pun hendak melakukan hal yang sama. Namun, langkahku terhenti. Saat dipanggil menuju ke ruangan pemilik toko.
Dengan gugup, langsung menuju ke sana karena katanya sudah ditunggu. Dalam bayanganku, pemilik toko ini pasti garang dan berwajah tegas. Terbukti dari karyawan yang sangat disiplin.
"Duduklah!" perintahnya
__ADS_1
Aku langsung menurut duduk di depannya. Semakin dekat melihat wajahnya justru semakin terlihat jelas pula ketampanannya. Tatapanku fokus pada jakun yang menggugah selera. Eh, udah kayak mie instan aja. Hihi.
"Kuharap kau tidak membuatku kecewa. Dari banyaknya yang masuk, aku memilihmu. Jadi, aku tidak mau kau membuatku kecewa dengan kinerjamu. Bekerjalah sebaik mungkin. Soal gaji, aku akan memberi sesuai dengan kualitas kerjamu," jelasnya.
"Ba-Baik, Pak." Aku mengangguk cepat. Pantas saja karyawan di sini sangat rajin. Ternyata gaji mereka tergantung dari kinerja masing-masing karyawan. Bahkan, aku tidak menyangka kalau sekarang aku pun sudah menjadi bagian dari mereka itu.
Setelah mendapat beberapa kali mendapat nasehat, aku pun langsung mulai bekerja. Melayani pembeli yang kebanyakan ibu hamil karena sekarang aku bekerja di Baby Shop.
***
Sepulang bekerja, rasanya sangat lapar sekali. Jika menunggu sampai rumah, sudah pasti perutku akan perih. Akhirnya, aku memilih untuk mampir warung pecel lele pinggir jalan. Memesan satu porsi nasi beserta kawan-kawannya seperti sambal, lalapan, dll.
__ADS_1
Aku makan sendirian dengan lahap. Tanpa rasa canggung ataupun jaim. Bagiku yang penting bisa makan. Itu sudah lebih dari cukup. Di saat sedang asyik melahap makanan, ada orang yang memanggilku. Seketika kuangkat kepala dan terkejut ketika melihat siapa yang memanggil tadi.
"Ada janda makan sendirian, kasihan," ledeknya membuat darahku serasa mendidih kala itu juga.