Diamnya Seorang Menantu

Diamnya Seorang Menantu
DSM-43


__ADS_3

Duhai senangnya pengantin baru. Lalala ...


Aku terkekeh sendiri mendengar lagu tersebut. Apalagi saat teringat malam pertama yang sangat panjang, yang ku lalui bersama Pak Danu. Sentuhan Pak Danu begitu lembut. Sangat berbeda dengan Mas Ashraf yang kasar dan hanya menginginkan kepuasan sendiri.


Ah, tidak seharusnya aku membandingkan Pak Danu dengan Mas Ashraf. Tentu saja kedua lelaki itu sangat berbeda. Aku bersyukur, mendapat ganti lebih baik daripada Mas Ashraf dan hidupku terasa lebih bahagia. Kuharap, bahagia ini bukanlah kebahagiaan sesaat saja.


Ketika bangun pagi, bibirku tersenyum lebar saat mendapati Pak Danu yang masih tertidur lelap. Wajahnya terlihat tampan dan meneduhkan. Aku tidak menyangka sudah memiliki suami setampan ini hingga membuatku selalu klepek-klepek.


Tanpa terasa tanganku menyentuh wajah Pak Danu dan mengusapnya lembut. Sangat lembut karena aku tidak ingin membuat Pak Danu terbangun. Namun, sayang sekali ternyata ku salah. Pak Danu langsung menggenggam tanganku erat bahkan hanya dalam hitungan detik lelaki itu sudah mencium keningku sangat dalam.


Aku tidak berani bercermin untuk melihat semerah apa pipiku sekarang ini.


"Selamat pagi, Istriku."

__ADS_1


Ya Tuhan, Pak Danu manis sekali. Bisa membuatku salah tingkah karenanya. Tidak mendapat jawaban dariku, Pak Danu pun langsung menghujani wajahku dengan banyak ciuman. Tidak peduli meskipun aku sudah menolak.


Apa yang terjadi selanjutnya. Aku dan Pak Danu mengulangi percintaan semalam.


***


Dua bulan berlalu.


Hubunganku dengan Pak Danu semakin mesra. Begitupun dengan Tante Anjani yang sekarang sudah menjadi Ibu Mertuaku. Wanita itu sangat berbeda dengan Ibu Sumarni. Tante Anjani benar-benar memperlakukanku seperti anaknya sendiri. Bahkan, lebih seperti seorang teman.


Setelah menikah, aku pun berhenti menjadi karyawan Pak Danu di toko. Tugasku sekarang hanyalah di rumah, mengurus keperluan Pak Danu dan duduk santai menunggu kepulangannya. Terkadang aku masih ikut Pak Danu ke toko jika merasa jenuh di rumah.


Pagi ini, aku merasa sangat kesal kepada Pak Danu. Lelaki itu pergi kerja tanpa membangunkan ku. Tidak menyiapkan sarapan, mengantar sampai depan rumah. Aku merasa ada yang kurang dari hidupku. Sampai akhirnya, aku menelepon suamiku lalu mengomel. Hal yang pertama kali kulakukan dan entah keberanian dari mana sampai aku berani melakukan itu.

__ADS_1


Saat aku marah-marah pun, Pak Danu bukan balik memarahiku. Namun, lelaki itu justru meminta maaf dan mengatakan kalau tadi pagi sangat terburu-buru dan tidak tega membangunkan ku yang masih terlelap tidur. Akhirnya, aku mematikan panggilan tersebut dan terus saja rebahan di kamar. Tidak ada mood untuk keluar.


"Ira, apa kau masih tidur?" Kudengar ketukan pintu dan suara Ibu Mertuaku. Rasanya tidak enak hati jika aku berpura-pura padanya.


Dengan perlahan, aku pun turun dari ranjang dan membuka pintu. Kulihat Ibu Mertuaku datang sambil membawa nampan berisi teh hangat dan juga sarapan. Melihat apa yang dilakukan oleh Ibu Mertuaku seketika membuatku merasa tidak tega.


"Sudah, Ma. Maaf, aku belum keluar kamar karena rasanya sangat malas sekali," ucapku lirih. Merasa tidak enak hati.


"Tidak apa. Lebih baik kau sarapan dulu karena Danu akan pulang saat makan siang nanti," perintahnya.


Ingin sekali aku menolak. Namun, melihat perjuangannya membawa sarapan ke kamarku membuat hatiku merasa tidak tega. Aku pun masuk dan segera menyantap sepiring nasi goreng dan telur ceplok di atasnya.


Namun, baru dua suap nasi itu masuk ke mulut. Aku merasa ada yang salah dengan perutku. Rasanya campur aduk sampai membuatku ingin muntah. Dengan gegas, aku turun dari ranjang dan menuju ke kamar mandi. Memuntahkan semua makanan yang ada di perutku.

__ADS_1


"Ira, apa kau baik-baik saja?"


Kurasakan tangan Ibu Mertuaku menepuk tengkukku dengan perlahan.


__ADS_2