Diantara Dua Pria

Diantara Dua Pria
rumah orang tua


__ADS_3

"Kita ke rumah sakit ya dek," kata Dimas khawatir.


"Tidak,bawa aku ke rumah bapak mas, aku rindu bapak..." lirih Nia yang tak tahan lagi.


Akhirnya Dimas memegang tangan wanita yang dia cintai, sambil mengendarai motornya.


Dia terlihat sangat khawatir, terlebih Nia hanya bersandar saja dari tadi, entah apa yang di rasakan wanita itu.


Sesampainya di rumah pak Amir, Nia sudah pingsan, dan terpaksa Dimas mengendong wanita itu.


"Pakde!!" teriak Dimas.


Pak Amir yang mendengar teriakan itu bergegas membuka pintu, dan betapa terkejutnya pak Amir dan ibu Sholihah melihat Dimas yang sedang mengendong Nia.


"Ada apa dengan Nia le?" tanya pak Amir.


"Aku akan menjelaskan semua, tapi biarkan aku menidurkan Nia itu di dalam kamar dulu," kata Dimas.


Bu Sholihah langsung mengambil air hangat dan memasukkannya kedalam alat kompres silikon.


Dan menemani putrinya itu, karena dia tau apa yang selalu di lakukan oleh putrinya saat seperti ini


"Ini sepertinya jadwal merah Nia lagi, ya Allah... padahal aku selalu berdoa agar putriku ini bisa dapat kehamilan secepatnya, karena aku kasihan dengan Nia..." lirih pak Amir yang menghapus air matanya.


"Memang apa yang terjadi pakde, kenapa bapak tampak begitu sedih seperti ini,Nia itu bukan gadis yang lemah," kata Dimas.


"Dia memang bukan gadis lemah, tapi dia itu sangat sedih saat setiap hari ibu mertuanya selalu mengatakan hal buruk untuk dirinya,"


Dimas hanya diam, ternyata semua yang dia dapatkan itu benar, jika Nia tak sepenuhnya bahagia menjadi istri dari suaminya.


Bahkan dia tak mau menyebut nama pria itu sampai saat ini, karena baginya itu sangat menyebalkan.


Sedang Benny sepertinya lupa jika punya tanggung jawab yang harus di jalankan.


Karena terlalu fokus pada pemakaman suami Aida, hingga dia lupa tak menjemput istrinya yang pulang lembut.


Pukul sembilan malam, akhirnya pemakaman di lakukan, Benny pulang dengan santai.


Tapi baru juga akan menghentikan motornya, Bu Sumini keluar dengan wajah marah.

__ADS_1


"Lihatlah istrimu belum pulang, ini sudah jam berapa!!" kata wanita itu.


"Apa istriku belum pulang, astaghfirullah... aku terlalu fokus membantu di pemakaman, aku lupa untuk menjemputnya, Bu," kata pria itu langsung mencuci kakinya.


Dan dia mengambil ponselnya, ternyata sudah ada puluhan miscall, dan akhirnya sebuah pesan dari mertuanya masuk.


"Syukurlah dia sudah ada di rumah orang tuanya, aku mau mandi dulu, dan kemudian ke sana," kata Benny yang buru-buru masuk kedalam kamar.


Dia langsung mandi dan berganti baju, dan tak lupa dia mengambil belanjaan yang akan dia berikan pada mertuanya.


"Pakai jaket mu nak!"


"Baiklah aku pakai jaketnya, setelah ini aku berangkat ya Bu, maaf sepertinya aku akan menginap di rumah mertua ku, jadi maaf ya Bu," kata Benny yang langsung bergegas pergi ke rumah keluarga istrinya.


Benny tidak tau harus mengatakan apa saat sampai di sana, karena kecerobohannya.


Sekarang dia dalam masalah besar, karena istrinya sampai di jemput oleh orang tuanya.


Tapi ini juga bukan salah Nia jika sampai harus minta jemput ayahnya, tapi kebodohannya.


Sedang di rumah keluarga pak Amir, Dimas bersiap pergi setelah membuatkan bubur untuk Nia.


Benny dan Dimas berpapasan di tuwangan sawah jalan menuju ke rumah Nia.


Sesampainya di rumah mertuanya, Benny langsung bergegas menghampiri istri dan mertuanya.


Tapi Benny berhenti di depan rumah saat melihat sosok mertuanya berdiri menyambutnya.


"Maafkan saya pak, ini semua salah saya, seharusnya saya menjaga istri saya bukan malah merepotkan anda," kata Benny tak enak.


"Aku tak masalah, tapi apa jamu tau jika istriku tadi menunggu mu dengan kondisi sakit, lain kali jika kamu tak bisa menjemputnya tolong bilang padaku," kata pak Amir yang tak bisa menahan keresahannya.


"Sudah pak, Nia sudah baik-baik saja, masuk nak istrimu susah di dalam sedang istirahat," kata Bu Sholihah.


Wanita itu langsung mengajak suaminya itu untuk masuk dan tenang, Benny memberikan bingkisan yang dia bawa.


Benny tak bisa mengatakan apapun tentang apa yang terjadi, jadi dia memilih tidur di sebelah istrinya itu.


Nia mencium aroma parfum suaminya dan mencoba membuka matanya, "ku kira aku tak lebih penting dari mantan mu mas," lirihnya

__ADS_1


Mendengar itu Benny kaget dan tak percaya mendengar itu dari istrinya.


"Maafkan aku dek, bagaimana pun, pria itu juga adalah teman ku, bahkan dulu kami melakukan pekerjaan sudah bersama," kata Benny yang mencoba menjelaskan.


"Tapi lain kali, seharusnya mas bilang agar aku bisa minta jemput siapa atau bareng siapa mungkin, karena menunggu lama itu sangat tak mengenakan," terang Nia yang sekarang memilih menutup matanya.


Karena perutnya terasa begitu sakit, dia selalu saja seperti ini saat menstruasi,dan selama seminggu Nia tak akan pulang ke rumah mertuanya


Karena jika dia pulang, sudah di pastikan akan terjadi kekacauan besar, karena Nia tak akan bisa mengontrol ucapan yang keluar dari mulutnya.


Sedang di rumah Aida, wanita itu sekarang sudah berandai jika dia bisa mendapatkan Benny.


Terlebih sekarang pria itu sangat kaya dan mungkin bisa menghidupi anaknya.


Di tambah orang tuanya tak akan marah atau menolak, karena beberapa waktu lalu, ibunya pernah bilang jika mencari suami harus kaya seperti Benny,karena aduh pintar cari uang.


pria itu juga sangat menjaga diri dari orang yang tak di kenalnya, terbukti selama menjadi duda, tak pernah ada gosip yang terdengar.


Itu seakan menjadi nilai plus untuk Benny di mata orang tua dari Aida, itulah kenapa sekarang dia akan berjuang.


Terlebih dia merasa penampilannya lebih unggul dari istri Benny Nia, terlebih Aida ini juga memiliki kepribadian yang terbuka terlebih dalam berteman dengan pria.


Berbanding terbalik dengan Nia yang memang memiliki kepribadian yang tertutup, karena wanita itu hanya fokus untuk kerja, kerja dan kerja.


Jadi itu seperti kesempatan yang di berikan wanita itu padanya, terlebih dia punya kartu as yang tak akan di tolak oleh Benny.


Itulah kesempatannya, keesokan harinya, Nia sudah bangun dari pagi karena kondisinya yang sudah membaik.


di bandingkan semalam, saat ini dia sudah bisa beraktifitas, dan Benny masih kelelahan itulah kenapa pria itu belum bangun.


Nia sudah pulang setelah membeli sarapan di tempat langganannya selama di rumah orang tuanya.


Benny di bangunkan dan kaget melihat Nia yang datang dengan dua bungkus nasi pecel.


"Sayang kok kamu sudah beli sarapan saja?"


"Iya nih mas, aku sedang ingin makan nasi yang di beli di tempat ini, jadi makan yuk, aku sangat lapar," kata Nia yang belum ingin membahas apa yang terjadi semalam.


karena dia dan suaminya butuh tenaga untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi, dan kenapa Venny seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2