
Malam setelah resepsi berakhir tak terjadi apapun, karena Nia dan Benny terlalu lemah untuk melakukan sesuatu.
Keduanya tidur begitu saja, keesokan harinya di ruang sudah cukup bersih dari sisa pesta.
Meski masih ada beberapa hal yang tersisa, dan masih banyak saudara yang ada di sana.
Tapi setelah mandi, Nia duduk di ranjang sambil melihat foto yang di ambil oleh teman-temannya yang kini jadi satu di media sosial.
Benny batu selesai mandi dan datang memeluk istrinya itu, "sayang sedang apa?"
"Aku sedang melihat semua status teman ku, beranda Facebook mereka penuh dengan foto pernikahan kita, oh ya mas mau makan apa?" tanya Nia pada suaminya itu.
"Nasi Pecel enak nih sayang," jawab Benny.
"Baiklah, mas tunggu dulu di sini, bair aku buatkan sebentar ya," kata Nia yang bangkit dari ranjang
Tanpa di duga Benny menariknya dan memberikan ciuman sekilas. Nia pun hanya bisa tersenyum malu sambil mencubit perut Benny.
Pria itu juga tampak santai, dan banyak ucapan selamat dari teman-teman yang tidak bisa hadir.
Dan lucunya mereka mentransfer semua uang salam tempel melalui bank istrinya.
Benny tak masalah, toh sekarang hartanya juga milik istrinya, Nia di dapur sedang sibuk membuatkan sambel pecel untuk suaminya.
Ya dia memulai membuat segalanya dari awal, untungnya sayuran matang ada karena ibunya akan membuat urap.
Sedang untuk lauk juga masih ada empal daging sisa rawon semalam, jadilah Nia tak terlalu susah.
Setelah siap, Nia memanggil suaminya yang masih di kamar, tapi saat keduanya keluar, tiba-tiba Adi datang dengan sebuah hadiah cukup besar.
"Ini mas Adi bawa apa?" tanya Nia bingung.
"Ini hadiah dari Dimas, dia sekarang sudah berangkat ke Manokwari Papua, dan dia menitipkan ini untuk mu," kata Adi yang terlihat begitu kelelahan.
"Ya sudah taruh di dalam saja mas Adi, ayo sekalian sarapan dulu, aku tadi sudah buat pecel kesukaan mu," kata Nia.
"Gak apa-apa nih mas gabung,"
"Ya gak papa mas, lagi pula sekarang kita juga sudah jadi saudara," jawab Benny.
Adi pun dengan senang hati ke dapur, tapi di tau batasan setelah di beri nasihat oleh pak Amir.
Benny dan Adi nampak langsung bisa akrab satu sama lain, bahkan mereka berdua tampak begitu berteman.
__ADS_1
Sedang Anas batah kemana sudah tak terlihat dari kemarin, setelah sarapan Adi membantu pak Amir dan Bu Sholihah membuka Slam tempel dari para tamu.
Bahkan mereka juga mencatatnya acara sewaktu-waktu jika ada yang mantu mereka bisa mengembalikan uangnya.
Begitu pun dengan Benny dan Nia yang melakukan hal sama, tapi baru setengah saja mereka sudah mendapatkan hampir sepuluh juta.
Itu berarti banyak yang memberikan lebih dari ratusan ribu, terutama teman-teman Benny.
Belum lagi yang di kirimkan lewat transfer juga nominalnya tidak sedikit.
Setelah selesai , mereka membersihkan semua sampah yang mereka buat.
Semua uang di pegang oleh Nia, bahkan Nia juga langsung mendapatkan ATM dari suaminya.
Setidaknya Nia memegang dua debit card milik suaminya, dan Benny memegang satu debit card saja.
Karena debit card yang dia pegang itu di gunakan untuk transaksi untuk pekerjaan.
Sedang debit cards yang di pegang oleh Nia, adalah hasil semua pekerjaan dari Benny.
"Mas tolong bantu aku memakai perhiasan yang menjadi mahar ku," kata Nia.
"Baik sayang," jawab Benny yang membantu istrinya itu
Tapi saat memakaikan kalung, Benny mencium tengkuk istrinya itu, Nia pun memejamkan mataku.
"Mas..."
"Apa sayang?" bisik Benny yang mulai menciumi istrinya itu.
Akhirnya pagi itu, Benny ingin unboxing, tapi tiba-tiba pintu kamar istrinya itu di ketuk.
"Nduk... tolong keluar sebentar, ada tamu yang ingin bertemu dengan mu," panggil pak Amir.
"Inggeh pak," jawab Nia yang membuat Benny lemes.
Pasalnya adiknya sudah siap tempur, sebelum keluar Nia menepuk asik suamimu, "sabar ya dek,"
"Sudah pergi sana," usir Benny.
Nia pun langsung keluar kamar, dan ternyata itu adalah sepupu dari ayahnya yang sekarang menjadi seorang camat di tempatnya.
"Assalamualaikum Nia..." sapa wanita cantik itu.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam mbak," jawab Nia sopan.
"Maaf ya kemarin saya tak bisa datang karena harus mengunjungi rapat di luar kota,"
"Iya mbak tidak apa-apa, mbak kan orang sibuk," jawab Nia.
"Aduh sekarang di keluarga kita tak ada yang menjadi gadis paling besar ya, semuanya masih SMP," kata wanita itu merasa sedikit kecewa
Pasalnya dia salah satu yang mendukung perjodohan antara Dimas dan Nia.
"Iya mbak, habis yang banyak memang yang cowok," jawab Nia yang memang mengerti maksudnya.
Wanita itu juga tak terlalu lama bertamu, karena harus kembali ke kantornya.
Bahkan Nia juga di persilahkan jika ingin memeriksakan kandungannya nantinya bisa ke tempat suami Bu camat itu.
Bagaimana pun suami dari wanita itu adalah seorang dokter kandungan yang sangat terkenal di kota.
Nia masuk kedalam kamar dan melihat Benny yang sedang tertidur, dia pun menaruh amplop yang di berikan saudara sepupu ayahnya itu.
Dan dia memilih membaca surat yang di berikan oleh Dimas sebelum kepergiannya.
Ternyata di dalam surat itu ada sebuah gelang emas atas namanya, dan beratnya cukup fantastis.
Bahkan di tabungan milik Nia juga di transfer uang yang tak sedikit, "apa aku melakukan kesalahan besar, maaf karena aku memilih cintaku, bukan pilihan orang tua ku mas Dimas," batin Nia.
Dia langsung keluar membawa gelang emas itu, dan menutupkannya pada ibunya, bahkan uang yang di berikan oleh tamu tadi juga.
Entahlah Nia tak ingin menjadi sedih jika ingat semua hadiah itu, terlebih hadiah itu dari pria yang hampir jadi suaminya.
Saat Nia kembali, dia melihat Benny sudah bangun dan tersenyum ke arahnya.
"Kenapa menatap ku seperti itu?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin melihat mu, kenapa tamu itu menahan mu begitu lama?" tanya Benny yang mengusap pipi Nia.
"Maaf sayang, karena dia adalah saudara bapak," jawab Nia.
Siang itu, Benny pun mendapatkan apa yang dia inginkan, dan dia merasa senang karena istrinya itu masih perawan sesuai dengan apa yang dia harapkan.
Bagaimana tidak, Nia meski bekerja di pabrik dan selalu pulang malam, tapi gadis itu selalu punya batasan dalam berteman dengan semua orang.
Terlebih pak Amir tak main-main dalam melindungi putrinya itu, akhirnya kehidupan rumah tangga Benny dan Nia pundi mulai.
__ADS_1
Mereka akan menghadapi semua yang di sebut suka duka dalam pernikahan, dan semua pertanyaan yang mungkin membuat keduanya goyah.
Terutama ujian besar menghadang keduanya, apa mereka bisa bertahan, atau malah pernikahan itu karam.