
Nia pulang dari pabrik pukul lima sore, tapi seperti biasanya dia tak akan langsung pulang melainkan memilih jajan dulu dan belanja untuk besok pagi.
Dia hari ini ingin makan sate dan memilih membelinya, dan beberapa camilan juga.
Dan tentu saja dia mampir ke toko swalayan untuk membeli ayam Frozen yang siap masak karena dia tak ingin repot.
Pukul enam sore,motor Nia baru sampai rumah, tapi karena terbiasa dengan kondisi sebelumnya.
Nia hanya membawa masuk belanjaannya dan langsung memasukkannya kedalam freezer.
Sedang dia merasa aneh karena tak menemukan Bu Sumini tang biasanya akan heboh saat dia pulang kerja.
Jadi Nia memilih mandi dulu sebelum makan malam, tapi saat dia mandi ternyata Suaminya itu menelpon dirinya.
"Nia ini kemana?" gumam Benny merasa kesal.
Karena di rumah kakaknya sedang ada kebingungan, Nia yang baru selesai mandi mendengar ponselnya berbunyi.
"Iya halo mas, ada apa?"
"Ya Allah sayang, kamu bisa ke rumah mas Sardi, itu amin istrinya mau melahirkan, dan kata ibu mau operasi dan butuh biaya, nanti kamu bantu ya," kata Benny yang tak ingin keluarganya terluka.
"Kenapa panik, bukankah mereka punya KIS, buat pakai itu saja, lagi pula jika kartu itu tak di gunakan,buat apa susah-susah membuatnya," kata Nia yang menikmati makanannya.
Bukan dia tak peka terhadap penderitaan dari saudara suaminya, tapi saudara suaminya itu cuma sok baik dan hanya datang saat di perlukan saja.
"Ya pokoknya kamu datang, dan lihat ada perlu bantuan atau tidak, tapi ingat jangan mengatakan hal apapun karena ibu pasti sedang sensitif," kata Benny mengingatkan Nia.
"Iya mas," jawab Nia.
Dia selesai makan dan memilih berangkat membawa mobil menuju ke bidan yang di maksud.
Sebenarnya dia malas karena ibu mertuanya saja tak menghubunginya.
Tapi nyatanya, saat sampai di tempat bidan, Nia kaget karena mobilnya langsung di suruh berhenti dan di minta mengantar ke rumah sakit.
"Apa..." bingung Nia.
__ADS_1
"Sudah bawa ke rumah sakit ibu dan anak," perintah kakak pertama Benny.
Nia pun dengan segera membawa menantu pria itu, sesampainya di sana Nia memilih mencari tempat parkir dulu.
Dan menikmati coklat miliknya karena tadi selama perjalanan Nia stres.
Karena mendengar perkataan kasar dari gadis muda itu, belum lagi mendengar suara keras dari ibu mertuanya.
Saat dia sedang asik menikmati coklat, tiba-tiba dia melihat keponakannya yang perempuan seperti sedang mencari sesuatu..
"Kamu mencari apa," tanya Nia yang batu turun dari mobil dan menegur gadis itu.
"Ih mbak Nia, kenapa saja di cariin, itu Mbah dok mencarimu," jata gadis remaja itu.
Tentu saja dengan santai Nia berjalan menuju ke tempat UGD, ternyata dokter yang mengunakan kartu KIS itu tak ada.
"Kenapa mencariku?" tanya Nia.
"Nia bayar sekarang operasi dari Nur, karena dia sudah kesakitan bayinya perlu di selamatkan," kata Bu sumini.
"Kalau minta aku beri satu juta, tapi kalau hutang dalam jangka satu tahun harus selesai semuanya, silahkan pilih," kata Nia santai.
"Apa maksud mu, aku tidak mengemis pada mu, tapi itu harta adikku," kata Sardi menantang Nia.
"tapi itu suamiku, dan aku yang pegang keuangan, terserah aku mau bagaimana, kalau setuju silahkan, kalau tidak silahkan, dan berhenti menjadi lintah penghisap harta adik mu, ku kira aku tak tau kamu sering mengambil uang suamiku langsung dari dompetnya dan membuatnya kosong," kata Nia yang langsung mempermalukan pria itu.
"Cukup Nia, kamu ini di minta datang bukan untuk mendebat, tapi untuk membantu keluarga," marah Bu Sumini.
"Lihat, jika bukan suamiku yang bilang dan memintaku datang, aku tak Sudi kesini, jadi dalam setahun kalian harus mengembalikannya, jika tidak bisa maka aku bersumpah keluarga kalian akan miskin tujuh turunan," kata Nia yang langsung memberikan lima belas juta cash.
Bu Sumini tak mengira jika menantunya itu bisa hitung-hitungan seperti ini.
Bahkan Nia memilih pergi dari rumah sakit setelah memberikan uang itu.
istri Deni yang sedari tadi ikut dan menyaksikan semuanya akhirnya berani buka suara.
"Itulah yang ibu dapatkan, ibu selalu saja menghidupi semua anak mu dari hasil keringat pakde Benny, sekarang hadapi istrinya, karena tak selamanya pasangan akan setuju dengan apa yang di lakukan pasangannya, lagi pula jika tak punya uang tak usah lah gaya mau operasi segala di rumah sakit mewah, toh dia hamil di luar nikah pasti juga melahirkan secara normal," kata wanita itu yang akhirnya juga memilih pergi
__ADS_1
Ternyata benar, menantu pria itu melahirkan secara normal tapi hanya karena gadis itu saja yang manja mau melahirkan di rumah sakit agar terlihat kaya.
Sedang Nia memilih tidur karena besok dia juga harus kerja, dan dia akan memastikan semua aman tanpa bisa di ambil mau itu ibu mertuanya atau bahkan saudara suaminya.
Keesokan harinya, Bu Sumini pulang dari rumah sakit tapi rumah sudah kosong tak ada orang.
Wanita itu ingat jika dia pernah tahu putranya itu sering menaruh uang di laci kamar tidurnya.
Akhirnya dia mencoba masuk kedalam kamar Benny tapi tidak bisa, karena di kunci.
Dia ingat punya kunci cadangan dan mencoba mencarinya ternyata tak dapat di ketemukan.
"Dasar menantu sialan, awas saja aku akan mengatakan semuanya pada Benny," kesal Bu Sumini yang tak akan mengampuni menantunya itu.
Benny juga sudah tau apa yang terjadi di rumah sakit, tentu dari adik iparnya yang memberitahu semuanya.
dia tak menyangka jika Nia dengan berani menentang semua keluarganya.
Terlebih dia harus melawan ibunya agar sadar, karena ibu Sumini ini terlalu memanjakan semua saudara Benny.
Nia tetap santai di pabrik, dan menikmati waktunya bekerja, bahkan dia sempat menelpon Benny dan tampaknya pria itu santai saja.
"Nanti pulang kerja ngopi yuk di pasar malam tak jauh dari sini, lumayan buat ngilangin stress, toh kita harus tetap waras bukan," kata Lusi.
"dan Mak Lusi yang mau traktir kayaknya," kata Nina menertawakan temannya itu.
"boleh juga, nanti kopi aku yang traktir, makan Nia yang traktir," kata Lusi.
"maaf nih ya, kenapa aku yang Dian saja malah kena slepet, jangan gitu dong, kalau gorengan tak masalah deh," kata Nia yang tak mau rugi bandar.
"Oke... kita nanti ngopi di pasar malem, oh ya izin sana dari pada nanti pada di cariin," kata Lusi.
"Udah kok," jawab Lina yang menunjukkan ponselnya.
bahkan mereka kaget saat melihat bukti transfer yang dilakukan oleh suami wanita itu.
"Wah... mbak Nia suaminya orang kaya ya, masak sekali transfer langsung enam puluh juta gitu." kata Feby dan Salma tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
__ADS_1