Diantara Dua Pria

Diantara Dua Pria
prahara datang.


__ADS_3

tak terasa pernikahan dari Nia dan Benny sudah berjalan selama tiga tahun.


Mereka memang memiliki pernikahan yang harmonis terlihat dari luar, tapi nyatanya mereka seperti menyimpan bom waktu yang bisa meledak kapan pun.


Terlebih Nia kini hidup dengan mertua yang bisa di bilang sangat cerewet, itu membuat dirinya pusing.


Seperti hari ini, Benny sedang di kota tetangga mengantar beberapa barang.


dan kemungkinan baru pulang esok hari, tapi bisa sudah tak bisa tahan jika harus pulang dan bertemu Bu Sumini.


"Loh Bu mandor kok belum pulang, nunggu jemputan?" tanya para anak produksi.


"Eh iya, kalian hati-hati ya kalau pulang," kata Nia yang tersenyum saja.


Nyatanya dia sedang menunggu anak desain yang menjadi temannya beberapa tahun ini


Mereka pun menuju ke sebuah warung, untuk membeli makan karena di rumah dia malas untuk masak karena pasti serba salah.


"Kamu ini kenapa sih dek, sudah menikah tiga tahun, tapi kenapa hubungan mu dengan mertua ku malah sangat buruk?" tanya Nina


"Gak tau deh mbak, mungkin karena aku belum bisa memberikan cucu yang ibu inginkan, mbak kan tau aku punya hasil tes kesuburan bagus, tapi aku tetap saja salah," kata Nia


"Bagaimana mau jadi, suamimu kerjanya keluar kota melulu, minta dia libur seminggu terus kalian honeymoon saja, siapa tau bisa," usul Lusi yang merasa kasihan pada Nia.


"Embohlah mbak, kadang aku capek sendiri, di rumah setiap hari denger ibu mertua ku ngomel, kadang baju kotor lah, lantai kotor lah, kadang-kadang aku pulang bawa belanjaan bulanan juga salah, padahal yang menghabiskan juga dia dan anak-anaknya," kata Nia dengan lirih.


"Ya yang sabar, nanti juga mati sendiri," kata Lusi yang di Amini oleh Nina.


"Amiin..."


"Oh... wong edan," kesal Nia mendengar perkataan teman-temannya itu.


Tiba-tiba ponselnya menerima panggilan masuk yang ternyata nomor suaminya.


"Sayang lagu dimana?" tanya Benny dengan suara lembut.


"Iya mas sedang di tempat ngopi sama mbak Lusi dan mbak Nina, ada apa?"

__ADS_1


"Begini sayang, aku sudah sampai di daerah Madiun, mungkin beberapa jam lagi aku pulang jadi pulang ya, ya kali suamimu ini pulang kamu tak di rumah," kata Benny.


"Iya mas aku pulang, oh ya minta di masakin apa," tanya Nia.


"Apa saja deh, oh ya aku nanti bisa tolong buatkan jamu yang biasa kamu buatkan ya, karena sepuluh hari kedepan aku akan di rumah," kata Benny.


"Iya mas, apapun untuk suamiku," jawab Nia yang memancing gelak tawa dari dua temannya itu.


"Baiklah aku titip dulu, ini Sobri yang nyupir kok, jadi tak perlu khawatir," kata Benny santai.


"Iya mas," jawab Nia yang langsung bersiap pulang.


"Sudah ayo pulang, ingat dandan yang cantik jangan kucel, terus sepuluh hari ini gas terus, dan kalau bisa minta cuti deh, dari pada waktu kalian terganggu," kata Lusi.


"Tidak semudah itu Ferguso, sudah ayo pulang," jawab Nina.


Nia pun mengendarai motor miliknya dengan kecepatan cukup tinggi.


Dia ingat belum masak, jadi dia berhenti di sebuah warung bebek, untuk membeli ayam goreng kampung lima potong.


Motor Nia baru juga berbelok masuk Kedalam rumah, tapi tatapan tajam sudah di berikan oleh ibu mertuanya.


"Jam segini baru pulang, kamu kenapa selama Benny di luar kota kok lembur terus sih," kata Bu Sumini.


"Mau ngapain lagi di rumah tanpa suamiku, jadi lebih baik aku cari uang yang banyak," jawab Nia yang masuk kedalam rumah membawa martabak telur.


dia menaruhnya di meja, dan langsung memasak nasi demi menyambut suaminya pulang ke rumah.


Nia menyembunyikan kunci motornya, setelah memastikan penanak nasi itu bekerja.


Nia memilih mandi dan memakai baju setelah selutut, tak lupa memakai make up dan parfum kesukaan suaminya.


Setelah selesai berdandan, benar saja, saat dia keluar martabak telur yang di meja sudah di bagikan tanpa izin darinya.


Karena dia sudah tau kebiasaan itu, jadi tak terkejut dan tampak santai saja.


"Eh mbak, kamu mau menggoda siapa, pakai parfum wangi begini," tanya keponakan perempuan Benny dari kakak pertamanya yang begitu cerewet.

__ADS_1


"Yang pasti, harus lebih kata dari suamiku, jadi setidaknya aku tak akan rugi," kata Nia cuek yang mulai menyeduh jamu yang dia siapkan dan juga telur.


"Omongan apa itu Nia, kamu ingin selingkuh!" marah Bu Sumini.


"Ayolah Bu,aku hanya menanggapi bercandaan dari cucu kesayangan mu yang tak punya filter di mulutnya itu, jadi tak usah marah ingat tekanan darah mu, dan ini terakhir kali aku memberikan makan kalian semua, cih... seperti parasit," kata Nia yang menunjukkan sosok yang membuat semua orang diam.


"Kamu itu cuma orang luar, jadi berhentilah bertingkah Nia!!" bentak Bu Sumini.


"Tapi dia istriku ibu," kata Benny yang pulang lebih cepat dari dugaan Nia


"Mas," kaget Nia yang langsung menyalami suaminya itu.


Semua orang diam, mereka tak berani bicara karena Benny bukan orang yang bisa di lawan.


"Di rumah ini, perkataan istriku sana dengan ucapan ku, jadi tolong hormatilah, dan jika ibu ingin membagikan makanan pastikan itu bukan milik istriku, atau itu di berikan oleh istri ku, apa kalian mengira aku tak tau apa yang terjadi, meski Nia tak mengadukan apa yang terjadi padanya," kata Benny yang membuat Nia kaget.


Ya itu adalah istri Deny, dan di tambah lagi wanita itu juga mengalami hal yang sama dengan Nia.


Tapi bedanya Nia bekerja di luar, sedang wanita itu hanya tinggal di rumah


"Sudah selesai makan bukan, sekarang silahkan pergi, dan lain kali jangan mengusik istriku, dan untuk mu Ayu, berhenti bersikap tak sopan pada bulek mu," kata Benny memberikan ultimatum.


"Sudah mas, sekarang mas mandi dulu, biar aku siapkan makanan ya," kata Nia mencoba menenangkan suaminya itu


"Mau kamu kasih makan apa, nasi doang, kamu kan tidak masak," kata Bu Sumini.


Mendengar itu, Nia membuka kulkas langsung kaget, semua buah, makanan kaleng bahkan roti tawar yang semalam di beli pun sudah tak ada.


Benny yang mengerti pun memijat kepalanya sakit, ini di lakukan ibunya karena Nia belum bisa memberikan anak padanya.


Padahal Benny tau benar usaha istrinya itu, mulai dari pijat tradisional, totok saraf hingga pengobatan medis dan datang para kyai yang mengaku bisa.


Tapi belum ada yang bisa membuahkan hasil, "sudah sayang, kita belanja lagi, dan jika hilang lagi, kita pindah rumah saja, aku tak mau kamu terus seperti ini, ingat kata dokter kami tak boleh stres," kata Benny.


"Kamu mau meninggalkan ibu Deni istrimu yang buruk ini," kata Bu Sumini marah.


"Aku hanya mengikuti perkataan dokter, agar istriku menghindari stres yang berlebihan," Jawa Benny

__ADS_1


__ADS_2