
Nia sudah terlelap tidur saat dia terbangun karena seseorang memeluknya, "maaf..."
Itu adalah Benny yang pulang dari tempat nongkrong, ya pria itu terlihat begitu lelah.
Nia hanya bisa tidur karena besok dia harus menyiapkan semua keperluan suaminya.
Atau lebih tepatnya obat-obatan untuk Benny, karena Nia takut jika suaminya itu kelelahan atau mungkin sakit.
Pukul setengah empat pagi, Nia sudah bangun dan membuat sarapan untuk suaminya dan tentu saja bekal.
Dia juga menyiapkan tas kerja milik Benny yang berisi baju, dan tak lupa semua keperluan suaminya.
Setelah semuanya siap, Nia ke kamar untuk membangunkan suaminya itu.
"Mas... bangun yuk, semua keperluan mas untuk kerja sudah aku siapkan," bisik Nia.
Tapi Benny malah menarik Nia dan memeluknya, "tunggu sebentar lagi, aku masih ingin bersamamu," bisik Benny di telinga istrinya itu.
Nia pun hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan suaminya, yang ternyata Benny meminta pelayanan dari Nia.
Tentu saja Nia memberikan semua itu dengan sangat baik, bahkan saat ini Nia tak segan memimpin olahraga panas mereka dan membuat Benny tak tahan hingga beberapa kali puas.
keduanya sudah mandi, dan truk milik Benny sudah datang, sebenarnya normalnya hanya tiga hari tapi Benny kadang memilih pekerjaan lain sekalian.
itulah kenapa kadang sampai seminggu atau sebulan pria itu baru pulang.
Benny pun berangkat setelah sarapan dan membawa semua bekal miliknya.
Bu Sumini dan Nia berdiri mengantarkan kepergian pria itu, dan kali ini dia bersama Narko.
Nia memilih membuat sayur lagi masakannya tadi sudah habis, dan dia harus bekerja juga karena hari ini ada pengumuman tentang kenaikan jabatan.
Nia berharap jika dia bisa naik jabatan agar tak terlalu lelah, tapi semua sudah ada jalan masing-masing.
"Bu jika ingin makan sayur dan ikannya ada di wajan di atas kompor ya," pamit Nia yang memang mendapatkan tugas piket memeriksa kesiapan produksi.
"Iya," saut Bu Sumini sekilas.
__ADS_1
Nia berangkat membawa motor yang kemarin lalu dua beli dengan izin Benny, dan dia memilih motor dengan keluaran terbaru.
Sesampainya di pabrik, banyak temannya yang heboh melihat motor baru milik Nia.
Sedang di desa, Bu Sumini sedang berbelanja ingin memasak sayur lodeh, tapi Nia tak menyukainya jadilah mereka jarang memasaknya.
Saat masih berbelanja di bakul lijo itu, ternyata sudah ramai oleh ibu-ibu yang sudah hebring saat belanja.
"Loh Bu Sumini kok tumben belanja sendiri, biasanya menantunya yang belanja," tanya salah seorang dari wanita yang sedang belanja itu.
"Ini Bu biasa, pada sibuk semua, lagi pula selama saya masih bisa memasak sendiri, kenapa harus merepotkan menantu saya," kata Bu sumini.
Wanita itu pun diam, ternyata ada datang, wanita itu juga terlihat berdandan cukup cantik padahal rumahnya tak jauh dari tempat lijo itu mangkal
"Pagi Bu..."sapa Aida pada Bu Sumini.
"Ada angin apa kamu menyapa ku," kata Bu Sumini yang heran melihat sosok Aida yang datang.
"Ibu bisa saja, hanya ingin menyapa calon mertua ku yang dulu tak jadi," kata Aida dengan mulut manisnya.
"Kenapa buru-buru sih Bu, ibu tak tau jika dulu mas Benny menikah dengan ku pasti anaknya sudah banyak," kata Aida yang menyerang tepat di titik kelemahannya wanita itu.
Ya meski dia sudah punya banyak cucu, tapi kurang lengkap karena cucu dari Benny belum ada.
Dan lagi entah kapan itu akan jadi kenyataan, di tambah lagi Nia yang juga sibuk bekerja.
"Memang kita bisa memutar waktu, kamu saja baru ngomong sekarang karena Benny kaya, coba dulu orang tua mu saja tak Sudi memiliki mantu seperti Benny, tapi sekarang kenapa bilang seperti itu, jangan lah kamu menjilat ludah sendiri," kata Bu Sumini yang nyatanya masih belum memaafkan ucapan orang tua dari Aida.
Wanita itu hanya bisa diam, Bu Sumini tak mudah memaafkan apa yang dulu pernah terjadi pada putranya.
Bagaimana pun dulu Benny di hina habis-habisan di keluarga Aida saat ingin melamar wanita itu dulu
Hanya karena rumah keluarga Benny dulu terbuat dari bilik bambu, sedang sekarang mereka blangsak, dan Benny sukses malah mau mendekat.
"Tunggu saja, jika aku tak bisa merebut Venny dari istrinya, jangan panggil aku Aida, karena apapun yang aku inginkan itu akan jadi kenyataan," gumamnya dengan percaya diri.
Di pabrik tempat Nia bekerja, ternyata benar saja Nia naik jabatan lagi, terlebih kontribusinya membuat pabrik tak jadi kehilangan kerugian besar.
__ADS_1
Semua mengucapkan selamat pada Nia dan Lusi yang mendapat kenaikan jabatan.
Setelah pengumuman itu, mereka pun langsung balik kerja, dan Nia serta Lusi menempati ruangan baru mereka
Pas istirahat makan siang, tetap saja mereka kumpul dengan semua temannya ada Nina dan Feby juga.
dan kini ada tambahan teman lagi yaitu Sari dan Salma, mereka makan siang sambil saling berbagi lauk.
"Wah aku tidak menyangka, suaminya sudah bisa truk, sekarang mbak Nia juga naik jabatan, wah ... rezekinya bagus ya," kata Feby tak menyangka.
"Alhamdulillah... ini mungkin rezeki dari Allah, meski begitu aku juga punya cobaan sendiri, jadi jangan khawatir karena setia takdir dan rezeki seseorang tak pernah tertukar," kata Nia.
Benny mengirimkan foto dirinya yang sedang di jalan, Nia pun membalasnya dengan senang hati.
Tanpa di duga sebuah pesan masuk kedalam ponselnya, itu adalah pesan dari Dimas yang menanyakan tentang kondisi Nia.
Nia pun membalas dengan sopan,karena bagaimanapun juga berkat Dimas dia bisa pulang kapan hari.
"Terima kasih mas, berkat bantuan mas kemarin lalu, kondisiku tak menjadi parah," balas Nia.
"Iya dek, aku akan menjaga janjiku," pesan Dimas lagi.
Nia memilih mengabaikan pesan itu, karena Dimas ini tak bisa di bilangin untuk melanjutkan hidup.
Bagaimana pun Nia tak mungkin bisa membalas perasaan Dimas, karena sekarang dia sudah bahagia dengan Benny.
Aida mulai mengirimkan pesan pada Benny, mendapatkan pesan dari mantan kekasihnya itu, Benny memilih memblokir nomor Aida.
terlebih dia tak mau membuat istrinya sedih.
"Ah sial... kenapa sekarang nomor ku malah di blokir sih," kesal wanita itu, karena dia membutuhkan Benny secepatnya.
tapi sebuah undangan pernikahan datang, dan itu adalah mantan teman sekolahnya dan Benny dulu.
Dan sudah di pastikan jika Benny pasti akan pulang, dan di sanalah dia bisa menjalankan aksinya karena acara tersebut di adakan di luar kota.
Aida juga yakin jika Benny tak akan mengajak istrinya, karena Nia akan lebih memilih untuk lembur di perusahaan dari pada ikut dalam pesta seperti itu.
__ADS_1