
Nia tak menyangka orang yang selama ini di kenal sangat tegas dan sangat di takuti.
sedang menyuapi dirinya, sedang Dimas membantu pak Amir untuk mengambil beberapa rumput gajah di sawah milik Nia.
"sudah berapa bulan, kenapa kalian ini tak sabar," kata Bu Ningsih gemas
"sebenarnya Nia juga tak tau Bu, ini itu seperti kejadian yang tak di sengaja, terlebih awalnya karena lampu mati dan hujan,"
"ya sudah baik-baik menjaganya, oh ya apa mantan suami mu mengira ini putranya, karena ibu dengar tadi Dimas dan dia sempat bertengkar di telepon,"
"iya Bu, karena mantan suami saya ini tak pernah tau jika dia tak akan bisa memiliki anak karena dia kurang subur, Karena bagi keluarganya itu, dia itu yang paling sempurna Bu, jadi saya sudah biasa saja sekarang," kata Nia yang membuat Bu Ningsih tersentuh.
dia tak mengira keponakan jauh yang dulu sangat takut padanya, kini malah akan jadi menantunya.
Dimas dan pak Amir sudah kembali, mereka tadi pergi membeli sesuatu ya kebutuhannya dari baby yang akan lahir.
bahkan Bu Ningsih dan Nia saja terkejut melihat semua barang yang di bawa, "kalian ini mau buka toko atau apa?"
"kami hanya ingin membelikan sedikit barang untuk calon baby yang akan lahir, ya maklum karena kami tak mungkin tak menyiapkan itu," kata pak Amir.
"sudah pak, barang bayi itu tak lama terpakai jadi kemungkinan akan tak di gunakan lagi itu lebih cepat, di bandingkan dengan anak-anak," kata Nia yan mencoba memberikan pengertian.
__ADS_1
"baiklah-baiklah ini pertama dan terakhir, sudah ayo Dimas kita mulai buat ranjang bayi untuk baby boy," kata pak Amir semangat.
Bu Ningsih pun pamit ke belakang saat sudah selesai menyuapi Nia, karena bagaimanapun juga gadis itu harus makan jika tidak ingin sakit.
saat sedang duduk di ruang tamu sambil mengawasi dua pria yang tengah sibuk itu, tiba-tiba sebuah pesan masuk kedalam ponselnya.
dan betapa terkejutnya Nia membaca isi pesan itu, yang berisikan ancaman untuknya.
bahkan sampai ponsel itu terjatuh dari tangan gadis itu, "ada apa dek?" kaget Dimas yang melihat Nia tampak syok.
Dimas bergegas mendekat dan langsung mengambil ponsel itu dan membukanya.
Nia yang syok, tiba-tiba merasakan mulas di perutnya, dan ketuban mendadak pecah.
"mas sakit..." lirih Nia mengenggam tangan Dimas.
"dek air ketuban mu pecah, ibu tolong!!" teriak Dimas yang langsung mengendong Nia masuk kedalam mobil.
akhirnya gadis itu di bawa masuk kedalam mobil dan akhirnya di bawa ke rumah sakit terdekat.
di sana Nia terus mengenggam tangan Dimas, "sakit ..."
__ADS_1
"iya dek sabar ya, dokter akan menolong mu," kata Dimas yang berusaha menenangkan Nia.
"aku tak sanggup kak, tolong jangan tinggalkan aku," kata wanita itu yang terus menjerit.
pak Amir dan Bu Sholihah merasa bingung, kenapa dan ada apa ini sebenarnya.
kenapa Nia begitu memaksa ingin bersama dengan Dimas, padahal mereka tak memiliki hubungan apapun.
akhirnya saat Dimas dan Nia ke ruang persalinan karena ternyata wanita itu bisa melahirkan normal.
Bu Ningsih menceritakan semuanya pada orang tua Nia, pak Amir dan Bu Sholihah tak percaya jika putri mereka melakukan hal yang di tentang agama seperti ini.
di ruang bersalin, Dimas sudah merasakan cakaran dan jambakan rambut yang keras.
dan akhirnya bayi laki-laki itu lahir dengan sempurna dan suara tangisan yang melengking.
"mohon ayah bayi untuk mengadzani Putranya," kata dokter yang memberikan bayi sehat itu pada Dimas.
dengan suara gemetar, Dimas mulai mengumandangkan adzan dengan sangat haru.
bahkan semua yang mendengarnya pun tak bisa menahan air matanya termasuk Nia.
__ADS_1