
Nia dan Dimas sampai di rumah, keduanya tadi juga sudah sempat makan di luar karena Nia ingin makan ayam bakar sambil melihat mobil lewat.
jadi tadi mereka makan malam dulu, tak lupa mereka juga tadi beli martabak telur dan martabak manis juga.
kebetulan hari ini ada arisan keluarga di rumah bulek di samping rumah Nia, otomatis semua orang kumpul disana.
Dimas sudah tidak bisa menundanya lagi, dia ingin segera melamar Nia.
bisa atau tidak dia harus segera melamarnya, karena dia tak ingin Nia kembali kepada mantan suaminya yang sialan itu.
"kamu mandi dulu ya, biar aku kumpul sama yang lain," kata Dimas pamit.
"iya, sepertinya aku akan beristirahat karena sudah lelah," kata Nia yang di angguki oleh Dimas.
dia pun langsung menuju ke rumah buleknya itu, ternyata arisan keluarga baru saja di mulai
Dimas merasa aneh dengan semua orang yang tampak senang saat dia datang.
__ADS_1
"selamat datang Dimas, kemarilah," panggil Bu Ningsih.
"ada apa Bu, jika kalian meminta ku datang untuk membujuk ku dan mengenalkan aku pada seorang gadis lupakan saja, karena aku tak menyukai siapapun," kata Dimas yang mengejutkan semua orang.
"kamu ini ngomong apa sih, sudah duduk saja dulu," kata pak Sugik.
arisan keluarga di mulai, ternyata Nia juga di minta datang ke rumah saudaranya itu.
arisan di mulai dengan biasa, hingga pembicaraan menuju ke arah yang tak di sukai Dimas.
"hari ini sebenarnya juga adalah acara pertunangan nak Dimas dan Ayu, keponakan dari istriku," kata pak lek Jono.
"Dimas tenangkan dirimu, ini adalah keputusan kami untuk menikahkan kamu dengan Ayu,dia itu gadis cantik dan juga lembut," kata bulek Juni yang memang ingin memiliki Dimas sebagai suami keponakan kesayangannya, karena dia baru tau ternyata orang kaya.
"kenapa tidak menyuruh suami mu sendiri yang menikahinya, karena aku akan menikahi siapapun yang aku cintai, meski pun seluruh keluarga menentangnya, aku akan tetap menikahinya, karena aku menikah dengan wanita yang aku cintai,bukan dengan wanita pilihan kalian yang entah berasal dari mana," kata Dimas yang bangkit dan mengulurkan tangannya pada Nia.
tentu saja Nia menyambut tangan Dimas dan bangun, Keduanya akan pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"kalian tidak bisa menikah selama Nia hamil anak mantan suaminya, lagi pula tak pantas seorang jejaka menikahi seorang janda memiliki anak, lebih baik Nia kembali pada mantan suaminya," suara pak lek Jono.
"TIDAK, KAMI MENENTANGNYA!!" teriak kedua kakak Nia yang juga datang ke arisan keluarga itu.
"sudah hentikan, selaku orang paling tua di sini, apa kamu sudah tak menghargai ku Jono, kamu lupa jika aku juga menikahi seorang wanita yang pernah gagal dalam pernikahan,jika mereka saling setuju menikah, apa susahnya menunggu sampai Nia melahirkan, toh ini hidup mereka, jadi sekarang tidak boleh ada yang memaksa siapapun menikah dengan siapa, setiap anak bisa memilih jodoh mereka sendiri," kata pakde Karto selaku keluarga tertua.
"terima kasih pakde," jawab Dimas dan Nia yang masih berpegangan tangan.
Bu Ningsih merasa ada yang aneh, karena Dimas ini selalu tak suka dengan orang yang bukan darah keluarganya.
tapi sekarang dia begitu ingin menikahi Nia yang sedang hamil anak mantan suaminya.
dan bukan putranya yang akdn mau merawat bayi orang lain begitu saja, kecuali itu anak dari Dimas.
dia mulai ingat saat acara lamaran putrinya beberapa bulan yang lalu, jika di hitung, kejadian itu sebelum Dimas berangkat untuk bekerja ke luar kota.
maka usia kandungan Nia pasti pas, sekarang dua sadar kenapa Nia tetap bercerai meski sedang hamil.
__ADS_1
karena bayi itu bukan milik mantan suami Nia, melainkan milik putranya yaitu Dimas.