
Nia mengeleng pelan, mau seburuk apapun itu tetap ibu suaminya, "jika ibu tak ingin aku pergi, tolong hargai istri ku Bu, ibu terus mengatakan dan melakukan hal yang membuatnya tak nyaman, apa ibu lebih suka jika aku seperti cucu kesayangan mu yang menghamili anak orang baru menikahinya,"
"Mas cukup, sekarang mas mandi dulu ya, aku akan siapkan segalanya," kata Nia yang membujuk suaminya itu.
Akhirnya Benny masuk kedalam kamar, sedang Nia mengambil semua makanan yang tadi dia simpan di dalam jok.
Setelah memanaskan lagi, kini Semuanya siap, Bu Sumini pun kesal mekigat Nia yang menyembunyikan semua darinya
Tak butuh waktu lama, akhirnya Benny datang ke meja makan, dan menikmati apa yang di siapkan oleh istri tercintanya itu.
Keduanya makan , sedang Bu Sumini pergi dari rumah dan memilih tinggal di rumah anak pertamanya.
"Maaf ya dek, kamu pasti stres harus menghadapi ibu yang seperti ini,"
"Tak masalah mas, aku juga tak menyalahkan siapa pun, toh itu juga bukan sepenuhnya kesalahan ibu, mungkin itu cara ibu meluapkan emosi karena aku yang tak bisa memberikan anak," lirih Nia yang mencoba tetap tegar.
"Tidak, bukan begitu... ibu harus mengerti jika anak, rezeki dan maut itu sudah ada yang mengaturnya," terang Benny.
Inilah yang membuat Nia sedikit merasa di hargai saat ada Benny di rumah, setidaknya rumah ini bisa untuk di tinggali.
Beda saat Suaminya itu sedang berada di luar kota, setelah makan berdua, Benny pun mengajak istrinya itu belanja bulanan lagi.
Nia dan Benny tetap seperti kekasih yang masih berpacaran, keduanya juga sering menikmati waktu berdua.
Tapi saat keduanya berbelanja di swalayan, tak sengaja mereka bertemu dengan empat orang wanita yang biasa di sebut geng rempong.
pasalnya keempat wanita itu adalah orang yang selalu mengurus semua acara yang ada di dusun mereka.
"halo cak Benny,belanja juga," sapa salah satu orang.
"eh kalian semua ada di sini, belanja juga?" tanya Benny basa-basi.
"iya nih cak, lumayan kalau di sini harganya miring dan lebih lengkap," jawab Aida yang menjawab dengan senang.
Nia pun mendekat dan mengandeng lengan suaminya dengan erat, "mas..." katanya menepuk lengan Benny pelan.
"Ya sudah ya semuanya, saya masih ada barang yang harus di beli, ayo sayang," kata Benny.
Dia dan Nia memutuskan untuk menjauh, sedang ada tatapan lain dari Aida.
__ADS_1
Wanita itu tampak tak suka dengan apa yang dia saksikan. terlebih Benny sekarang sudah semakin tampan dan bersih.
Tapi saat Nia ingin mengambil camilan kesukaannya, itu terlalu tinggi.
Saat dia berusaha untuk mengambilnya, tapi tangannya tak sampai, tapi saat ingin memanggil Benny.
Seseorang datang dan membantunya, Nia mengenali parfum itu, dia bergegas menoleh dan melihat sosok Dimas yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Mas Dimas," lirih Nia tak sadar meneteskan air matanya.
"Hei dek, ketemu mas kesayangan mu ini jangan nangis dong, kamu tetap sana ya, menyukai camilan ini," kata Dimas.
"Mau bagaimana lagi, ini salah mu yang telah menjejali ku camilan ini dari kecil," kata Nia tersenyum.
Benny yang sudah memilih sabun untuk kendaraannya, heran melihat Nia yang berbincang dengan seorang pria.
"Sayang," kata Benny yang memanggil Nia
"Iya mas," jawab Nia menoleh ke arah Benny dan Dimas sudah pergi begitu saja.
Benny merasa curiga, karena Dimas bergegas pergi saat tau dia datang, "siapa yang berbincang dengan mu?"
"Dia pergi, dia bergegas pergi saat aku memanggil mu," kata Benny.
"Sepertinya dia belum bisa menerima semuanya, sudahlah mas lebih baik kita pulang karena semua yang di butuhkan untuk rumah juga sudah di beli," kata Nia.
"Iya sayang," jawab Benny.
Saat di dalam mobil,Benny sedikit merasa tak tenang karena tatapan pria tadi pada istrinya begitu dalam.
Begitupun dengan Nia yang tak menyukai empat wanita itu, terutama wanita yang memakai jilbab segi empat itu tadi.
Karena dia tau jika wanita itu adalah mantan kekasih pertama suamimu, dan di tambah mereka itu juga satu desa.
"Sayang, kamu yakin pria tadi hanya saudara ku, tapi kenapa aku merasa tatapan matanya berbeda ya," tanya Benny.
"Itu memang saudara jauh, mas juga tau kisah ku sebelum menerima pinangan mu,karena pria tadi adalah calon yang di sodorkan untuk ku," jawab Nia.
"Owh pantas saja," jawab Benny yang mulai takut.
__ADS_1
Karena dia merasa tidak lebih baik dari pria itu, di lihat dari penampilan sekilas saja sudah ketahuan.
Karena Dimas memiliki wajah tampan dengan rahang tegas, dan badan yang bidang.
Belum lagi penampilan pria itu terlihat trendi dan kulit bersih tidak seperti dirinya yang memiliki brewok yang meski sudah di cukur pun tetap menjadi hutan rimbun.
Mobil yang di kendarai oleh Benny sampai di rumah, terlihat rumah sepi dan sudah bisa di pastikan jika ibu Sumini memilih tidur ikut putra pertamanya.
Akhirnya Nia menata semua belanjaannya, dan tak lupa memberikan jamu yang tadi yang begitu di inginkan.
Benny meminum jamu itu, dan kemudian memilih istirahat saat Nia masih sibuk menata semua.
Setelah selesai, dia pun Mengenakan lingerie seksi yang tak pernah dia gunakan sedikitpun karena tau jika suaminya itu pasti protes jika di pakai saat dia tak ada.
Benny yang melihat pemandangan indah dan menggoda begitu membuat dirinya tak bisa menahannya.
Tapi saat keduanya mulai memadu kasih, betapa terkejutnya Nia karena bayi juga beberapa detik.
Suaminya itu sudah tak bisa menahan diri untuk mencapai kepuasan terlebih dahulu.
Setelah itu pun Benny tidur kelelahan, meninggalkan Nia yang masih bingung dengan apa yang terjadi.
Padahal Benny sudah minum jamu tradisional yang di jamin ampuh karena dia beli di tempat shin shei.
Tapi nyatanya tak berpengaruh sedikit pun padanya, Nia pun langsung tidur membelakangi suaminya.
Dia tengelam dalam bayangannya sendiri, dan dia tak menyangka jika akan lebih parah kondisinya.
Akhirnya keduanya tidur begitu saja, dan tidak ada obrolan apapun, karena Benny terlalu lelah.
Tapi saat pukul empat pagi, saat Nia akan bangun, Benny minta melakukan hubungan suami istri lagi.
Meski melakukanya beberapa kali, tapi durasi permainannya tak sampai satu menit
Itu yang membuat Nia sedikit kecewa, tapi dia berusaha untuk memaklumi suaminya.
Setelah itu, Nia sudah mandi dan memasak untuk suaminya, dan tak lupa mempersiapkan bekal untuk di pabriknya.
Pukul enam pagi Benny bangun dan langsung mandi, setelah itu dia keluar karena ingin sarapan dan mengantar istrinya itu ke pabrik.
__ADS_1