Diantara Dua Pria

Diantara Dua Pria
apa ini bukan mimpi.


__ADS_3

setelah keberangkatan Dimas ke luar kota untuk bekerja, Nia kembali sibuk mencari uang.


sekarang dia semakin terlihat bahagia, dan untuk perceraian dan gugatan harta semua di urus oleh pengacaranya.


"ada apa kamu mencariku, apa butuh sesuatu?" tanya Nia yang batu pulang kerja.


sebenarnya pak Amir dan ibu Sholihah kaget mendapatkan kabar putrinya memilih pulang dan mengakhiri semuanya


tapi mereka tak marah karena bagi mereka apa yang membuat putrinya bahagia mereka akan mendukungnya.


"gak ada kok, aku cuma mau mengantarkan surat cerai milik mu, dan milik suamimu sudah ku ambilkan juga," kata sosok pengacara yang di minta bantuan oleh dimas.


"terima kasih, jika bukan karena bantuan mu mungkin ini akan berlarut-larut," kata Nia yang memang mengenal siapa suaminya itu.


"kamu benar, aku bahkan saat mengantarkan surat cerai itu, dia terlihat sangat marah, dan tak percaya dengan pilihan mu,"


Nia hanya tersenyum, dia dan pria itu pun berpisah, sekarang Nia harus menjalani masa Iddah


"aku bawa duren," kata Adi yang memang pecinta berat buah itu.


Nia yang mencium aroma buah durian pun tiba-tiba mual, dia merasa kepalanya pusing


"huwe..."

__ADS_1


"kamu sakit Nia," tanya Adi yang heran.


"rakuntak suka mencium aromanya, aku jual!!" kata Nia yang berlari dan memuntahkan semua isi perutnya.


Bu Sholihah ingat, setelah pulang dari umrah dia bermimpi melihat Nia mengelus seekor burung berwarna emas di pangkuannya.


"pak, apa Nia hamil?"


jeder.... pertanyaan itu membuat semua orang kaget sekaligus syok, bagaimana tidak Nia baru bercerai.


"ibu ini ngomong apa, karena Nia mual kamu bilang Nia hamil," kata pak Amir.


"tidak karena itu saja pak, mulai dari Nia yang ibu perhatikan beberapa hari ini, bentuk tubuh Nia berubah dan sering makan asam Jawa kalau pagi," kata Bu Sholihah.


Nia baru keluar dari kamar mandi, "apa bisa begitu," bingung Nia.


Nia di bonceng Adi, dan orang tua mereka mengunakan motor sendiri,karena keluarga Nia ini termasuk keluarga yang menengah ke bawah.


sesampainya di rumah Bu bidan, akhirnya Nia pun di periksa. dan menurut perhitungan Bu bidan.


"selamat, anda sedang hamil delapan Minggu terhitung dari mentruasi terakhir kali," kata Bu bidan.


Nia kaget, saat dia menghitung, dia ingat jika dia tak pernah di sentuh Benny setelah mentruasi terakhir kalinya.

__ADS_1


jadi anak ini adalah anak Dimas saat mereka bablas melakukannya beberapa kali.


"Alhamdulillah ya Allah, tapi ini berita baik atau berita buruk," kata pak Amir yang mengusap rambut Nia.


mendapatkan hal besar seperti ini, Nia pun langsung memeluk tubuh pak Amir.


dia menangis tersedu-sedu karena kini dia mendapat apa yang sangat dia inginkan, tapi dari orang lain.


"bagaimana ini pak, Nia baru saja sah bercerai," kata Bu Sholihah yang mengejutkan bidan yang sedang mengisi buku KIA.


"maaf tapi sudah berapa lama mereka pisah," tanya bidan itu.


"setidaknya satu setengah bulan ini Bu," kata Bu Sholihah.


"berarti putri anda bercerai saat dia tak tau sedang hamil anak suaminya, ya sudah nanti di bahas di rumah lagi, dan ini buku KIA nya, jika ingin lebih pasti kalian bisa melakukan USG,"


"iya Bu bidan kami permisi dulu kalau begitu," kata pak Amir yang mengajak putrinya itu pulang ke rumah.


Nia masih tampak tak percaya, sedang pak Amir ingin menghubungi Benny tapi di hentikan oleh Adi.


"jangan kirim Nia kesana lagi pak, mereka sudah berpisah dan lagi aku dengar Benny sudah menikahi wanita yang dia jadikan selingkuhan," kata Adi.


"tapi Adi, setidaknya ayah bayi di perut adik mu ini harus tau," kata pak Amir yang tak ingin cucunya itu lahir tanpa di ketahui oleh ayah kandungnya.

__ADS_1


"tak masalah pak, aku bisa hidup sendiri, dan membesarkan anakku ini tanpa bantuan siapapun," kata Nia yang mengusap perutnya yang masih rata.


"baiklah Nia, jika itu keputusan mu, bapak akan hormati," terang pak Amir.


__ADS_2