Diantara Dua Pria

Diantara Dua Pria
penyesalan


__ADS_3

Nia terbangun karena sebuah telpon dari pak Amir, "assalamualaikum bapak, ada apa," tanya Nia.


"wa'alaikumussalam, bapak cuma mau tanya, apa kamu baik-baik saja nak, bapak merasa jika kamu dalam masalah," kata pak Amir yang memang sedang berada jauh dari putrinya.


"tidak apa-apa pak, tolong doakanlah putri mu ini untuk sukses, dan kuat ya pak, dan di berikan cinta yang banyak," kata Nia.


"amiin nduk, bapak pasti akan mendoakan mu di sini, dan semoga putriku ini akan segera punya momongan yang banyak," kata pak Amir.


"amiin..." jawab Nia yang kemudian mematikan telponnya.


dia kaget melihat dirinya masih belum mengenakan apapun,dan betapa terkejutnya dia saat melihat sosok Dimas yang juga sama.


"apa yang sedang kami lakukan..." kata Nia yang terisak dan bersiap ke kamar mandi.


tapi dia merasakan seperti ada yang mengganjal belum lagi pinggangnya yang sangat sakit.


"ya Tuhan, kenapa tubuh ku begitu sakit, dan apa yang sebenarnya kami lakukan, kamu Monster mas..." gumam Nia yang bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


setidaknya setelah mandi, tubuh Nia terasa begitu segar dan sedikit lebih nyaman, saat dia melihat ke dalam cermin.

__ADS_1


dia terkejut bukan main, pasalnya leher dan seluruh tubuhnya penuh dengan tanda merah.


Dimas terbangun karena tak merasakan kehadiran Nia di sampingnya.


dia melihat adik sepupunya itu sedang berdiri di depan cermin dengan rambut basah.


Dimas pun bangkit dan memeluk Nia dari belakang, bahkan pria itu hanya mengenakan boxer saja.


"ya Allah mas, kita bukan muhrim, maaf tadi aku khilaf mas..." kagetnya yang mundur menjauhi Dimas.


tapi pria itu menariknya hingga kembali dalam pelukannya, "kenapa seperti itu dek, kamu tau aku sangat mencintai mu, maaf merusak mu tapi jujur saja aku tak bisa menahan diriku,"


"aku akan menunggumu, tapi sepertinya aku tak bisa menemanimu menggugatnya, karena aku harus berangkat ke Manado dan menetap di sana selama tiga tahun, aku terlanjur menandatangani kontrak," kata Dimas.


"baiklah, aku juga mungkin tak akan mudah menerima siapapun nantinya," kata Nia yang mengiyakan perkataan sepupunya.


tak butuh waktu lama, keduanya pun berpisah, Nia sebenarnya takut, bagaimana jika dia sampai hamil.


terlebih tadi mereka melakukannya berkali-kali tanpa mengunakan pengaman, di tambah Nia juga dalam masa subur.

__ADS_1


tapi dia menepis pikiran itu karena tak mungkin terjadi, mengingat mustahil untuk bisa hamil dalam waktu dekat.


akhirnya Nia beristirahat tapi sebelum itu dia mengganti sprei terlebih dahulu.


sedang Dimas menghubungi temannya untuk besok membantu Nia.


di rumah Aida, wanita itu sedang kebakaran jenggot karena besok dia di minta Bu Sumini untuk ikut memeriksakan kandungan.


ya wanita itu tak sabar untuk bisa melihat calon anak dari Benny yang sudah di tunggu beberapa tahun tapi tak kunjung hadir.


"bagaimana ini, aku bisa gila... aku kan tidak hamil terus aku harus bagaimana, dasar wanita tua sialan ini," gumamnya kesal.


dia pun memikirkan cara untuk membuatnya seolah-olah kehilangan bayinya.


jadi dia membuat drama nanti di rumah Benny, agar wanita itu tak bisa memaksanya lagi.


Aida di jemput Benny sesuai perintah ibunya itu. saat sampai di rumah Benny.


Bu Sumini menyambut kedatangan dari menantunya itu dengan sangat bahagia.

__ADS_1


__ADS_2