Diculik Cinta

Diculik Cinta
Chapter 10 - Ayah Bangkrut


__ADS_3

"Kau mau membawaku kemana, sih?" tanya Aliya dengan raut wajah kesal menatap ke arah Alex.


"Aku akan membawamu menemui ayahmu," sahut Alex.


"Apa? kau benar-benar akan membawaku pada ayahku?"


Aliya mengubah posisi duduknya menghadap Alex dengan raut wajah makin kesal.


Tak ada jawaban dari Alex yang membuat gadis itu terus merengek. Sampai akhirnya Alex menyalakan radio mobilnya dengan suara kencang memekakkan telinga.


"ALEX MATIKAN RADIONYA...."


Aliya menjerit setengah mati seraya menekan tombol di layar radio yang ia malah tak mengerti bagaimana cara mematikannya.


Pria itu malah tertawa sambil bernyanyi dengan suara lantang lagu rock 'n roll yang diputar di radio tersebut.


"Aarrgghh... Kau benar-benar menyebalkan!"


Aliya menaruh tangannya lalu bersedekap seraya menunjukkan wajah kesalnya.


Satu jam berlalu, Aliya masih memasang raut wajah cemberut dengan kemarahan yang dipaksakan dan hanya bisa di pendam oleh gadis itu.


Mobil sedan putih itu sampai di sebuah gudang dekat pelabuhan.


"Ini bukan tempat ayahku, di mana ini?" tanya Aliya mulai penasaran.


"Aku mau bertemu seseorang, kau tunggulah di sini!" pria itu memberi titah.


Alex turun dari mobilnya dengan mengunci Aliya di dalamnya. Ia menemui seorang pria paruh baya yang rambutnya dicat warna pirang. Dua orang penjaga berbadan tegap dan berotot kekar menjaga pria tua itu dari belakangnya.


Alex menjabat tangan pria paruh baya yang menggunakan kaca mata hitam itu, lalu kemudian keduanya saling berbincang satu sama lain.


"Gaya sekali pria tua itu, kira-kira dia siapa ya?" gumam Aliya yang hanya bisa menyaksikan pembicaraan Alex dan pria itu. Sesekali mereka memandang pada Aliya dari kejauhan itu.


Lalu setelah dirasa cukup dalam perbincangan mereka, Alex kembali menjabat tangan pria di hadapannya itu. Ia kembali melangkah menuju Aliya.


"Siapa pria itu?" tanya Aliya ingin tahu.


"Bukan urusanmu!"

__ADS_1


Alex langsung mengenakan sabuk pengamannya dan melajukan mobilnya untuk pergi dari sana.


***


Aliya mulai mengenai jalanan yang dilalui mobil Alex ini. Gelisah dan ketakutan melandanya, karena ia yakin benar jalanan ini menuju ke tempat perusahaan milik ayahnya.


"Duh, kau benar-benar membawaku menemui orang tuaku, ya?" gumam Aliya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ya, aku akan membawamu pada calon suamimu dan meminta uang pada ayahmu," sahut Alex sambil tertawa kecil.


Dua orang satpam menghentikan laju mobilnya.


"Selamat siang! Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya salah satu penjaga itu.


"Siang, Pak! saya mau menemui pemilik perusahaan ini yang bernama... Heh, siapa nama ayahmu?" Alex, menoleh pada Aliya.


"Sahid Wijaya," sahut Aliya.


"Saya mau bertemu dengan Bapak Sahid Wijaya," ucap Alex.


"Oh maaf, Pak, pemilik perusahaan ini sekarang Nona Marie," ucapnya.


"Ummm... apa Anda tidak menyimak berita hari ini?" tanya penjaga tersebut.


Alex menggeleng, "Memangnya kenapa, dan ada apa dengan berita hari ini?" tanya Alex.


"Tuan Sahid Wijaya kan mengalami kebangkrutan, dan hari ini dia masuk penjara karena terlilit hutang berjudi," jawabnya.


"APA?!" teriakan Aliya yang tepat di telinga Alex membuatnya langsung berdengung.


"Kau itu ya, jangan teriak-teriak, dong di telingaku! dasar gadis idiot!" maki Alex.


"Ah berisik! aku kan terkejut kenapa ayahku bisa sampai di penjara," ucap Aliya memukul bahu Alex. Pukulannya terasa perih sampai Alex mengusap bahunya sendiri.


Tin... Tin...


Sebuah mobil Jaguar hitam membunyikan klaksonnya berkali-kali agar mobil milik Alex itu bergeser karena menghalangi jalannya.


"Nah, itu nona Marie."

__ADS_1


Penjaga gerbang tersebut langsung menunjuk ke arah wanita yang dipanggil Nona Marie tersebut.


Alex langsung memindahkan mobilnya ke tepi.


Perempuan langsing itu mengenakan seragam kerja yang nyaman dengan rok warna hitam. Rambut hitamnya dia kibaskan saat tertipu angin saat turun dari mobil mewahnya. Kacamata hitamnya ia lepaskan dan wajah cantiknya langsung membuat para pria tersebut tak jemu memandang wajahnya.


"Wah cantiknya...." puji Aliya.


Alex langsung menyalakan mobilnya dan pamit pulang pada si penjaga tadi.


"Bisakah kita menemui ayahku, di penjara?" pinta Aliya. Kedua matanya mulai mengembang, karena menampung banyak tangisan yang ia coba sembunyikan. Namun, air mata itu akhirnya menetes juga.


"Jadi, bagaimana caranya nanti aku bisa mendapat uang dari ayahmu, jika ayahmu sudah bangkrut, bahkan masuk penjara?" tanya Alex.


"Aku tahu, aku akan menjadi asisten rumah tangga di apartement kamu, setiap hari aku akan bersihkan dan memasak. Aku juga menjadi gadis penurut, jika bayarannya sesuai, kalau tak sesuai untuk apa aku mati-matian membela kamu," ucap Aliya.


"Hmm... kok aku merasa jadi merugi ya karena memelihara gadis sepertimu?" gumamnya.


"Memangnya aku binatang peliharaan apa!" Aliya menepuk bahu Alex.


"Oke, oke, belilah buku catatan, lalu kau hitung pengeluaranmu setiap hari, agar aku tau berapa banyak uang yang kau habiskan, mengerti?" tanya Alex.


"Untuk apa?" tanya Aliya.


"Untuk mengganti kerugian ku, karena aku tak bisa mendapat apa-apa dari ayahmu!"


"Iya, baiklah aku mengerti."


******


To be continue...


See you next chapter.


Jangan lupa like, komen dan rate bintang 5...


Bantu promote ke semua teman-teman kalian semua ya ajak mampir...


Thank you sayang-sayangnya Vie...

__ADS_1


Love you all 😘😘😘


__ADS_2