
"Alex? kamu ngapain di sini?" seorang wanita datang menyapa Alex saat menuruni anak tangga.
Alex langsung mengangkat kepalanya. Tiba-tiba wajahnya terbelalak tak percaya.
"Selena?" Alex membuka suaranya yang terdengar agak panik.
Aliya langsung mencari asal suara wanita yang menegur Alex tadi.
"Astaga, mau apa wanita itu di sini?" gumam Aliya.
"Oh iya perkenalkan, itu Selena, saudara tiriku," ucap Alex menunjuk Selena.
"APA?"
Alex dan Aliya menyahut bersamaan dan saling tatap.
"Apa kau mengenal Alex-ku, Amir?" tanya Selena.
"Hah, Alex-mu?" sahut Amir dengan melontarkan pertanyaan kembali pada saudara tirinya itu.
"Iya, dia ini dulu sangat menyukaiku, ya kan Lex, kau sangat msnyukaiku? tapi tak pernah berani ia ungkapkan, lalu aku pergi ke Inggris berkencan dengan Steve tapi setelah ku kembali tanpa Steve, laki-laki ini sudah tak menyukaiku lagi, karena ia sudah meβ" ucapan Selena terhenti saat Tuan Sahid datang menghamburkan dirinya memeluk Aliya sambil mengeluarkan tangisannya.
"Aliya, ayah rindu sekali padamu," ucap Tuan Sahid seraya menangis.
"Ayah... huaaaa...." tangisan Aliya makin kencang di pelukan ayahnya.
Aliya melepas pelukannya dari sang Ayah, lalu menatap tajam ke mata pria paruh baya di hadapannya itu.
"Jelaskan pada Aliya, kenapa Ayah sampai bangkrut dan masuk berita tv tadi pagi?" tanya Aliya dengan lirikan mautnya.
"Hehehe..." Tuan Sahid hendak melangkah menuju kamar belakang yang disiapkan untuknya.
"Eits... Ayah mau kemana hayo? coba jelasin sama anakmu yang cantik, manis, imut dan penuh sensualitas ini...," ucap Aliya menahan lengan Ayahnya yang mau pergi menghindarinya.
Alex menahan tawanya, ia tak menyangka Aliya akan memperlakukan Ayahnya seperti anak kecil. Begitu juga dengan Amir dan Selena yang tak percaya melihat sikap anak dan ayah itu.
__ADS_1
Aliya dan ayahnya terlihat lucu sekali di hadapan mereka.
"Ayah, ayo jelaskan kepadaku!" pinta Aliya seraya menghentak-hentakkan kakinya berkali-kali dengan kesal.
"Ayah, ummm... itu Ayah..."
"Ayah main judi lagi, kan?" tanya Aliya sambil berkacak pinggang mencari jawaban jujur dari sang Ayah.
"Hehehe... Ayah khilaf, Nak. Maafkan Ayah, ya?" Tuan Sahid berusaha merayu Aliya dengan tatapan memelasnya.
"Kenapa perusahaan Ayah jatuh ke tangan orang lain, hah?"
"Ayah kalah taruhan dengan wanita itu, jadi dia mengambil alih perusahaan Ayah, maaf ya...."
Tuan Sahid menundukkan kepalanya di hadapan Aliya.
"APA? AYAH KALAH DARI PEREMPUAN?"
pekik Aliya tak percaya dengan yang ia dengar barusan dari mulut Ayahnya.
"Cukup! hentikan! sampai kapan ayah akan berhenti kecanduan dengan judi? jangan-jangan Ayah akan menjadikan ku bahan taruhan ya karena kalah judi?" tanya Aliya membuat Ayahnya sudah meringkuk ketakutan karena bentakan Aliya yang sedang marah.
"Jelas saja, Ayahmu kalah dari perempuan cantik tadi, buktinya dia saja kalah dari kamu," celetuk Alex.
"Heh! kamu gak ada urusan ya, jadi diam saja!" bentak Aliya menoleh tajam ke arah wajah Alex dengan hunusan bola matanya yang seolah hampir keluar dari sarangnya.
Alex langsung menundukkan kepalanya dan terdiam.
"Hmmm sama saja, jelas-jelas sejak kecil gadis ini sudah menjadi ketua geng di sekolah, preman pasar aja dia lawan," celetuk Amir.
"Kamu, kalau saya bilang diam ya diam ya!" Aliya menunjuk Amir.
Alex langsung tertawa melihat Amir, tapi langsung ia tahan kembali kala Aliya menoleh padanya.
"Dan kau Nona... jangan coba-coba ikut-ikutan!" ucap Aliya yang kini menunjuk Selena yang sedari tadi padahal hanya diam menyimak.
__ADS_1
"Kau menunjuk aku, wah berani sekali kauβ"
Amir langsung menahan Selena agar tak menghampiri Aliya. Watak keduanya yang sama-sama keras, pasti akan menghasilkan ledakan perang dasyat di dalam rumah ini.
"Sekarang Ayah katakan padaku, apa benar aku dijadikan barang taruhan karena Ayah kalah judi? Ayah mau menikahkan ku dengan pria tua bangka, kan?" tuduh Aliya.
"Dari mana kau dapat berita itu? asal kau tahu saja ya Nak, Ayah menjodohkan dirimu dengan pria kaya yang pastinya akan kau sukai," ucap Tuan Sahid melirik ke arah Amir.
"Tapi dia tua bangka, kan?" tanya Aliya lagi.
"Tidak, dia masih muda, tampan, gagah, dan kau kenal dengannya, kau pasti menyukainya," ucap Tuan Sahid meyakinkan Aliya.
"Ayah bohong!"
"Aliya anakku, Ayah akan menikahkanmu dengan Amir," ucap Tuan Sahid.
Aliya langsung menoleh pada Amir yang tersenyum manis padanya sambil bersedekap. Alex langsung memperhatikan sosok Amir dengan seksama.
"Apa kau mau aku melamarmu sekarang?" tanya Amir.
"Tunggu! apa aku tak salah dengar? gadis ini akan menikah dengan adikku?" Selena angkat bicara memotong pembicaraan Tuan Sahid dan Aliya.
******
To be continue...
See you next chapter.
Hei 9 Lives nongol lagi di Jilid II mampir kesana ya...
Jangan lupa vote, like, komen dan rate bintang 5...
Bantu promote ke semua teman-teman kalian semua ya ajak mampir...
Thank you sayang-sayangnya Vie...
__ADS_1
Love you all πππ