
Mobil Alex tiba di seberang sebuah sekolah elit nan mewah.
"Kau serius mau menculik anak kecil?" tanya Aliya.
"Sssttt jangan bawel!"
"Alex...."
Gadis itu langsung menundukkan kepalanya kala Alex menoleh dengan tatapan tajam kepadanya. Selang waktu kemudian, Alex melajukan kendaraannya mengikuti sebuah jaguar hitam.
Tak butuh waktu lama, adegan kejar-kejaran antara jaguar hitam itu dan mobil Alex pun terjadi. Aliya berpegang dengan kuat seraya menutup kedua matanya. Kedua mobil itu melaju dengan kencang sampai masuk ke area jalan yang belum selesai pembangunannya.
Sampai lah kedua mobil itu di bawah jembatan layang yang sepi dan mobil Alex berhasil menyalipnya.
"Kau tak akan membunuh sang sopir, kan?" ucap Aliya dengan wajah cemas.
Alex hanya menjawab dengan senyum sinis lalu ke luar dari dalam mobil jaguar tersebut.
"Ya Tuhan, bagaimana kalau dia menembak si sopir sampai mati, haduh..."
Aliya menggigit ujung kukunya dengan raut wajah cemas yang melandanya.
Sopir jaguar itu ke luar dari mobil tersebut dan sungguh di luar dugaan Aliya. Pria itu menghamburkan tubuhnya memeluk Alex seraya tertawa.
"Sungguh kejar-kejaran yang mengasyikkan, Bro!" ucap pria itu.
"Iya, harus ku akui kau memang masih hebat, Drew."
"Itu anaknya, dia tadi sudah meminum jus jeruk yang kuberi obat tidur," ucap Andrew.
"Hahaha... kau memang selalu dapat kuandalkan, baiklah aku bawa dia dari sini, nanti ku hubungi kau lagi setelah semuanya beres," ucap Alex.
Lalu Alex masuk ke dalam jaguar tersebut dan mengangkat tubuh anak laki-laki berusia sekitar empat tahun itu.
Andrew lalu mengangguk dan tersenyum. Pria itu masuk kembali ke dalam mobil jaguar hitam itu lalu melaju pergi.
Alex menaruh anak laki-laki itu ke dalam kursi belakang mobilnya.
"Jadi, kau dan sopir anak itu sudah bersekongkol rupanya," ucap Aliya.
"Sudah jangan berisik, kau urus anak ini ya nanti," perintah Alex.
"Aku? kenapa harus aku?" Aliya menunjuk dirinya sendiri.
"Menurutmu, aku harus membayar asisten rumah tangga begitu? anggap saja ini sebagai pembayaran atas segala hutangnya meski baru sebagian kecil," ucap Alex.
"Haisshh kau ini, perhitungan sekali. Lalu bagaimana dengan ayahku?" tanya Aliya.
"Aku bertemu salah satu suster rumah sakit yang bernama Liana, dia akan menjaga Ayahmu selama belum sadarkan diri di rumah sakit itu. Nah, berhubung aku membayarnya, jadi kumasukkan pengeluaran Liana pada daftar hutangmu," ketus Alex.
"Hissshhh kau memang... cih menyebalkan."
"Kenapa harus menyewa suster kalau aku saja bisa menjaga Ayahku?" tanya Aliya.
"Kau tak bisa menjaga Ayahmu, karena kau harus ikut denganku untuk menyembunyikan anak ini," ucap Alex.
__ADS_1
"Memangnya mau disembunyikan di mana?"
"Pulau Ceria."
"Hah, Pulau Ceria?" Aliya yang terkejut tanpa sadar membuka mulutnya dengan lebar.
Dengan gemas, Alex mengusap wajah Aliya seraya menutup bibir itu dengan tangan kirinya.
"Ish... asin tau!"
Aliya tak sengaja merasakan telapak tangan Alex.
Pria itu hanya tertawa kecil lalu masuk ke dalam mobil dan melajukannya.
Aku ke Pulau Ceria, pulau yang punya pantai indah, banyak wahana air, wah senangnya.
Gadis itu tersenyum-senyum sendiri membayangkan sudah berada di Pulau Ceria. Alex melirik ke arahnya sekilas.
"Kau gila, ya?"
Tangan Alex sudah menoyor kepala Aliya begitu saja.
"Ih, kau ini menyebalkan... eh nanti kalau dia sadar bagaimana dia pasti akan berteriak nantinya, lalu kita tertangkap," ucap Aliya.
"Ku beri dia obat bius lagi," sahut Alex dengan entengnya.
"Hisshhh kau ini, kasian tau, nanti kalau dia lapar bagaimana?" Aliya melirik sinis ke arah Alex yang mengangkat bahunya tanda tak perduli.
"Oke aku tau caranya saat dia sadar nanti," ucap Aliya.
"Otak dangkal punyamu itu mana bisa berpikir jernih hahaha..." Alex mengejek Aliya dan lagi-lagi menoyor kepala gadis itu.
***
Mobil yang dikendarai Alex sampai di Pulau Ceria. Ia memarkir mobil tersebut di area penginapan bernama Hotel Kecil. Pria itu langsung menghubungi seseorang dari ponselnya. Sementara Aliya harus segera menuju toilet terdekat untuk buang air kecil.
"Aku sudah sampai di persembunyian, segera laksanakan tugasmu, aku tak mau terlalu lama membawa anak ini," ucap Alex.
Anak kecil itu tiba-tiba terbangun dan menangis, ia terlihat ketakutan karena tak tau sedang bersama siapa dan berada di mana.
"Cup, cup, cup, kau mau es krim?" tanya Alex
Anak itu menggeleng, ia ingin ibunya atau siapapun orang yang dia kenal bukan Alex. Wajah anak kecil itu terlihat ketakutan. Ia kembali menangis dengan kencang sampai Alex membekap mulutnya.
Plak!
"Apa-apaan itu, kenapa kau perlakukan dia seperti itu?" pekik Aliya yang memukul kepala Alex dengan gulungan koran yang baru ia temukan dekat toilet tadi.
"Aww sakit, gadis idiot!" umpat Alex.
"Minggir, begini caranya menghadapi anak kecil," ucap Aliya.
Gadis itu langsung menggendong si anak seraya menunjukkan pemandangan alam sekitarnya, sesekali Aliya mengatakan sebuah lelucon yang membuat anak itu tertawa. Aliya juga menggelitik perut buncit si anak yang terlihat menggemaskan.
Alex memandangi Aliya dengan penuh pesona. Aura keibuan yang ia lihat tidak seperti aura keibuan milik Nanny.
__ADS_1
"Ayah..."
Alex tertegun saat melihat anak yang digendong Aliya memanggilnya "Ayah". Kemudian, pria itu tersenyum.
"Hai, Ayah... sini main!" ucap Aliya mengibaskan tangannya pada Alex agar menghampiri gadis itu.
"Aku, Ayah?" gumam Alex lalu ia kembali tersenyum.
"Baiklah, ayo main dengan Ayah."
Alex menghampiri Aliya dan mencoba menggendong anak kecil itu.
"Hah? Ayah? kau mengigau, ya?" Aliya mengetuk kepala Alex dengan buku jari tangannya.
Rupanya ia barusan membayangkan berkeluarga dengan Aliya. Tubuhnya bergidik dan dia acak-acak rambutnya sendiri dengan kesal.
"Ayo, kita masuk!" ajak Alex yang telah mengembalikan raut wajahnya kembali datar.
Pria itu melangkah menuju ke dalam lobby hotel dan memesan kamar. Aliya segera menyusulnya dengan menggendong anak kecil itu.
"Siapa namamu?" tanya Aliya
"Shilo, ante tiapa?" tanyanya dengan nada cadel khas suara anak kecil pada umumnya.
"Nama Tante, Aliya. Sekarang Silo aman sama Tante," ucap Aliya.
"Namanya Shiro bukan silo," sahut Alex yang mendengar pembicaraan Aliya dan anak itu.
"Oh, nama kamu Shiro, duh gantengnya, mana tuh lesung pipi gemes banget minta di cium," ucap Aliya.
Alex tersenyum sinis melihat Aliya. Ia memesan Family room untuk mereka menginap. Mereka akan tetap di sana sampai tugas Alex menculik Shiro selesai.
"Shiro, tau alamat rumah Shiro ada di mana?" tanya Aliya.
Shiro menggeleng.
"Oh... ya udah nanti Tante anter pulang ya," ucap Aliya.
"Silo diculik, ya?"
Pertanyaan anak itu membuat Aliya dan Alex menoleh bersamaan dan saling menatap.
*******
To be continue...
Mampir juga ke Novelku lainnya.
- Pocong Tampan
- With Ghost
- 9 Lives
- Kakakku Cinta Pertamaku
__ADS_1
- Gue Bukan Player.
Vie Love You All...